Seperti biasa, Jeremy memberikan pengertian kepada Cleo tentang pagi dan malam. Bahwa malam adalah saat manusia untuk tidur. Tidak bosan-bosannya pria itu mengulangi penjelasannya pada anak perempuan yang bahkan belum bisa berbicara.
Karena di situ lah kuncinya; komunikasi.
Pria itu memberikan perumpamaan, memperlihatkan bahwa langit sudah gelap, hingga mematikan lampu ketika jam menunjukkan pukul 9 malam. Sedangkan Cleo, dia tentu tidak selalu bisa fokus akan penjelasan Jeremy. Terkadang terdistraksi dengan kehadiran Clara atau cicak di dinding.
Kali ini urusan Cleo sepenuhnya Jeremy yang tangani. Mulai dari mengganti baju Cleo, menyikat gigi, hingga membacakan cerita. Clara hanya boleh menyiapkan susu saja, selebihnya ia hanya boleh melihat dari ranjang.
Di kotak tidurnya, Cleo semakin sering menguap seiring dengan dongeng kelinci mencapai puncaknya. Anak gadis itu mengerjap kecil sebelum akhirnya terlelap dengan botol susu yang masih ia gigit.
Jeremy memberi kecupan singkat di kening Cleo sebelum menaruh buku tersebut di samping bantal. Ia menghampiri wanita yang menunggunya di pinggir ranjang.
"Mau didongengin juga?" godanya seraya berdiri di hadapan Clara. Suaranya begitu pelan, tidak ingin membuat Cleo di ujung ruangan terbangun.
Clara terkekeh pelan. Perlahan, ia rebahkan tubuhnya, menepuk sisi kosong di sampingnya untuk Jeremy. Seketika itu juga, ia dapatkan pelukan hangat dari sosok calon ayah dari anaknya.
"Kamu tadi bener-bener kaya bapak ke anaknya."
"Kan emang."
Clara berdecih kecil, memutuskan untuk memeluk Jeremy lebih erat. Perasaannya menghangat hanya dengan melihat interaksi antara Jeremy dan Cleo sepanjang malam. Rasanya tidak percaya jika ia bisa melihat hal-hal seperti ini. Ia lebih percaya jika ia tidak akan melihat interaksi ayah dan anak.
Well, lebih tepatnya calon ayah.
Dehaman Jeremy membuat Clara mendongak. Tatapan mereka bertemu, antara tatapan tajam dan tatapan bingung.
"Cleo dah tidur," bisik Jeremy seraya mengusap punggung Clara pelan.
"Ya trus?"
Jeremy menurunkan kepalanya, berusaha menggapai bibir Clara. Namun, gadis itu buru-buru memundurkan kepalanya. Tak menyerah, Jeremy menurunkan kepalanya lagi. Dan lagi-lagi Clara mundur. Hal itu membuat Jeremy memelas. "Kenapa?"
"Harusnya aku yang tanya gitu." Clara menyentil kepala Jeremy agar mundur dari depan wajahnya.
"Ya, why not? Kangen banget, Clar."
Jawaban tidak tahu diri itu kemudian berimbas pada pukulan telak di kepala Jeremy oleh Clara. Wanita itu mencubit keras pipi Jeremy hingga sang pria mengaduh tanpa suara. Heran sekali, apakah memang pria adalah manusia paling mudah terangsang? Atau hanya Jeremy?
Jeremy menyerah dan tak mau memaksa Clara. Ia mundur dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya lagi. Masih banyak waktu, ia pikir. Lagi pula dengan adanya Cleo di situ tidak akan membuat mereka leluasa untuk mendesah.
"Jer?"
"Hmm?"
"Besok jadi nemenin Ibu kontrol?"
"Iya, Sayang. Jam 1 siang, kan?"
"Iya. Kamu beneran ga ada kerjaan?"
"Ga ada kok."
Clara mengangguk kecil. Sampai sekarang, Jeremy hanya tahu jika pekerjaannya sudah diambil alih. Sementara itu, namanya sudah dialihkan ke cabang baru di Pekanbaru. Untuk keberangkatannya sendiri, Jeremy masih belum diberi kabar oleh pihak perusahaan. Ia bilang bisa saja detik ini ia diminta untuk berangkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
By The Irony Of Fate
FanfictionIni cerita klise yang singkat tentang Jeremy dan Clara yang bertemu karena ketidaksengajaan. Kalau ditanya bisakah cinta pandangan pertama hadir di antara dua orang dewasa, coba saja jadi saksi kisah mereka; si Jeremy yang lama menyendiri dan si Cla...
