Lembayung Senja
Aku terbangun merasakan tubuhku yang sakit di beberapa bagian. Meski begitu, saat mengingatnya lagi, aku tidak bisa menahan tarikan di kedua sudut bibirku. Bagaimana cara Kaindra menyentuh begitu membuatku merasa di puja. Dia yang pertama dan mungkin yang terakhir kalinya juga. Ah, aku tidak ingin membebani pikiranku dengan segala kemungkinan yang belum terjadi. Aku hanya ingin menjalani apa saja yang berada di depan mata sekarang.
Saat aku berusaha memiringkan tubuh, aku mendapati Kaindra yang tengah menatapku. Sejak kapan dia sudah bangun?
"Morning.." sapanya mendekat lantas mengecup singkap bibirku. Dia tersenyum lalu membelai lembut wajahku.
Tanganku bergerak sendiri untuk menyentuh wajah Kaindra yang seperti sebuah ilusi. Seolah ingin mempertegas bahwa pria disampingku ini adalah nyata. Aku menekuri setiap jengkal wajahnya. Bagaimana alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung serta bibirnya yang penuh, benar-benar menjadi sebuah daya tarik yang membuatku kini kembali menciumnya semakin dalam. Saat Kaindra tiba-tiba saja mengangkat tubuhku sedikit agar menemukan posisi nyaman, aku meringis menyadari bagian tubuhku masih terasa sakit. Dia terkekeh lalu menjauhkan wajahnya kembali, melepas tautan bibir kita.
"Kamu masih punya banyak waktu untuk menikmati aku sesuka hati kamu, tapi sekarang kamu istirahat dulu saja, oke! Aku turun ke bawah buat siapin sarapan." Dia bergegas menyingkap selimut dan mataku melebar saat mendapatinya tanpa sehelai kain berjalan dengan enteng ke arah walkin closet lalu menghilang disana.
Aku mengintip tubuhku sendiri dari balik selimut yang rupanya tidak jauh berbeda. Rasa panas kembali menjalar ke pipi mengingat kembali gairah yang kita bagi semalam.
Tadinya aku ingin seharian berada di atas kasur, tidur sampai tenagaku pulih kembali. Namun wangi bumbu-bumbu masakan yang memenuhi ruang kamar mengoyak cacing dalam perut untuk berdemo meminta asupan. Ditambah aroma kopi yang sudah sangat ku kenal tercium. Meski merasa sakit dan nyeri, akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diri.
Berjalan turun ke lantai bawah, sayup-sayup ku dengar kesibukan dari arah dapur. Suara spatula yang bergesekan dengan penggorengan, atau bunyi-bunyian lain. Kaindra berada disana, berdiri di depan kompor dengan satu tangan tengah mengaduk sesuatu. Rasanya seperti dejavu, aku beberpa kali menyaksikan pemandangan ini namun belum sepenuhnya terbiasa. Dia memasak dengan dada telanjang, di pingganya menggantung celana denim, rambutnya terlihat masih basah.
Aku berjalan menghampiri sembari masih mengagumi bentuk tubuh Kaindra yang berotot. Dia sedikit berjengit saat aku tiba-tiba saja memeluk dari belakang lalu menempelkan pipi pada kulit punggungnya. Kaindra mematikan kompor lalu berbalik, satu alisnya sedikit terangkat sementara bibirnya melengkung.
"Ada apa sih? Kok tiba-tiba peluk begini?" matanya memincing dengan menggoda.
"Kamu nggak kerja?" tanyaku menyorot pada penampilannya yang masih terlalu santai untuk ukuran orang yang akan bekerja.
"Khusus hari ini aku izin dulu, lagian udah mau jam makan siang, jadi mending bolos sehari. Aku juga udah ngomong sama Adi kalau ada hal penting soal kerjaan dia bisa hubungi aku."
"Oh," aku baru tersadar saat melihat jam dinding di ruang makan yang letaknya tidak bersekat dengan dapur. Rupanya sudah siang hari. "Aku pikir masih pagi," ucapku sedikit meringis.
"Kita makan dulu. Aku udah masakin sesuatu buat kamu." Kaindra berjalan maju sembari memegang tubuhku yang masih menempel memeluknya. Sementara aku sedikit kewalahan mengikuti gerakannya menuju salah satu kursi di meja makan. "Nah sekarang kamu duduk manis dulu," aku masih enggan melepaskan tangan yang melingkar di pinggangnya meski sudah dengan posisi duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Last Sunset
Romance"A sunset paints the sky as if there were no tomorrow" -Anthony T. Hincks-
