CHAPTER 28 : Mengungkap Kebenaran

160K 7.6K 330
                                        

“File CCTV yang jadi bukti keterlibatan Daniela Kuntoaji sepuluh tahun yang lalu lagi dipulihkan,” katanya sembari menyesap puntung rokok yang mengudarakan asap-asap pekat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“File CCTV yang jadi bukti keterlibatan Daniela Kuntoaji sepuluh tahun yang lalu lagi dipulihkan,” katanya sembari menyesap puntung rokok yang mengudarakan asap-asap pekat. Suaranya terdengar santai cenderung percaya diri.

“Habis dipulihin nanti bakalan dibawa orang-orang lo untuk disiarkan secara langsung dari stasiun televisi Abimana Aryo Sariatmaja,” lanjutnya. Kali ini ia menatap Kenandra lekat, ia tahu lelaki itu gusar setengah mati sebab kabar terakhir Eduardo Angelo Sariaatmaja sudah menemukan di mana Gistara berada selama ini.

“Lo yakin orang-orang gue itu bakal sampai dengan selamat?” Tentu saja setiap pergerakan mereka sudah diawasi sejak Kenandra menebarkan bendera perang kepada Eduardo juga Angela satu bulan terakhir.

“Yakin. Kalau pun enggak kita masih ada Plan B.

Sabian ini selain profesinya sebagai fotografer, dia adalah seseorang yang pernah dan masih bergabung dengan agen mata-mata swasta yang memiliki jaringan internasional. Sedangkan pekerjaan fotografer itu hanya lah kamuflase semata sebab dengan begitu ia bisa melakukan aksi blusukan tanpa ketahuan.

“Lo kenapa enggak pilih jadi dokter aja sih, Sab? Kakek, bokap, sama adik lo 'kan dokter semua? Lagian pekerjaan yang kayak gini resikonya gede. Lo udah punya nyali buat mati sewaktu-waktu emang?”

“Anjing lo nyumpahin gue?” sentaknya menatap sengit kepada Kenandra.

Kenandra tertawa. “Bukan. Justru gue khawatir sama lo!”

Dengusan kecil lantas terdengar. “Lo khawatirin aja tuh sidang perceraian lo. Nyawa gue bakalan aman kok. Ada sembilan.”

“Kucing lo!”

“Oh iya, Sab—“ Kenandra sedikit ragu sebenarnya. Tapi ia juga penasaran. “Lo sama karyawan gue bagaimana kelanjutannya?”

Ada jeda yang kemudian tercipta. Sabian belum membalas tanya barusan, malah ia kembali menyesap puntung rokok miliknya sedikit lebih lama sebelum mengembuskan kembali pada ruangan remang-remang di sekelilingnya.

“Hanina menolak segala bentuk tanggung jawab gue.”

“Loh, Hanina hamil?”

“Bukan. Belum. Enggak.”

“Terus tanggung jawab apaan kalau enggak hamil?”

“Gue sebagai laki-laki yang baik emang sudah seharusnya bertanggungjawab kepada dia karena malam itu gue mengambil sesuatu yang seharusnya enggak gue ambil.”

“Halah, biasanya juga lo celup sana celup sini!” ejek Kenandra.

“Beda lah. Hanina bukan perempuan seperti 'mereka'.”

“Bukannya kalian mau sama mau?”

“Hanina dijebak. Dan gue juga dijebak makanya bisa berakhir dengan malam itu.”

DESIDERIUM (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang