Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lembayung Senja
Rumah dua lantai bergaya Eropa yang sudah aku tinggali selama belasan tahun ini terasa semakin sesak, perlahan mencekik hingga rasanya susah sekali untukku bernafas. Pagi ini aku memilih blouse berwarna tosca untuk dikenakan. Setelah memasukan beberapa keperluan lainnya ke dalam tas, aku menarik nafas panjang sebelum memutar kenop pintu lalu keluar dari kamar. Kamar yang termasuk menjadi satu-satunya zona teraman dari seluruh ruangan di dalam rumah ini.
Aku menuruni tangga dengan tas tangan yang kugenggam erat. Seolah hanya benda itulah yang dapat menyelamatkanku dari kesialan yang akan menimpa hari ini. Aku berjalan ke ruang makan yang berada di lantai satu. Ketika derap langkahku terdengar, semua orang menoleh. Saat aku berhasil mendudukan diri dengan mulus di atas kursi, Rengga Adi Tama yang merupakan kepala keluarga sekaligus ayah kandungku, melipat koran lantas menyorot tajam.
"Apa kamu akan selalu terlambat untuk sarapan bersama?"
Lagi-lagi pria tua itu mengomeli hal yang tak seharusnya diperdebatkan. Aku tahu jika itu hanya caranya mencari bahan pertengkaran denganku. Untuk menyalahkan serta menyudutkanku dengan topik apapun. Semakin sepele topik yang kita bahas, semakin menjadi emosinya meluap.
Aku memutar bola mata dengan malas, menaikan tatapan pada Papa tanpa rasa takut, "kancing blouseku terlepas dan aku harus menjahitnya terlebih dahulu."
"Omong kosong!"
Gebrakan di meja menyentak semua orang yang berada di meja makan, menoleh bergantian ke arahku serta Papa dengan was-was. Takut-takut jika akhir minggu mereka yang indah akan diwarnai adu mulut dari dua manusia berkepala batu. Tentu saja aku sebagai putrinya meniru semua sifat yang ayahku punya. Sama kerasnya.
"Sayang sudahlah. Kamu nanti telat datang ke kantor. Lebih baik kita sarapan." ucap seorang wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik di usianya yang tak muda lagi.
Aku menyorot interaksi keduanya, bagaimana wanita yang sudah menggantikan Ibuku itu menenangkan kekesalan Papa. Iya, Ajeng Wulandari merupakan ibu tiri yang ayahku nikahi sejak sepuluh tahun lalu. Hubungannya denganku tergolong biasa saja. Ajeng mempunyai seorang anak laki-laki dari suami sebelumnya. Anak yang bernama Pramudya Ilham Tama, yang duduk tepat di samping kananku.
Sebuah tepukan lembut aku rasakan di atas punggung tangan yang bertumpu pada paha, menoleh mendapati Pram tengah tersenyum lantas berbisik; "mbak jangan judes-judes dong!"
Dengan malas aku menyingkirkan tangan Pram secara kasar lantas memegang sendok dan mulai memakan nasi goreng, menu sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Mbok Rasmi, salah satu pelayan di rumah ini.
"Sore nanti kamu harus datang ke kencan buta yang sudah Papa buat."
Aku menghentikan kunyahan selagi menelan nasi dengan susah payah agar masuk ke dalam mulut. Lagi-lagi, selama dua tahun ini, Rengga terus menerus menjadwalkan kencan buta untukku. Dia bilang aku yang sudah berumur dua puluh delapan tahun ini sudah sepatutnya menikah. Sebenarnya kenapa dia susah payah menyuruhku untuk melangkah ke sebuah neraka yang dikemas dengan kata pernikahan?