Gistara Prameswari mengira bahwa mencintai pria yang belum selesai dengan masa lalunya akan semudah seperti yang ia pikirkan. Namun, nyatanya tak sesimpel itu kala bayang-bayang masa lalu selalu datang menghantui pernikahan mereka.
"Apa kamu nggak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Praha. Langit senja memerah ruah membentang. Menumpahkan warna-warnanya di atas bukit Mala Strana. Pendar melintas di atas kastil-kastil tua yang berdiri kokoh di antaranya. Dan lebih jauh lagi hingga menara Gereja Lady Victorious, yang di sekitarnya menampilkan atap-atap yang membentuk lautan merah di atas.
Kemudian di bawah, mengalir tenang dari sebuah sungai yang memanjang hingga Hutan Bohemia. Sungai Vltava yang tampak jernih. Yang mampu memantulkan pendar senja itu pada tepian, berjejer bersama lampu-lampu yang menyala dari bangunan tua di sekitarnya hingga mencipta satu refleksi pada Vltava yang indah itu.
Gistara tersenyum menatap pemandangan indah yang membentang di hadapannya. Dari atas sebuah Jembatan Charles Bridge, ia memotret menggunakan sebuah kamera digital yang berada di antara jemari-jemarinya. Jembatan Charles Bridge ini membelah Sungai Vltava menjadi dua bagian, dengan patung- patung plakat bertema Nasrani yang indah berdiri kokoh pada sisi kanan dan kirinya.
Bulan madu yang dijalaninya ini tak lebih hanya seperti formalitas belaka kala sesosok suami yang baru saja mengucapkan kalimat sakral satu minggu yang lalu memilih untuk menjaga jarak seolah mengingatkan apa tujuan sebenarnya pernikahan mereka terjadi.
Lelaki yang telah menjadi suaminya itu sedari tadi hanya memilih melamun sembari menumpukan diri pada pinggiran pagar pembatas Jembatan Charles Bridge. Netranya tampak kosong. Tidak ada gairah yang hidup di sana, selain tatap penuh luka yang mengarah pada Sungai Vltava yang luas.
Kenandra Mahesa seolah-olah telah melupakan kehadiran Gistara di sisinya, ia membiarkan perempuan itu dengan tenggelam dalam kenangan yang mungkin tak akan pernah padam dalam ingatannya. Tentang Praha dan juga kisah indahnya bersama Aruna.
Aruna, nama itu sekali lagi mencipta luka yang tak kasat mata kala mengingatnya. Di setiap sudut-sudut dari Kota Praha, kenangan mereka seolah tertinggal dan lekat dalam memori. Meninggalkan kerinduan yang telah menjelma menjadi segenggam luka pada salah satu ruang hampa yang ada di sudut hatinya.
Dan selalu seperti ini. Ia akan merasa begitu sesak ketika rasa rindu itu datang membelenggu jiwa sepinya. Menyiksa dalam kesendirian tanpa bisa bertemu meskipun hanya sebentar.
"Aruna...apa kamu sudah berbahagia di sana?" bisik Kenandra dengan getar suara yang begitu kentara. Sepasang embun kini tampak nyata pada dua bola segelap obsidian itu.
"Aku...masih belum bahagia. Setiap hari rasanya semakin tersiksa karena merindukan kamu, sayang."
Kini bahu yang biasanya kokoh tampak begitu rapuh. Pandangannya menunduk. Menyembunyikan isak yang mungkin akan terdengar oleh para pengunjung. Namun, getar bahu yang terlihat sangat patah itu pada akhirnya mampu mencuri pandangan Gistara dari kejauhan.
Perempuan berusia dua puluh dua tahun itu mengurungkan niatnya untuk memotret senja yang terhampar di langit Praha. Dengan langkah yang ragu-ragu ia meneguhkan hatinya kala menatap tubuh yang biasa angkuh itu tampak sangat rapuh kali ini.