Chapter 19

188 25 6
                                        

Kaindra Batara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Kaindra Batara

Kaindra Batara
"Kamu udah sehatan belum sih? Malah keluyuran gitu?"

Lembayung Senja
"Jangan rewel deh udah kaya bayi gede aja."

Kaindra Batara
"Yaudah aku minta pap foto kamu hari ini. Jangan ge-er dulu, cuma mau lihat muka kamu itu masih pucat kaya vampir nggak?"

Lembayung Senja
-_-

Kaindra Batara
"Kalau nggak mau, aku spam chat ah..."

Lemabyung Senja
Sent a pict,

Gue tersenyum seperti orang gila saat mendapati pesan terakhir dari Senja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gue tersenyum seperti orang gila saat mendapati pesan terakhir dari Senja. Dia mengirimkan foto selfi dengan wajah datarnya. Tanpa senyum atau hal-hal manis yang biasa perempuan lakukan saat berfoto. Justru itu yang membuat gue tidak bisa berhenti tertawa.

Setelah mengatur walpaper dengan foto baru perempuan itu. Yang entah kenapa tindakan impulsif tersebut gue lakukan. Berdalih bahwa hari gue akan lebih baik ketika menatap wajahnya. Suara ketukan mengalihkan fokus dari layar ponsel ke pintu. Adi melongok dan masuk setelah gue mempersilahkan. Tapi dia tidak sendiri. Di belakangnya Karin tengah berjalan mengikuti.

Berusaha menahan ekspresi wajah dengan biasa saja. Mata gue mengikuti langkah keduanya berjalan dengan Karin yang tersenyum anggun menyapa. Bibir gue masih saja kaku enggan membalas sapaan tersebut karena belum terbiasa untuk menghadapi Karin.

Gue berusaha duduk tegak. Menekan kedua tangan ke paha dengan canggung. Kehadiran Karin diperusahaan bukanlah pertama kalinya. Dia sempat magang di perusahaan ini saat gue melanjutkan S2 di Melbourne. Sebelum berusaha fokus pada kedua orang yang tengah berada di depan, gue menyempatkan membuka ponsel kembali, hanya untuk menemukan foto Senja di layar. Seolah hal itu adalah sebuah mantra yang dapat memberikan rasa tenang saat harus terpaksa berhadapan dengan ketidaknyamanan.

Adi mengetuk meja, "gue bawain karyawan sesuai apa yang lo minta."

Gue menatap Adi dan Karin bergantian. Meski bibir gue tertutup rapat, rupanya Adi mengerti apa yang sedang gue pikirkan. Mengumpatinya yang membawa mantan kekasih gue untuk bekerja kembali di perusahaan ini.

Our Last SunsetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang