CHAPTER 25 : Surat Gugatan

241K 9.2K 716
                                        

Jika biasanya Kenandra Mahesa dikenal sebagai pria yang memiliki sorot tajam dan menakutkan oleh para karyawan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jika biasanya Kenandra Mahesa dikenal sebagai pria yang memiliki sorot tajam dan menakutkan oleh para karyawan. Kini seolah berubah seratus delapan puluh derajat sebab semuanya seperti layu. Seperti sayu, kosong, dan juga hampa.

Orang-orang berlalu lalang. Melewati dirinya dengan senyum yang mengembang. Lalu, menyapa basa-basi sebagai seorang karyawan. Kemudian dunia juga berjalan seperti biasa. Jam berputar seperti yang seharusnya. Pagi dan malam berganti begitu saja. Seperti tak ada apa-apa. Seperti tak ada yang hilang.

Sebab nyatanya hanya dia yang baru saja kehilangan. Atas rasa yang baru saja tersadar. Cinta itu datang terlambat sebab ia selalu menyangkal.

Kesempatan itu sudah tiada. Ia telah menghilang sejak luka yang tertoreh begitu dalam.

Ada sakit yang terus merayap. Menggerogoti hati yang kian mati. Seolah ia enggan pergi sebab ia tengah menghukum. Menghukum pada diri yang berselimut sesal.

Sebuah amplop cokelat yang dikirimkan dari seseorang kembali mencipta lara. Menyayat nyeri pada luka hati yang kian menganga. Mengapa mereka harus berakhir tanpa bahagia?

“Pak mau dibuka atau saya simpan dulu?” Suara Hanina terdengar. Perempuan itu tahu dari mana surat itu berasal. Dari siapa surat itu dikirimkan.

“Biar saja. Nanti saya buka.”

Hanina mengangguk penuh hormat. Lalu, beralih pada seorang pria yang hanya menatap lurus sedari tadi.

Ia memberikan senyum...senyum yang menyesakkan.

“Saya permisi dulu,” pamitnya kemudian.

Sabian memejamkan matanya erat. Ada banyak hal yang harus ia selesaikan. Permasalahan Kenandra juga masalahnya dengan Hanina yang tak kunjung menemukan jalan keluar.

“Jadi gimana? Lo setuju sama gugatan perceraian itu?”

Kenandra yang sedari tadi hanya diam dan tenggelam dalam lamunan. Kini menatap lurus pada Sabian. Tatapan penuh sesal yang sayangnya sudah terlalu terlambat sebab semua akan segera usai.

“Memangnya gue masih diberi sebuah pilihan?”

Sudah tiga bulan Gistara pergi. Dan tiga bulan adalah waktu yang digunakan Kenandra untuk menghukum diri. Menyesali atas semua luka juga derita yang pernah ia cipta.

Penyesalan itu benar-benar datang, membelenggu di setiap detik yang terputar. Hingga untuk sekedar bernapas saja rasanya begitu pedih. Begitu perih. Sebab ingatan itu terus saja mendatanginya. Mengingatkan kepada dirinya tentang seberapa kejinya ia dahulu.

“Foto USG bayi kalian?”

Pertanyaan itu membuat Kenandra mengalihkan mata. Menatap pada seorang pria yang entah sejak kapan telah duduk di samping tubuhnya.

Kenandra mengangguk. “Iya.” Suaranya serak dan siapa pun tahu sebab apa yang mengiringinya.

Meski Kenandra telah memberikan lara yang teramat menyiksa. Namun nyatanya kebaikan itu masih dapat ia terima.

DESIDERIUM (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang