Gistara Prameswari mengira bahwa mencintai pria yang belum selesai dengan masa lalunya akan semudah seperti yang ia pikirkan. Namun, nyatanya tak sesimpel itu kala bayang-bayang masa lalu selalu datang menghantui pernikahan mereka.
"Apa kamu nggak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tiga Bulan yang lalu...
Satu minggu sebelum Gistara menemukan rekaman suara Kenandra...
Hari ini udara berdesir lebih cepat daripada hari-hari lalu. Cahaya matahari yang tampak juga sedikit pudar dengan sinarnya yang semakin lama semakin meredup. Berganti dengan awan gelap yang perlahan-lahan datang menggulung-gulung dari arah barat.
Ditatapnya sekali lagi sebuah makam yang akhir-akhir ini menjadi familier dalam ingatannya, Gistara mengembuskan napasnya dengan irama lambat sebab jantungnya berdebar lebih kencang daripada tadi.
Heaven Memorial Garden... Adalah rangkaian nama dari sebuah pemakaman elite yang berada di Kabupaten Tangerang. Tempat di mana raga Aruna disemayamkan dalam peristirahatan paling panjang dari rangkaian hidup seluruh umat manusia selepas hari kematian tiba.
"Mbak, saya temani ya?" Tadi diam-diam ia meminta Pak Sahlan -sopir pribadi titipan Mami untuk menemaninya mengunjungi makam Aruna tanpa pengetahuan dari Kenandra.
"Pak Sahlan tunggu di sini aja. Saya cuma sebentar kok," ujarnya sembari memberikan seutas senyum kepada pria paruh baya itu.
"Tapi mendung loh, Mbak. Paling tidak saya temani kalau-kalau hujan saya bisa memayungi Mbak Gistara," keukeuhnya.
"Saya tidak lama kok, Pak. Saya janji bakalan balik sebelum hujan tiba." Begitulah ia mengakhiri perdebatan singkat itu di depan pintu gerbang. Lantas sopir pribadi mertuanya itu segera mencari tempat parkir yang sekiranya tak mengganggu para pelayat yang hendak datang.
Jalan setapak yang berliku, gundukan tanah merah yang ditumbuhi rerumputan jepang, juga harum semerbak dari bunga kenanga dan kamboja yang tertiup angin sore adalah suasana yang kemudian Gistara temukan di sini. Netranya lantas mengedar, mencari satu nama yang tertulis pada nisan putih yang beberapa waktu sempat ia datangi.
Aruna Padma Shanara binti Derawan Antasena.
Makamnya terlihat berbeda daripada yang lain...
Sebab ada bunga-bunga serunai yang menghias di atas pusaranya. Tiada rumput-rumput hijau yang memenuhi pusara seperti makam yang sempat ditemuinya. Juga beberapa waktu lalu Kenandra pernah mengatakan bahwa ia telah berpesan kepada penjaga makam di sini untuk meletakkan bunga-bunga serunai itu setiap hari. Menggantinya ketika kering, kemudian menyiraminya dengan air yang cukup. Dan terus berulang hingga tahun ke tiga kepergiannya.
Satu hal yang selalu Gistara tanyakan dalam benaknya...
Adalah sebesar apa cinta yang pernah Aruna berikan kepada Kenandra? Hingga lelaki itu begitu menyayanginya ketika rumah mereka tak lagi sama dan dunia mereka telah tersekat oleh jarak yang begitu jauh.