CHAPTER 32 : 30 Hari

168K 7.3K 512
                                        

“Boleh aku meminta satu permintaan terakhir dari kamu?”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Boleh aku meminta satu permintaan terakhir dari kamu?”

“Apa?”

“Tiga puluh hari... Hanya tiga puluh hari saja aku meminta waktu dari kamu. Boleh?”

“Setelah tiga puluh hari itu usai, aku akan memberikan apa yang kamu inginkan selama ini.”

“Kalau aku minta perceraian?”

"Akan aku berikan."

Berkas-berkas gugatan cerai sudah ia cabut sebab ia tahu semua akan berakhir sia-sia. Ia tak akan bisa menang bila Kenandra terus-menerus menggunakan hak-haknya untuk membela diri. Lalu, malam itu sebuah tawaran datang dari Kenandra. Meminta tiga puluh hari waktu yang tersisa atau sampai bayi mereka lahir untuk menyambut dunia.

Mereka telah kembali. Menjadi sepasang suami istri, menjalani pernikahan dengan sangat normal, juga melakukannya banyak hal berdua sebab semakin lama, waktu akan semakin menipis.

Kamar samping yang dulunya ditempati oleh barang-barang mendiang Aruna kini sudah sepenuhnya kosong. Tidak ada satu pun yang tersisa termasuk foto-foto mereka yang dulunya tergantung di setiap sudut rumah.

Kenandra juga pernah memintanya untuk memilih rumah melalui brosur perumahan yang sedang digarap oleh timnya. Namun ia segera menolak sebab waktu mereka hanya sebentar. Hanya tiga puluh hari saja.

“Ra, kamu masak apa?”

Mille crepes yang lagi viral itu.”

“Udah bisa masak selain nasi goreng, Ra?”

“Ih ngeledek ya kamu? Selama di rumah Papi aku belajar masak tahu!”

Kenandra tertawa. “Berapa lama lagi nih aku nunggunya?”

“Udah mau berangkat ya? Ya udah berangkat aja, nanti aku antar ke kantor.”

“Jangan kamu lagi hamil. Nanti biar aku pulang aja pas jam istirahat.”

“Tuan putri...” Pada USG terkahir dokter memberitahukan bila jenis kelamin bayi mereka adalah perempuan. Lalu detik itu juga Kenandra memilih untuk mengganti panggilan untuk bayi mereka menjadi ‘tuan putri'. Tidak ada sweetie puppy sebab dirinya bukan seekor anjing. Lagian ada-ada saja Gistara itu.

“Papa berangkat, ya,” pamitnya. Badannya membungkuk sejajar dengan perut besar istrinya. Lalu sebuah kecupan panjang ia berikan di sana. Diam-diam Kenandra membisik semoga waktu berjalan lebih lambat. Semoga tiga puluh hari berputar lebih lama daripada biasanya. Sebab nyatanya sampai kapan pun kata kehilangan adalah hal yang paling menyakitkan bagi setiap insan.

“Berangkat dulu ya, Ra,” ujarnya. Kali ini ia mengusap lembut rambut Gistara. Tak ada ciuman atau pelukan selamat pagi sebab Gistara enggan melakukannya. Satu-satunya skinship yang Gistara izinkan hanya lah mengusap rambut dan mengusap perut kala dirinya sedang berinteraksi dengan bayi mereka.

DESIDERIUM (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang