Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lembayung Senja
"Sebenarnya kita mau kemana, sih? Pagi-pagi begini kamu udah nyeret aku ke mobil tanpa biarin cuci muka atau gosok gigi." Aku bersidekap menatap Kaindra yang sedang duduk disamping kursi stir. Sementara Adi, dia yang melajukan mobil.
Pagi tadi saat masih benar-benar terlelap, Kaindra membangunkanku dan langsung menarik masuk ke dalam mobil tanpa penjelasan. Kupikir dia akan membawaku sarapan bersama di jam enam pagi. Tapi melihat mobil memasuki pintu gardu tol keluar dari Jakarta, seketika aku mulai panik dan menuntut penjelasan padanya.
"Ke Bali. Tiket kamu sudah aku pesan, pasport dan hal penting lainnya sudah di urus Adi dengan baik. Baju dan semua perlengkapan kamu, kita bisa beli disana."
"Bali?" Aku yang sedari tadi bersender kini mencondongkan tubuh ke kursi depan, menatap secara bergantian Adi yang sedang fokus menyetir dan Kaindra yang duduk disampingnya.
Adi mengangkat kedua bahu, "tanya suami kamu aja deh. Aku juga pusing nurutin kemauan dia."
"Aku nggak bisa ya ninggalin kamu semingguan disini sendiri." Dia menatapku dari spion dalam mobil dengan bola mata yang hampir keluar dari rongga. Memperingatkan dalam tatapannya agar aku tidak banyak memprotes.
Aku kembali bersender pada punggung kursi, melipat kedua tangan di depan dada, "aku nggak suka ya kamu yang seenaknya ngatur jadwal aku. Bagaimanpun aku bukan pengangguran yang seenaknya kamu ajak kemana aja tanpa konfirmasi dulu."
Kaindra membalikan tubuhnya sedikit condong ke belakang lalu mengarahkan dagunya pada sebuah tas ransel berukuran sedang. Tas yang sedari tadi keberadaannya tidak aku sadari.
"Laptop kamu sudah aku taruh di dalam. Jadi nggak ada alasan kalau kamu nggak bisa kerja, sayang!?" dia menaikan satu alis sembari menatapku.
Di tatap seintens itu, tiba-tiba aku menjadi salah tingkah dan langsung membuang muka. Rasa panas seolah sepakat untuk menyerang, hingga akhirnya aku mengalah untuk menurunkan sedikit kaca jendela meski ac sudah menyala. Aku mengipasi diri sendiri dengan telapak tangan hanya untuk meleburkan kecanggungan yang kubuat sendiri akibat panggilan sayang yang belum terdengar biasa.
"Kayaknya beneran deh, gue mesti nyari cewek. Biar nggak jadi nyamuk mulu. Please, kalian berdua tuh suami istri, nggak perlu saling flirting gitu di depan jomlo kaya gue ini."
Aku melirik Kaindra yang ternyata masih menatapku. Meski bibirnya tidak melengkung, aku tahu sorot mata itu tengah tersenyum dan sukses membuatku menyembunyikan tawa dari balik telapak tangan.
Sebelum memasuki jam makan siang, kami sudah sampai di Bali. Dijemput oleh mobil kantor yang dikendarai seorang laki-laki bernama Adnan, itulah nama yang kudengar ketika beberapa kali Kaindra dan Adi memanggilnya. Dari obrolan mereka aku baru tahu jika perusahaan keluarga Batara mempunyai cabang di pulau ini, persisnya di daerah Sanur.