Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lembayung Senja
"Oke nanti kita ketemu disana," aku menutup panggilan dari Alea begitu Kaindra masuk ke dalam mobil.
Dia menempatkan diri di kursi kemudi sembari memasang sitbelt. Penampilannya terlihat santai. Hanya mengenakan hoodie berwarna cokelat dipadukan dengan celana chino cream. Untuk sekilas yang melihatnya mungkin mengira pria disampingku ini masih berumur belasan tahun.
"Kenapa ngeliatin gitu?"
"Kai...?"
"Hm..?" Kaindra mulai menjalankan mobilnya.
"Kamu ada gitu keturunan chinesse?"
Dia tersenyum sebelum menjawab, "gara-gara aku sipit gitu? Kaya temen-temen kamu deh yang nyangka aku ada darah chinesse. Nggak ada sebenernya. Cuma kata papi, buyut aku ada keturunan dari Korea."
"Masa kamu kelihatan lebih muda dari umur aslinya, sih?"
"Olahraga dong. Lagipula dua puluh delapan tahun nggak tua-tua amat kali, Senja."
"Kamu beneran cuma bawa diri doang?"
"Ngapain bawa repot-repot."
"Kita disana dua hari satu malam loh."
"Yaaa... kita kan bisa beli baju disana."
Aku hanya menggelengkan kepala. Sepertinya pribadiku berbanding terbalik dengan Kaindra. Meski pria, dia memiliki banyak macam pakaian. Di walkin closet saja, dia sudah menelan tiga lemari hanya untuk baju-bajunya. Sementara aku yang wanita hanya cukup dengan satu lemari saja. Aku menganut paham beli satu baju, dan buang satu baju dalam lemari. Bukan membuangnya cuma-cuma, biasanya aku mengumpulkan baju yang sudah tidak terpakai menjadi satu lalu disumbangkan. Meski dilahirkan dari keluarga cukup berpengaruh, aku tidak semata-mata seenaknya dalam menggunakan uang. Belum lagi dulu setiap bertengkar dengan papa, beliau selalu mengingat uang-uang yang dikeluarkannya untukku. Jadi sebisa mungkin aku berhemat karena tahu itu semua dia beri tanpa ketulusan.
Aku kembali menscroll layar ponsel, melihat review hotel-hotel di aplikasi pemesanan. Sayangnya hotel dengan fasilitas bagus di weekend ini sudah terisi penuh.
"Kenapa?"
Aku memindahkan tatapan dari layar ke arah Kaindra yang masih menyetir, "apanya?"
"Kamu... Kenapa berdecak begitu?"
"Ah," aku mengusap tengkuk leher. "Hotel yang biasa aku kunjungi saat ke Bandung sekarang penuh. Aku bingung kita harus menginap dimana. Apa cari langsung saja ya kalau sampai disana?"
"Tenang saja. Kita ke villa keluarga di Lembang. Lagi pula acara kamu siang ini bukan? Kalau lihat-lihat hotel dulu nggak keburu nanti. Aku sudah survei tempat seminar kamu, nggak jauh kok dari villa. Paling makan waktu satu jam. Kalau nggak macet sih."