Al pov
"Ini berkas yang tuan minta, semua sudah lengkap sesuai keinginan tuan.
"Oke kau bisa beristirahat sekarang.
Tirta pergi meninggalkanku diruangan tempatku sering menghabiskan kesendirianku. Ya ruangan ini khusus aku buat untuk tempatku menghabiskan waktuku. Rumah ini pun aku yang membuatnya, maksudku mendekornya sesuai kemauanku. Seperti ruangan ini, jika orang membuat ruang kerja di dalam rumahnya, aku membuatnya dengan multifungsi. Disini aku sering menghabiskan waktu, menyelesaikan pekerjaannku, mencari kenyamanan yang aku butuhkan, dan mendeskripsikan perasaanku, seperti yang aku lakukan sekarang bernyanyi sekeras yang aku mau, berkaroke ria. Ruangan ini adalah tempat pribadiku, yang hanya boleh aku, tante Rosalia dan Tirta yang memasukinya.
Aku menghentikan aktivitasku dan memandang map biru yang diberikan Tirta. Semua tentang dia, Yuki. Aku sengaja menyuruh Tirta mencari tau semua tentangnya. Aku wajib tau, karena ini memudahkanku menundukkanyaa atas semua perintahku.
"Kenapa kau belum tidur anak muda?, ku lihat tante Rosalia sudah berdiri sambil tersenyum dipintu. Dia berjalan mendekatiku. Dia duduk disebelahku dan tanpa izin mengambil map ditanganku. Dia membacanya.
"Ada apa dengan gadis ini ?," tanyanya menuntut penjelasan.
"Diaa....diaa...", aku ragu untuk mengakuinya.
"Hei ayolah, sudah 29 tahun aku mengurusmu. Aku sangat mengenalmu Son!!, aku tau kau tidak pernah dekat dengan wanita, bahkan tidak perduli, so jelaskan padaku ada apa dengan gadis ini!!!. Aku tau walaupun tante Rosalia tenang mengatakannya, tapi ada nada perintah yang aku dapatkan. Jika aku terlihat sebagai pria kuat, acuh dan arogan diluar sana, maka beda halnya jika aku berhadapan dengan tante Rosalia. Ya ikatan batin kami terlalu kuat, jadi aku tidak pernah menutupi kelemahanku dihadapannya.
"Dia anak kecil itu", aku melihat wajah tante Rosalia, dia terlihat bingung dengan jawabanku. Ku rogoh saku celana dan mengambil sebuah kertas yang kulipat rapi didalam dompetku dan menyerahkannya. Dengan cepat tante Rosalia membuka lipatan itu dan mengamati lukisan yang telah lama aku buat. Dia tersenyum dan....
"Kau masih menyimpan ini?, apa hatimu sudah kau serahkan padanya disaat pertama kali kalian bertemu ?
"Tidak, aku hanya merasa bersalah, dia hampir kehilangan nyawanya karenaku.
"Apa kau yakin?, pantas saja kau tidak pernah berniat untuk berhubungan dengan wanita manapun, bahkan tante hampir takut kalau ternyata kau menyukai sejenismu", kata tante Rosalia tersenyum, menarik kepalaku dan meletakkanya diatas pahanya. Dia mengelus kepalaku dengan sayang, aku bahagia karena saat seperti inilah yang selalu aku nantikan.
"Apa!!!, segitu parahkah aku sampai tante mengira aku ini GAY?. Aku yakin tante. Aku tidak pernah berhubungan karena memang aku belum mau terikat, aku belum mendapatkan wanita yang pas. Lagi pula belum ada wanita yang bisa membuatku jatuh cinta.
"Bagaimana bisa ada yang membuatmu jatuh cinta, jika kau sudah mengunci hatimu hanya untuk gadis ini", tante Rosalia terkekeh. Aku sudah ingin bangkit dari tidurku tetapi tante Rosalia menahan kepalaku. Tante Rosalia tau aku kesal padanya, huh.
"Dengar Al!!!, ketika kau melukis anak itu, tante berfikir itu karena kau memang benar-benar merasa bersalah dan kau memang hobby melukis, apalagi dengan melihat usia mu yang masih 15 tahun, jadi tante tidak terlalu memikirkannya. Karena tante yakin dengan berjalannya waktu kau akan melupakannya. Dan sekarang tante tau kalau pemikiran tante itu salah. Kau tidak melupakannya, tetapi kau mencarinya. Coba lihat berkas ini!, mau kau apakan ini, sejak kapan kau memikirkan seorang wanita diruangan pribadimu seperti ini. Jelas tante Rosalia panjang lebar.
"Oh c'mon tante, aku tidak mencintainya, aku hanya merasa bersalah.
"Baiklah, jadi apa yang akan kau lakukan untuk rasa bersalahmu itu?.
"Aku akan memilikinya dan bertanggung jawab atas hidupnya. Aku menunggu jawaban tante Rosalia sebelum akhirnya dia tertawa keras. Ada apa dengannya, apa ada perkataan yang salah dari ucapanku.
"Oke kau tidak mencintainya tetapi ingin memilikinya, bertanggung jawab atasnya. Semoga kau berhasil tuan keras kepala, aku harap kau cepat menyadari egomu yang tinggi itu sebelum kau menyesal nanti", tante Rosalia mengecup keningku dan pergi meninggalkanku yang masih bingung dengannya. Apa maksudnya mengatakan semoga berhasil, ego dan menyesal, huh aku benar-benar tidak mengerti.
**********
Yuki pov
Uh aku terbangun dari tidurku, kulihat jam diatas nakas. Sekarang jam 2 siang. Wow ternyata lama sekali aku tidur, ih kenapa kak Tasya tidak membangunkanku untuk sarapan. Tadi malam aku memikirkan perkataan lelaki gila itu. Aku rasa dia orang yang berbahaya. Jadi aku putuskan untuk berhenti kerja, dan aku sudah mengatakan ini kepada kak Alan dan kak Tasya dengan alasan aku tidak nyaman, hehe alasan yang konyol sih, namanya juga hari pertama kerja mana bisa sesuai keinginan kita. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, pertemuan yang tidak enak,perjanjian dan ancaman itu. Huh bisa-bisa kak Alan marah dan menghajar Al. Aku tidak perduli dia akan mencariku, apa dia pikir semudah itukah. Singapore ini kan luas, cari saja sampai rambutnya memutih. Aku ambil handuk dan masuk kekamar mandi. Kalian jangan tanya aku mau apa, pasti sudah tau dong.
Setengah jam berlalu, aku mematut didepan cermin. Celana jeans pendek yang mungkin menutupi hanya sepertiga pahaku yang mulus dan t-shirt putih dengan lengan yang pendek. Aku seksi?, mungkin iya, hehe tapi ini dirumah, hanya ada keluargaku. Secepat kilat aku menuruni tangga, aku mau kedapur dan makan, karena cacing diperutku sudah meronta-ronta kelaparan hehe. Aku menuju dapur, tapi aku melihat seseorang diruang tamu, eh siapa itu, kalau dari belakang sih sepertinya orang kantoran, jangan-jangan teman kak Alan, tapi kan kak Alan kerja, jarang tuh pulangnya siang bolong. Tapi ya sudahlah apa peduliku. Baru saja melangkahkan kaki tapi kudengar kak Tasya memanggilku.
"Yukiiiiii cepetann sinii.....
"Ya ampun kk mau makan laper nihh," teriakku malas. Biar saja temen kak Alan dengar, fakta kok.
"Salah sendiri bangun siang, itu temuin dulu temannya, kasian udah nungguin kamu yang bangkong", kata kak Tasya yang sudah melenggang melewatiku kedapur. Degg!!, aduh kok jantungku jadi deg deg gini sih. Eh temen aku, aku rasa aku belum punya temen disini, tetangga aja belom kenal semua. Uhh gak tau apa aku laperr. Dengan malas aku mendekati tamu yang aku kira temen kak Alan. Tadinya aku mau duduk tapi aku batalkan setelah melihat siapa gerangan orang yang mengaku-ngaku sebagai temanku ini. Al kohler, astaga dia dengan santainya tersenyum kepadaku. Dan senyuman itu bukan senyuman ketulusan. Tersimpan kemarahan dibaliknya. Aku membulatkan mataku selebar-lebarnya. Ingin rasanya aku berteriak dan mengusir lelaki gila ini. Baguslah akan tamat riwayatku hari ini juga...
