Chapter 29

154 19 5
                                        

Kaindra Batara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kaindra Batara

Setelah selesai mencuci muka, gue membuka pintu kamar mandi dan mendapati Senja sudah bangun. Dia tengah kesusahan untuk turun dari ranjang. Satu tangannya sibuk memegangi tiang infus, sementara satu tangan lainnya menyangga tubuh di atas ranjang saat hendak melompat turun.

Gue beegegas menghampiri lalu memegang tubuh lantas membantunya turun.

"Kamu kenapa nggak panggil aku, sih?"

"Aku pikir tadi kamu nggak di dalem toilet."

"Terus kamu mau kemana?"

"Ke toilet. Gosok gigi sama cuci muka. Badan aku rasanya lengket semua gara-gara nggak mandi."

"Yaudah aku bantu. Nggak pakai protes!"

Gue menggeser pintu kamar mandi ke kiri hingga terbuka lebar. Mengangkat tiang infus untuk melewati garis batas pintu lalu menuntun Senja masuk. Dia duduk di atas toilet, menerima sikat gigi baru yang sudah gue lumuri dengan pasta gigi.

"Selagi kamu sikat gigi, aku siapin bentar air hangat buat basuh tubuh kamu." Sebelum mulut Senja yang dipenuhi busa terbuka hendak memprotes, gue sudah berbalik keluar kamar mandi.

Gue kembali dengan sebuah baskom dan handuk. "Pokoknya kamu jangan protes, kalau nggak mau aku marah kaya semalam."

"Memangnya kamu marah?"

"Iya. Aku marah, Senja. Marah karena kamu nggak mau jujur tentang ini dan itu, tentang penyakit kamu dan rasa percaya diri kamu itu yang mau melawan semua sendirian. Sudah tahu kan aku marah? Makanya peka sedikit!" Gue mengangkat wajah Senja dengan jari telunjuk di bawah dagunya. Mengusap wajahnya dengan handuk bersih yang sebelumnya sudah dibasahi air hangat.

Senja memejamkan mata selagi tangan gue menyapu bersih wajahnya. Mulai dari kening, turun ke pipi, hidung, sudut bibirnya hingga dagu. Lama memperhatikan wajah mungil yang kian memucat dan tangan gue mengelus lembut pipinya.

"Kamu lagi nggak nyari kesempatan kan, Kai?" bibirnya berucap demikian sementara matanya masih tertutup, membuat gue terkekeh.

Gue memeras handuk yang baru saja di basahi kembali. "Emangnya nggak boleh?" berusaha menggodanya.

Mata itu terbuka. Menatap tajam penuh peringatan. "Nggak boleh ya! Aku lagi sakit, kamu jangan aneh-aneh."

"Hm, padahal aku belum sarapan loh." Dia mendecih, satu kaki kirinya menendang lemas kaki gue sebagai bentuk protes. "Iya, iya, nggak bakalan aneh-aneh deh, suwer..... Mana tangan kamu!"

Dia mengulurkan tangan lalu gue kembali mengusap kulit tubuhnya, perlahan penuh kehati-hatian. Kegiatan tersebut tidak pernah terbayangkan akan seasik ini karena diisi oleh obrolan-obrolan random darinya. Tidak ada yang membahas tentang penyakit sialan yang sedang dia derita. Senja lebih banyak membicarakan tentang Alea yang pernah operasi karena mengidap ambien. Senja bercerita saat selesai operasi, Alea tidak bisa buang air besar selama seminggu. Dia dan teman-temannya mencoba berbagai cara untuk mengeluarkan isi dalam perut Alea dengan menjejalkan berbagai macam makanan pedas seperti seblak level sekian, ceker mercon, cirambay, dan makanan makanan yang dapat mengguncang isi perut.

Our Last SunsetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang