CHAPTER 5 : Kenangan yang Hadir

151K 7.9K 188
                                        

Kenandra Mahesa masih tampak seperti kemarin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kenandra Mahesa masih tampak seperti kemarin. Sepasang netra gelapnya masih padam. Semangatnya meredup. Hatinya...kosong. Ia merasa hampa di tempat yang dulunya menyimpan ribuan rasa hangat.

Apalagi setelah ingatan itu kembali, datang berkunjung ke dalam mimpi-mimpinya semalam. Seolah mengingatkan kepadanya tentang setiap detik kenangan yang tercipta selama dua belas tahun mereka bersama.

Kala itu, adalah senja hari. Seragam putih biru melekat indah di tubuh mungilnya. Netranya bersinar lebih indah daripada sinar kemerahan yang menyelinap di penghujung langit barat. Senyumnya merekah tanpa syarat, menatap dirinya dengan binar-binar yang tak dapat ia pahami.

“Hai... Kamu Mahesa, ya?” Gadis pemilik senyum seperti bulan sabit itu mengajaknya berbicara untuk pertama kalinya. Suaranya itu terdengar begitu lembut...menguar indah dalam gelombang suara yang diterima oleh gendang telinga miliknya.

“Kenandra,” jawabnya singkat, padat, dan jelas.

“Siswa baru ya?” tanyanya lagi tanpa melunturkan senyum bulan sabit itu. Seperti malam yang gelap, senyum gadis itu seperti memberi cahaya pada lorong yang gulita.

Kenandra mengangguk. Tak ada jawaban lain yang ia berikan. Kenandra terkesan begitu dingin dan datar.

“Aku Aruna. Aruna Padma Shanara.” Untuk pertama kalinya seorang gadis mengulurkan tangan kepadanya. Menjabat tanpa beban, hingga ketulusan itu tercipta pada sepasang binar di matanya.

“Aku tahu...kamu yang paling berisik di kelas.”

Aruna kala itu tertawa. Tawa yang terdengar begitu renyah dan riang.

Kemudian dalam detik-detik yang tertinggal di antara senja itu, Kenandra menatapnya dengan tatap dalam yang ia punya. Hatinya terhenyak, jiwanya menghangat. Setelah hari-hari yang dilewati terasa gelap dan padam...kini dirinya seperti menemukan kembali cahaya yang hilang itu dalam lorong-lorong sepi yang dilaluinya.

Aruna adalah sang pembawa cahaya dalam kegelapan yang membelenggu hari-hari miliknya. Menorehkan setitik tinta hangat dalam kebekuan hati yang bersemayam dibalik dada.

Hingga tanpa sadar, perkenalan pada senja sore itu membawanya pada sebuah hidup yang begitu benderang. Kepada bahagia yang tak pernah ia bayangkan. 

Aruna ada di sana, merengkuhnya dalam genggaman tangan yang terasa lebih aman.

Tok...tok...tok

“Kak?”

“Sudah bangun belum? Kalau sudah langsung ke dapur, ya. Aku buatin sesuatu untuk kamu.”

Suara-suara itu menarik dirinya dari kubangan masa lalu. Kenandra mengembuskan napas untuk sejenak sembari menenangkan dirinya yang mulai tak terkendali. Ia memundurkan kepalanya kemudian, lalu tubuhnya bersandar sempurna pada kepala ranjang.

Netranya mengedar, menatap jendela kamar yang tak sebening biasanya. Ada genangan serta embun tempias hujan yang meninggalkan jejak-jejak basah. Mungkin semalam hujan tiba kala lelap datang merengkuhnya. Atau mungkin ketika fajar pada pagi tadi, mengingat bekas itu seperti belum lama tercipta.

DESIDERIUM (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang