CHAPTER 13 : Merasa Bersalah

150K 7.2K 364
                                        

Kenandra kembali tepat ketika hujan telah jatuh setengah jam yang lalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kenandra kembali tepat ketika hujan telah jatuh setengah jam yang lalu. Hujan kali ini berkali-kali lebih deras daripada biasanya. Angin yang berembus juga lebih kencang disertai petir yang datang menyambar-nyambar pada bumantara atas. Dari lubuk hatinya, Kenandra meminta. Semoga Gistara berteduh kala hujan lagi deras-derasnya.

Namun harapan itu nyatanya tinggal harapan. Jantungnya melemas juga sesak itu datang ketika netranya masih menangkap perempuan itu di sana. Di bawah guyuran hujan ia masih berusaha menggali tanah basah dengan susah payah. Lalu, rasa bersalah itu datang. Menghantamnya keras hingga menabrak dinding-dinding hatinya yang juga terluka.

Memilih menyusul, Kenandra mengabaikan basah yang memerangkap bumi. Langkahnya yang lebar berlari kecil menuju istrinya yang basah kuyup di sana. “Kamu ngapain masih di sini? Apa kamu nggak lihat hujannya deras banget?” teriaknya sedikit marah. Gistara... apa perempuan itu sebegitu merasa bersalahnya hingga ia mengabaikan tubuhnya yang basah kuyup juga kedinginan. Bahkan bibirnya sudah pucat kala ia membalas tatap kepada dirinya.

“Sebentar lagi selesai, Mas. Nanggung ini!” balasnya.

“Masuk, Ra! Lanjutin besok aja!”

Gistara tampak menggeleng. “Tinggal beberapa tempat lagi, Mas Kenandra. Kalau ditinggal tanahnya bisa hancur kena hujan. Tanganku udah kebas kalau harus gali lagi!”

“Besok biar aku aja yang lanjutin!” putusnya. Lalu, tangannya meraih jemari istrinya begitu saja. Tentu saja Gistara menolak. Ia tak mau menyusahkan Kenandra lagi. Namun, tenaganya yang sudah melemah kalah dengan tarikan lelaki itu.

“Apa sih yang kamu pikirin, Ra? Kenapa kamu nggak meneduh dulu?” marahnya kala mereka telah berada di emperan rumah. Lelaki pemilik mata gelap itu menatap istrinya lekat.

Sedang Gistara, perempuan itu menunduk. “Aku cuma mau cepat selesai, Mas. Dan bunga-bunga seruni Mbak Aruna bisa segera tumbuh lagi. Biar Mas Kenandra nggak bersedih dan kecewa lagi sama aku.”

Tepat...tepat sekali. Kalimat terakhir yang baru saja mengudara itu seketika mengenai ulu hatinya. Mencipta lara yang tiba-tiba saja ada.

Mengapa? Baru sadar bahwa kamu salah 'kan, Kenandra Mahesa?

“Oke...kalau gitu kamu mandi sekarang. Ya? Tadi aku udah minta Bi Iroh bikin minuman hangat buat kamu.”

Detik selanjutnya perempuan itu menurut. Mengikuti permintaan Kenandra untuk segera membersihkan dirinya sekarang. Dalam jeda waktu yang tersisa, Kenandra gunakan untuk menatap kepergian istrinya dari balik tubuhnya. Langkah demi langkah yang terhitung menaiki anak tangga. Memandanginya lama tanpa tahu ada rasa bersalah yang tiba-tiba saja menyeruak naik. Melingkupi ruang dadanya, menembus ruas tulang yang ada lalu menetap di sana.

Di bawah guyuran hujan yang masih deras, Kenandra tampak melanjutkan pekerjaan Gistara yang belum selesai. Menanamkan kembali seruni yang masih tersisa, lalu menatanya seperti sedia kala. Kenandra benar-benar mengembalikan taman itu seperti yang seharusnya, seolah ia tak ingin mencederai kesempurnaan satu-satunya yang ditinggalkan oleh mendiang Aruna di rumah ini.

DESIDERIUM (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang