Gistara Prameswari mengira bahwa mencintai pria yang belum selesai dengan masa lalunya akan semudah seperti yang ia pikirkan. Namun, nyatanya tak sesimpel itu kala bayang-bayang masa lalu selalu datang menghantui pernikahan mereka.
"Apa kamu nggak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sisa hujan kemarin masih meninggalkan jejak pada seluruh jagat raya. Pada dedaunan yang basah. Aroma tanah yang lembab, juga embun tempias yang tersisa pada pinggiran jendela kaca.
Melalui teras balkon kamar mereka, Gistara memandang semesta yang tampak luas dari atas sana. Langit subuh yang redup. Semburat oranye yang pudar. Juga alunan kidung subuh dari seluruh penjuru masjid yang mengayun merdu.
Seketika damai itu datang. Merayap tenang menuju puing-puing kalbu. Gistara memejamkan netranya sejenak, membiarkan memorinya membawa kenangan pada masa lalu.
Dahulu, ketika tabuh subuh berkumandang ia akan terbangun. Membuka jendela asrama, lalu berdiam lama di sana. Meresapi sunyi yang berisi kidung-kidung pagi. Kemudian, ketika adzan berakhir ibu panti akan memanggilnya. Meminta bantuan untuk mengasuh adik-adik panti yang berusia jauh di bawah dirinya.
Ngomong-ngomong soal panti, Gistara baru tersadar akan suatu hal.
Mengapa ia tak memiliki ingatan mengenai masa kecilnya di sana?
“Ra...”
Suara serak seseorang terdengar mengalun dari balik tubuhnya. Dengan wajah kuyu yang tampak, Kenandra berjalan pelan menghampiri sang istri. Di sana, diletakkannya kedua tangannya pada pinggang Gistara. Sedangkan dagunya bertumpu pada pundak kanan perempuan itu. “Sedang apa Ra?” tanyanya.
Dengan jarak sedekat itu Gistara juga Kenandra merasakan pagi berhenti untuk beberapa saat. Semesta subuh dengan semburat oranye yang perlahan muncul mendadak samar dalam jangkauan netra mereka. Lalu, pada angin pagi yang berembus kencang mendadak senyap begitu saja. Meninggalkan detak jantung yang saling memburu dari dua insan anak manusia yang saling bertaut melalui keintiman pagi hari.
“Ra...” bisik Kenandra lagi.
“Hm...”
“Kamu dengar nggak?”
“Apa?”
“Suara jantungku keras banget, Ra. Kenapa ya Ra?”
“Tapi kamu juga sama. Kita kenapa, Ra?” Sembari bertanya, jemari Kenandra berlari pada dada milik Gistara. Menyentuhnya lembut sembari merasakan detak acak yang sama menggebunya seperti dirinya.
Sedangkan Gistara hanya terdiam. Merasakan hembus napas hangat yang sedari tadi hadir menyentuh kulit-kulit dingin pada sisi kanan wajahnya. Sementara itu, diam-diam ia menjawab atas tanya yang beberapa saat diudarakan oleh Kenandra. Tentang mengapa jantung mereka menggebu-gebu dengan detak yang dimilikinya. Dan jawaban itu adalah karena ia mencintainya. Gistara mencintai Kenandra dengan segenap rasa yang telah lama ada. Yang berdiam indah di antara relung-relung paling dalam. Dalam waktu yang lama tanpa ada seorang pun yang tahu termasuk lelaki itu sendiri.
Sedangkan jawaban untuk Kenandra ia tak tahu. Benar-benar tidak tahu hingga untuk sekedar meraba pun Gistara merasa takut dan juga ragu. Entah kenapa dan untuk apa jantung Kenandra berdetak kencang seperti miliknya? Karena nyatanya ia bukanlah Aruna— seorang gadis sang pemilik detak indah itu sedari dulu mungkin juga hingga detik ini.