Gistara Prameswari mengira bahwa mencintai pria yang belum selesai dengan masa lalunya akan semudah seperti yang ia pikirkan. Namun, nyatanya tak sesimpel itu kala bayang-bayang masa lalu selalu datang menghantui pernikahan mereka.
"Apa kamu nggak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sidang kasus kejahatan yang dilakukan oleh Daniela Kuntoaji bersama putra kandungnya akan dijadwalkan pada minggu ini. Beberapa nama yang terseret secara langsung maupun tidak langsung telah dikantongi oleh pihak penyidik untuk dilakukan penyelidikan lanjutan. Netizen beramai-ramai mengawal kasus sampai persidangan terakhir. Sebab bila lengah sedikit saja, maka semuanya akan mudah untuk dimanipulasi seperti kasus terakhir yang viral tentang penembakan anggota polisi.
Sedangkan Dinantra, pria itu sudah pulih. Minggu depan kasusnya akan segera dibawa keluarga Antasena untuk dilanjutkan ke meja hijau. Ada banyak hal telah dilalui untuk sampai pada tahap ini. Ada banyak hal yang dikorbankan. Cinta, air mata, dan nyawa manusia-manusia tak bersalah. Hanya karena rasa ketidakpuasan dengan apa yang dimiliki, orang-orang memilih jalan pintas yang sayangnya merugikan banyak orang.
“Kak Dinan gimana keadaannya?” tanya Hanina sembari memainkan ayunan kayu yang ada di dekat gazebo.
“Udah membaik sih kemarin, Nin. Minggu depan akan di sidang untuk kasus tabrak lari Mbak Aruna.”
Hanina membuang napas. “Duh, gue enggak nyangka semuanya bakal rumit kayak gini. Terus lo ada rencana buat nemuin bokap lo enggak?”
Ayunan mengayun lambat, seirama angin sore yang menerbangkan daun-daun flamboyan di halaman samping. Udara senja terasa menghangat dengan sinar oranye yang terlukis pada lautan putih di penghujung barat. Lalu, netranya memandang jauh melintasi atmosfer. Ada banyak hal yang ia pikirkan semalaman ini.
“Jujur gue enggak tahu, Nin. Toh setelah kasus ini terungkap beliau enggak ada niatan untuk mencari gue dan Kak Dinan. Lagian, gue juga enggak tahu beliau orang yang seperti apa. Apakah dia sosok ayah yang baik untuk kami di masa lalu atau malah sebaliknya.”
“Kak Dinan enggak cerita?”
“Dia selalu menghindar setiap kali kami membahas tentang hal ini.”
“Nin, lo ingat enggak sih kalau dulu gue suka halu kalau gue anak orang kaya yang terbuang?” tanyanya. Kini menghadap sepenuhnya ke arah Hanina.
“Ingat lah, lo ngomong gitu sehari dua kali. Sampai gumoh gue,” jawabnya seperti ada kekesalan yang tersimpan dalam suara itu.
Gistara tertawa. “Tapi setelah Tuhan ngabulin kehaluan gue, gue mendadak menyesal pernah mikir kayak gitu,” katanya lagi.
“Kenapa emangnya?”
“Soalnya orang-orang kaya terlalu mengerikan.”
Lalu tawa mereka menguar bersama-sama. Melebur bersama hembusan angin sore lalu menerbangkannya kepada langit di atas.
“Habis lahiran rencana kalian gimana, Ra? Lo bakalan kerja kayak dulu lagi? Anak lo gimana?”
“Kayak sebelumnya lah, Nin. Meskipun kami berpisah, kelak anak gue enggak akan kekurangan kasih sayang dari kami. Untuk kebutuhan anak gue, semuanya bakal ditanggung papanya dan gue rasa dia bakal setuju. Untuk kebutuhan pribadi, gue bakalan kerja dari rumah. Bakat gue enggak akan sia-sia dan gue tetap bisa produktif sambil ngurusin anak. Mamanya Kenandra juga janji bakal bantuin kalau gue butuh bantuan,” jawabnya mantap. Iya, dia sudah merencanakannya matang-matang. Toh statusnya yang katanya sebagai anak orang kaya tak akan mengubahnya menjadi apa-apa. Ia tetap menjadi Gistara. Gistara yang seperti dulu.