Yuki pov
" Al mengapa sulit untukku melupakanmu, mengapa sulit untuk mengenyahkanmu dari pikiranku...
Dengan bergetar aku buka kotak hitam yang ada ditanganku. Astaga i...ini... hp ku, hampir saja aku melupakannya sejak insiden penculikan itu. Aku mengambil dua kertas yang terletak di bawah hp ku, perlahan dan membukanya.
Aku terkesima dengan lukisan tangan itu, walaupun hanya menggunakan pensil biasa tapi itu jelas gambarku, itu adalah lukisan ku, astaga banyak sekali kejutan dihidupku, siapa yang membuat lukisan ini. Aku membaca bagian bawah ada tanda tangan Al. Mungkinkah dia yang membuat lukisan ini...
Mataku kembali menatap kaset yang masih berada dikotak itu, apalagi ini???.
"Erikaaa tolong kau hidupkan cd ini, apa kau bisa?", tanyaku pada Erika yang sedang membaca buku.
"Baiklah tuan putri...
"Sudah berapa kali aku katakan Erika, anggap aku temanmu, jangan lagi panggil aku seperti itu", kataku kesal.
"Iya iya Yuki....
Aku masih terpaku dengan lukisan ditanganku, ini begitu indah.
"Yuki pulanglah.....
Tiba tiba aku mendengar suara Al, suara itu sangat aku rindukan. Aku menatap Al di hadapanku walau pun ada dibalik kaca tv, itu sudah membuatku bahagia saat ini.
"Siapa pun yang menemukan wanita di foto ini tolong kabari aku, aku akan memberikan imbalan besar.
Yuki jika kau melihat siaran ini, tolong lihatlah bagaimana keadaanku. Akuu... aku... minta maaf atas semua kesalahanku, pulanglah sayang!, pulanglah ketempat seharusnya kau tinggal, pulanglah ke sisiku, aku mencintaimu....
Al begitu tampan disana, dengan setelan jas Armani yang ia kenakan, itu menambah kadar ketampanannya, tapi apa katanya tadi????, dia mencintaiku?, benarkah?...
"Ya ampun Yuki lelaki ini sangat mencintaimu, lihat!, kau lihatkan kesedihannya?, dia tampan sekali, sangat keren, dia tetap berusaha setegar itu, tapi aku bisa lihat kesedihannya, uh aku mau jika ada yang seperti itu lagi", komentar Erika.
"Dia akan memperlihatkan betapa bijaksananya dia, karena orang terkenal seperti dia tidak mungkin berpenampilan asal asalan di siaran tv seperti ini", celotehku saat melihat sudut layar yang memperlihatkan siaran tv itu. Sejenak aku berfikir dan menatap Erika.
"Apa?", tanyanya bingung.
"Kau lihat itu bukankah siaran tv swasta, jadi Al membeberkanku secara umun, terus kenapa bisa raja Rasyid menyimpannya di cd itu?", tanyaku.
"Hahaha Yuki kau ini bagaimana sih, apa pun bisa dilakukan orang yang memiliki kekuasaan, apalagi dizaman modern begini, semua bisa dilakukan raja Rasyid....
************
"Jane apa sudah saatnya kita mengatakan ini pada Al?
"Jelas saja sudah, dia itu sudah kepala dua sayang, bahkan seharusnya diumur 17 kita sudah mengatakannya, tapi kau tetap pada pendirianmu, tetap ingin menjamin keselamatan kami.
"Aku hanya tidak ingin kalian terancam, aku ingin kalian bebas diluar ruang lingkup kepemerintahanku, aku tidak mau kehilangan kalian seperti aku kehilangan adikku, kenapa kau tidak mengerti...
"Rasyid adikmu memang terbunuh, karena kesengajaan adik ayahmu untuk mendapatkan tahta itu, tapi kau harus tau itu sudah lama terjadi puluhan tahun lalu, ada hikmah dibalik semua itu sayang, ayahmu jadi lebih ketat menjagamu hingga kepemerintahan itu tetap berada ditangan kalian.
"Aku tidak mementingkan tahta itu Jane, aku hanya butuh kalian, kenapa kau melarangku untuk melepaskan tahta itu?
"Kau memang tidak membutuhkan tahta itu sayang tapi semua orang di Dubai membutuhkan kepemerintahanmu, raja yang arif bijaksana, tidak buta akan kekuasaan. Aku dan Al akan selalu bersamamu, jadi biarlah sekarang Al mengetahui kita.
"Tapi...tapi aku takut keselamatan kalian tidak terjamin jika orang tau kau dan Al adalah keluarga bangsawan.
"Sayang Al sudah besar dia itu sudah 29 tahun, sudah matan, bahkan kau lihat kan dia sudah menemukan tambatan hatinya, aku yakin gadis itu bisa membantu kita agar Al menerima kenyataan ini.
**************
Al pov
"Bodoh...
Karena memikirkan dia aku bisa mengabaikan perusahaan ku kenapa bisa aku kecolongan seperti ini, kegagalan proyek ini tidak boleh terulang lagi, aku bisa bangkrut kalau seperti ini.
"Bagaimana pak?, apa bapak mau bekerja sama dengan perusahaan kami, anggap saja ini bantuan kepada bapak karena mengalami kerugian besar", kata wanita dihadapanku.
Proyek ku yang gagal pasti sudah tersebar luas diberita hari ini, lihat saja sudah ada kantor yang dengan sombongnya datang menawarkan kerja sama yang sama sekali tidak menguntungkan buatku.
Aku tersenyum pada wanita ini, yang dibalas dengan antusias olehnya. Dengan percaya diri aku membungkukkan tubuhku hingga mata kami sejajar begitu dekat. Wanita ini salah tingkah, aku bisa melihatnya.
"AKU MENOLAK KERJA SAMA ANTARA PERUSAHAANKU DENGAN PERUSAHAANMU, katakan itu pada bos mu, kau mengerti?
Tidak ada jawaban darinya, matanya menatapku takjub, bahkan terpaku pada kedua mataku.
"satu lagi aku tidak perlu bantuanmu, lihat saja dalam periode dekat aku akan membeli perusahaanmu dan kau harus siap siap aku tendang dari sana", kataku mantap, ya wanita ini harus tau ia berhadapan dengan siapa, aku Al kohler tidak mungkin membiarkan perusahaan lain memegang kendali atas perusahaanku.
"Al.....
Suara ituu.... suara ituu... aku menoleh kearah suara itu berada, benar saja aku mendapati gadisku disana, benarkah itu dia?
Yuki berdiri dipintu, tanpa ada niat masuk mendekat, matanya berkaca kaca, pasti ia akan menangis. Kau kah itu sayang?, kaukah gadisku?
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, tapi itu memang dia.... gadisku....
"Apa kau akan tetap dengan posisi itu Al?", tanyanya tercekat, ia berusaha menelan ludahnya yang mungkin sudah terasa pahit saat ini. Aku baru menyadari posisiku yang begitu intim dengan wanita ini. Segera saja aku berdiri dan menatapnya tajam.
Andai dia tau ingin sekali aku memeluknya saat ini, miss you so much sweetheart.
"Untuk apa kau datang lagi setelah apa yang sudah kau lakukan?, bukankah kau bahagia jauh dariku, kau mau aku tidak mengkhatirkanmu bukan?", kataku dengan sadisnya.
Akh sial....
