Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kaindra Batara
Sudah selama setengah jam gue duduk di meja bar bersama Adi tanpa obrolan. Sahabat gue yang satu ini seolah tahu bahwa gue membutuhkan waktu untuk berpikir sejenak sebelum bercerita.
"Gue nggak pernah tahu bahwa semua akan serumit ini, Di." Gue menghela nafas berat, "sejak mengetahui jika Melissa adalah darah daging gue, entah berapa planning dalam hidup yang harus gue rubah."
Iya, Adi adalah satu-satunya orang yang tahu fakta tersebut. Selain membutuhkan teman untuk bertukar pikir, gue rasa tidak akan sanggup memendam ini sendirian.
"Lo udah mikir gimana ngasih tau Senja nanti?"
Gue menggeleng. Sejujurnya tidak pernah terpikir dalam kepala jika gue harus berkata jujur pada Senja. Jika bisa disembunyikan seumur hidup pun, gue akan memilih solusi yang satu itu.
Tapi, tentu saja gue bukan pria brengsek yang akan lari dari tanggung jawab seenaknya. Bagaimanapun Melissa adalah anak gue. Tapi tidak serta merta dengan kondisi Senja yang seperti ini, gue harus menambah beban kesakitan untuk dia.
"Kai," Adi menuangkan wine ke dalam gelas gue yang kosong karena isi sebelumnya sudah tertenggak. "meskipun Karin teman dekat gue, rasanya agak janggal jika tiba-tiba dia mengklaim Melissa itu anak lo. After 3 years, man. Dan momentnya pas banget setelah lo nikah."
Gue menyesap wine tersebut, "lo juga lihat hasil test DNAnya, Di. Dan gue rasa hal ini menjadi alasan Karin selalu merongrong kehidupan gue. Oke, itu terlalu kasar untuk gue ucapkan, tapi Demi Tuhan, Adi. Gue tidak bisa berkutik ketika Karin membawa Melissa sebagai alasannya."
"Iya. Gue sangat tahu bagaimana perasaan Karin sama lo sampai sekarang."
"Dan semalam lagi-lagi Karin menelepon, membiarkan Melissa berbicara bahwa dia merindukan gue datang. Karin bilang gadis kecil itu merajuk tidak mau makan kalau nggak ketemu gue dan ya berakhir gue ada di apartemennya. Sialnya setelah gue pontang-panting kerja dari pagi, gue ketiduran. Dan, Senja datang. Semua terjadi begitu cepat."
"Apa yang Senja lakukan saat tahu lo ada di apartemen Karin dan bahkan ketiduran? Dia marah?"
Gue menggeleng, "dia cuma tanya kenapa kamu bohong sama aku?" kembali mengingat bagaimana wajahnya yang lelah itu terlihat sangat kecewa. "Lalu, ya gue jawab aja takut kalau dia marah." Gue mengingatnya jelas saat Senja menarik nafas frustasinya.
Saat itu Senja diam lama, dia hanya menatap gue dalam kebisuan. Ekspresi yang biasanya tidak terbaca entah mengapa dapat terlihat jelas di mata gue saat itu. Sorot matanya terlalu marah, kecewa, putus asa, semua bertumpuk disana.
Terdengar hembusan nafas Adi yang berat, dia mencoba untuk memahami keadaan gue saat itu. Adi merupakan salah satu orang terdekat Karin, dia juga sangat tahu perasaan gue benar-benar sudah habis untuk wanita itu. Adi tahu jika semua yang gue lakukan kepada Karin adalah bentuk tanggung jawab dari kenyataan yang baru gue ketahui.