Gistara Prameswari mengira bahwa mencintai pria yang belum selesai dengan masa lalunya akan semudah seperti yang ia pikirkan. Namun, nyatanya tak sesimpel itu kala bayang-bayang masa lalu selalu datang menghantui pernikahan mereka.
"Apa kamu nggak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kenandra menikmati secangkir teh jahe hangat yang disajikan oleh Gistara beberapa saat yang lalu. Aromanya terhambur wangi. Lalu, indera pendengarannya menangkap sebuah pergerakan yang terdengar bising dari samping tubuhnya. Perempuan yang menyandang status sebagai istrinya itu rupanya tengah berkutat dengan alat-alat dapur dengan gaduh. Suara tutorial dari aplikasi YouTube menyusup di antara kebisingan itu, mencipta kerutan samar pada dahi miliknya kala mendengarnya.
“Kamu mau masak apa sih sampai lihat tutorial segala?”
Pertanyaan itu mengalihkan atensi Gistara untuk sejenak. “Nasi goreng, Kak,” balasnya lalu kembali melanjutkan aktivitas memasaknya.
“Masak nasi goreng sampai lihat tutorial?” Dengan heran Kenandra bertanya.
Kini tubuh Gistara telah berputar menatap Kenandra. Sebuah anggukan serta senyum tak berdosa lolos menjawab tanya yang mengudara.
“Maaf, Kak. Aku emang nggak jago seperti Mbak Aruna tapi aku bakal terus belajar kok.”
“Aruna juga dulu sama seperti kamu kok. Semua itu butuh proses.”
“Oh ya?”
“Ra... kamu tidak perlu menyamakan diri untuk bisa seperti Aruna. Aku akan berusaha untuk mencintai kamu sebagai kamu sendiri.”
“Memasak 'kan semua orang harus bisa, Kak. Bukan karena mau kelihatan sama,” sanggahnya.
“Bukan itu. Maksudku, kalau nanti ada yang membandingkan kamu dengan Aruna, tolong jangan masukin ke hati. Jangan merasa rendah dan merasa tak pantas hanya karena kamu dan Aruna berbeda.”
“Entah itu karena pendidikan, latar belakang keluarga, atau apa pun itu yang berpotensi membuat kamu merasa rendah diri. Cukup menjadi diri sendiri dan bantu aku untuk bisa mencintai kamu sedalam cinta yang aku berikan kepada Aruna.” Kalimat panjang itu terdengar begitu menenangkan. Ada haru yang tiba-tiba menyusup melalui rongga dadanya, lalu hangat itu tercipta dan menyebar ke seluruh aliran darah begitu saja.
“Kak ngomongnya udah nggak saya-saya lagi?”
“Ini juga termasuk proses, Gistara. Kalau saya-saya terus kesannya kaku banget.”
“Baru sadar?”
Sudah dua minggu sejak pembicaraan mereka pada malam itu. Kenandra yang awalnya menolak untuk kembali membuka hati pada akhirnya memilih untuk mengingkarinya karena suatu alasan. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyusup begitu saja. Menggerogoti ruang-ruang dada, lalu meninggalkan nyeri yang terasa nyata.
Sekali lagi ia telah mengingkari janjinya kepada Aruna dengan membuat janji baru kepada perempuan lain. Yang bahkan ia sendiri tak tahu apakah ia mampu menepatinya atau hanya akan menjadi sebuah janji palsu belaka. Karena nyatanya kalimat yang ia ucapkan pada minggu lalu kepada Gistara tak lebih karena permintaan sang bunda dan juga papinya.