Sebelum baca chapter ini, baca dulu latar belakang terjadinya kegaduhan ini di post instagram Re yaa. Judul postnya "Selingkuh" di @firstrysm101
Selamat menikmati kegaduhan~~~
Entah berapa kali Jeremy memperkenalkan diri di kantor barunya. Entah berapa kali juga dirinya tersenyum hingga membuat tulang pipinya kebas. Tangannya pun juga terasa lembab karena terus-menerus menyalami orang-orang baru di sana.
Tidak banyak yang Jeremy ingat betul, yang ia benar-benar ingat adalah Safira sebagai sekretaris, Timotius atau Tim sebagai manajer personalia, Calista sebagai manajer administrasi, dan Reno sebagai manajer keuangan. Selain itu, ia hanya menghapal wajahnya saja.
Sebagai seorang direktur yang memiliki jabatan tertinggi, hari pertamanya dipenuhi dengan berbagai macam afeksi sebagai bukti 'kesetiaan' dari bawahan. Ia sebenarnya tidak mengharapkan apapun selain semuanya dapat diajak bekerja sama. Tapi, ya sudah lah, hitung-hitung hemat biaya dan tenaga.
Di hari pertamanya bekerja saja, ia sudah mendapatkan kopi, sarapan, makan siang, hingga roti gratis dari berbagai orang yang berbeda-beda. Lalu, saat dirinya hendak melakukan sesuatu, Safira sebagai sekretaris lebih dulu menawarkan jasanya untuk mengambilkannya.
Selebihnya ia hanya duduk di singgasananya, mengecek pekerjaan apa saja yang dihibahkan dari pusat.
"Pak Jeremy, ke acara makan malem nanti mau bareng sama saya?" Safira menaruh kopi ketiga Jeremy hari ini di meja kerja Jeremy. Wanita dengan senyum memikat dan aroma parfum mahal itu memberikan tatapan menggodanya.
Jeremy yang sebelumnya tengah mengirim pesan singkat pada Clara sedikit menoleh. Rupanya saat ini sudah pukul 5 sore, tidak terasa. Pukul 7 malam nanti ada makan malam, hitung-hitung dirinya mengakrabkan diri dengan karyawannya.
Pria itu mendongak, menatap Safira yang ia nilai cukup cantik itu. Ia tersenyum kecil lalu bertanya dengan ramah, "Emang kamu belum ada barengannya?"
Kepala Safira menggeleng ribut. "Belum, Pak. Nanti sekalian bareng aja dari asrama. Gimana?" tanyanya penuh harap.
"Gitu?"
Jeremy kembali membalas pesan Clara yang penasaran dengan apa yang tengah ia lakukan. Tentu saja, ia langsung menceritakan sosok Safira yang baru saja mengajaknya berangkat dinner bersama. Ia lalu mengarahkan kamera ponselnya ke Safira, memotretnya dengan terang-terangan dengan sangat tenang.
"Eh?" Safira mengerjap, sedikit kaget dengan tindakan mendadak Jeremy. "Ada apa ya Pak?"
Jeremy tersenyum kecil. "Gapapa. Ngenalin sekretaris saya ke tunangan saya." Ia mendongak lagi. "Maaf, Safira. Tapi saya ga pulang ke asrama malem ini, saya langsungan sama Pak Reno dari kantor. Kalo kamu butuh tebengan, saya udah bilang sama Pak Tim, kok."
Dua serangan beruntun langsung mengalahkan Safira dengan telak. Usahanya mendekati Jeremy pupus di hari pertamanya. Bahkan di usaha pertamanya. Pertama, ia harus mengetahui fakta bahwa Jeremy sudah bertunangan, bahkan saat ini tengah memutar-mutar cincinnya seolah sedang memberitahunya tentang hubungannya. Kedua, Jeremy menolak ajakannya dengan sangat mulus dan halus.
Wanita itu tersenyum kecut kemudian meninggalkan ruangan Jeremy. Wanita berambut pirang ikal itu menghentakkan kakinya sekali setelah menutup pintu ruangan Jeremy. Kalau sudah begini, maka ia harus melajang berapa lama lagi?
"Mbak Safira?" Timotius dari arah pantry berjalan pelan ke arah Safira yang tengah menggerutu. Di tangannya ada segelas kopi yang sudah separuh lebih diminum. "Pak Jeremy bilang-"
"Ga jadi," jawab Safira ketus seraya meninggalkan Timotius dengan wajahnya yang keheranan.
Sekali lagi, Timotius menatap layar ponselnya yang tengah membuka ruang obrolan dengan Jeremy. Jeremy tidak salah, 'kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
By The Irony Of Fate
FanfictionIni cerita klise yang singkat tentang Jeremy dan Clara yang bertemu karena ketidaksengajaan. Kalau ditanya bisakah cinta pandangan pertama hadir di antara dua orang dewasa, coba saja jadi saksi kisah mereka; si Jeremy yang lama menyendiri dan si Cla...
