20.

3.2K 181 1
                                        

(Warning! Dalam bab ini terdapat beberapa kalimat yang tidak layak untuk ditiru.) 

***

Cekrekkk

"Honey, kau sudah pulang?"

Jennie baru saja menyapa Lim yang baru saja membuka pintu kamar tidur pribadi milik mereka berdua.

Yang disapa hanya mengangguk dan tersenyum seadanya.

"Hmmm."

Bersamaan dengan itu, Jennie beranjak dari atas ranjang yang sedari tadi ia duduki, untuk menghampiri calon suaminya yang baru saja pulang dari lembur itu.

Padahal calon suaminya yang dingin itu menghabiskan waktu berdua dengan Irene hingga larut malam.

"Kau terlihat sangat lelah, honey." Jennie menyempatkan diri untuk menyentuh wajah kelelahan milik Lim sebelum ia mengambil alih tas jinjing milik suaminya itu dan menaruhnya di atas sofa.

"Pekerjaanku di kantor sangat banyak, aku bisa apa." Lim melonggarkan dasinya sambil membayangkan Irene.

"Aku sudah menyiapkan air rebusan ginseng untuk menyegarkan badanmu yang pasti lelah ini." Jennie membantu Lim melepas jas miliknya dari badan kekarnya.

"Kenapa kau belum tidur, ini sudah hampir pukul 11 malam." Lim melirik sekilas pada jam tangannya.

Jennie yang merasa diperhatikan itu, menyunggingkan senyumnya sambil melepas kancing kemeja milik kekasih kecilnya itu.

"Aku pikir kau sudah tahu bahwa aku tidak tertidur sebelum aku memastikan kau pulang dari perusahaan, honey."

"Tapi kau tidak harus menunggu aku hingga larut malam seperti ini, Jane." Lim melepas kemejanya dibantu oleh Jennie.

Jennie kembali menelan ludahnya saat melihat otot dada sexy yang terpampang di depan matanya saat ini.

Kemudian Jennie menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan kesadarannya karena ia harus bisa bersabar sampai Lim benar benar siap untuk itu.

"Ah, aku akan menyiapkan air hangat untukmu, honey." Jennie membawa kemeja, jas, dan dasi itu, untuk ia taruh pada tempatnya.

10 menit kemudian Jennie kembali dari dalam kamar mandi.

Langkahnya terhenti saat melihat Lim hanya mengenakan boxer berwarna hitam, sehingga memperlihatkan otot bokongnya yang padat dan sexy.

Bokong itu terlihat sangat menggiurkan bagi penglihatan Jennie yang tidak berkedip sama sekali.

Karena Lim tidak menyadari kehadiran Jennie di sana, ia berbalik menghadap ke arah Jennie begitu saja, sebab saat ini fokusnya hanya tertuju pada ponsel di tangannya.

Hasrat yang terpendam sejak malam itu, langsung merontah rontah lewat bibirnya yang tergigit, bertepatan saat mata kucingnya yang sayu itu tertuju pada gundukan besar di balik boxer berwarna hitam itu.

Bukankah hal itu sangat normal bagi wanita yang pernah merasakan nya?

Terlepas bagaimana cara Jennie bisa merasakan nya, pada kenyataannya pria yang sangat dia cintai itulah yang memberikannya.

Jadi wajar saja jika Jennie mendambakan sentuhan dari pria yang sangat dia cintai itu kembali. 

Tapi lagi dan lagi, Jennie harus bisa bersabar untuk mendapatkan miliknya itu kembali.

Setelah Lim berhasil menutupi tubuh sexynya menggunakan bathrobe yang telah disediakan oleh Jennie sebelumnya di sana, Jennie langsung menggelengkan kepalanya untuk mengusir hasratnya.

You're Still The One(JENLISA)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang