Chapter 33

125 17 4
                                        

Kaindra Batara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kaindra Batara

Setelah berhasil memarkirkan mobil, gue tidak langsung turun. Sambil memeluk stir, dan menatap lurus kedepan pada seorang wanita yang sedang duduk di meja pengunjung.

Dress babydoll lengan pendek yang dia kenakan berwarna putih dengan aksen bercak bunga warna-warni yang panjangnya selutut dibiarkan berkibar tertiup angin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dress babydoll lengan pendek yang dia kenakan berwarna putih dengan aksen bercak bunga warna-warni yang panjangnya selutut dibiarkan berkibar tertiup angin. Tidak butuh waktu lama gue menebak siapa dia karena wajahnya tertutup buku menu. Saat dia selesai memesan, bibir gue melengkung sempurna. Senja tertawa meski malu-malu sambil menutup mulutnya karena tingkah konyol Anita. Entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga suasana hangat dapat terasa sampai di tempat gue berada.

Pagi tadi seperti biasa gue berangkat kerja sebelum Senja bangun. Saat di meja makan gue bertemu dengan Anita yang menunduk sembari meminta maaf. Gue tidak mempermasalahkan apapun, tindakannya sudah benar menemani Senja dan memberitahu dimana mereka.

Ucapan gue tadi pagi meminta agar Anita menjalankan tugas dengan lebih baik lagi rupanya benar-benar dia lakukan. Anita mengirim pesan hampir setiap satu jam sekali memberitahu pergantian aktivitas Senja saat bangun tidur, mandi, sarapan, hingga mereka menghabiskan waktu makan siang disebuah coffee shop yang berada tepat di depan gue sekarang.

Gue melangkah masuk dengan percaya diri ke bangunan yang berkonsep naked, dengan dominasi bahan kayu berfinishing kasar, coffee shop ini memberi kesan rumahan yang kental. Picture window dengan kaca lebar di latar belakang menjadi pemanis yang sedap.

Gue menyeret kaki ke arah meja di sudut ruangan yang berdekatan dengan jendela. Jari telunjuk menekan bibir saat Anita mengetahui kehadiran gue. Memintanya untuk tetap diam tidak memberitahu Senja karena wanita itu duduk membelakangi pintu masuk coffee shop. Kedua tangan gue terulur kedepan menutup matanya. Dia menggeliat, meraba tangan gue lalu sedikit mengendus dan langsung menebak.

"Kai?"

"Hai..." gue menyapa dengan berbisik di telinga Senja dari belakang, lalu mengecup singkat pipinya. Dia terlihat terkejut, namun gue tetap memasang ekspresi hangat disertai senyum di bibir. "Anita yang ngasih tau kalau kamu ada disini, boleh join kan?"

Our Last SunsetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang