CHAPTER 17 : Penolakan Yang Menyakitkan.

170K 7.6K 438
                                        

Pagi tadi, semuanya seolah berjalan seperti biasanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi tadi, semuanya seolah berjalan seperti biasanya. Mereka duduk saling berhadapan. Saling melayani sembari menikmati sajian sarapan yang dibuat oleh Gistara beberapa saat yang lalu. Lalu, sesekali Kenandra melirik secara diam-diam lantas ia berterima kasih kala Gistara mengangsurkan secangkir teh jahe hangat kepada dirinya. Orang-orang pasti tak akan pernah mengira bila mereka baru saja berdebat dua hari yang lalu. Saling meluapkan amarah juga berteriak satu sama lain.

"Ra..."

Gerakan tangan Gistara lantas terjeda. Panggilan dari Kenandra menarik dirinya untuk sejenak. "Hm?" jawabnya.

"Maaf..."

"Untuk?"

"Dua hari yang lalu. Emosiku benar-benar enggak terkontrol malam itu."

Lagi-lagi Gistara tersenyum. "Oh itu...aku juga sebenarnya mau minta maaf. Enggak seharusnya aku membawa-bawa Mbak Aruna dalam emosiku. Maaf ya, Mas. Karena rasa cemburuku aku jadi menyakiti mendiang Mbak Aruna."

Mengapa hatinya mendadak perih? Mengapa senyuman Gistara dan rasa bersalah dari istrinya mencipta hujaman tak kasat mata yang sayangnya terasa begitu sesak.

Gistara tidak salah sama sekali. Ia mengerti. Karena sebenarnya dia lah yang bersalah, karena ia masih belum memiliki keberanian untuk beranjak dari masa lalunya bersama Aruna.

"Ra... alasan sebenarnya aku enggak ngajak kamu itu bukan karena aku enggak nganggap kamu."

Pelan-pelan Kenandra menjelaskan. Ditatapnya wajah teduh milik istrinya itu seolah menunggu reaksi apa yang akan diberikan oleh Gistara.

"Tapi karena di sana ada keluarga mendiang Aruna. Aku takut kalau kamu akan disakiti oleh mereka tapi ternyata malah ketakutanku sendiri yang menyakiti hati kamu."

Benar... Kenandra tidak berbohong. Setelah kejadian ia menolak menikah dengan Anara, keluarga Derawan Antasena itu benar-benar mengibarkan bendera perang kepada dirinya juga keluarganya. Maka dari itu, sebagian keluarga besarnya membenci Gistara karena menganggap bahwa gara-gara Gistara keluarga Antasena memutuskan kerja sama sepihak yang mana sangat amat merugikan perusahaan keluarga milik Tanuwijaya.

"Iya...aku udah denger dari Mama. Mama kemarin ke sini."

"Mama ke sini?"

"Iya."

"Sama Papi?"

Gistara menggeleng. "Sendirian. Papi katanya lagi ngelabrak kamu di kantor."

Lantas tawa Kenandra menguat. "Oh jadi pas waktu itu. Eh tapi mereka tahu dari mana kalau kita bertengkar ya, Ra?"

"Ya menurut kau? Pikir aja sendiri. Orang kamu ngebentak aku keras banget," ujarnya sembari memutar malas kelopak matanya.

"Gistara... tentang ucapanku waktu itu-" Kenandra menggantung kalimat sejenak, "Aku serius," lanjutnya.

DESIDERIUM (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang