-17+
~
Kehidupan seseorang hanya akan berjalan satu kali dalam putaran takdir, Namun untuk sebagian orang mereka merasakan hidup lebih dari satu kali karena seseorang yang mereka sayangi.
~
udah baca aja ayo,dijamin ketemu Upin dalam jarjjit
#-KATA...
Mwehhhh makin cigtha deh jangan lupa iuran haluannya 😚😚😚😚
SELAMAT READ
*** 'aku mencintaimu dalam kesendirian,menjaga hati untuk kau yang tak kunjung pulang'
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • • ***
*Open my heart to a child.
Zea menatap Keenan yang sedari tadi mengelus rambut legam putranya, entahlah mengapa dia berpikir bagaimana jika seandainya dia adalah orang yang Keenan sebut? Zea menggeleng.
Zea tak ingin hidup karena menjadi pengganti orang lain, kalaupun itu dia, dia ingin bukti yang nyata, mimpinya saja tak cukup, foto? entah Zea masih begitu bimbang. Dia seolah sedang mengalami krisis identitas.
"Permisi?" dokter Ryan datang dan membuyarkan lamunan Zea.
"Om?" Ryan mengangguk, lalu berjalan kearah Elgar yang masih setia menutup matanya karena pusing.
"om periksa ya, tadi orang tua kamu udah cerita" ucap dokter Ryan sambil mengeluarkan alat alat yang dia bawa di nakas, Zea diam apa yang orang tua anehnya itu ceritakan? ingatkan Zea untuk bertanya nanti.
"Hei kamu dengar saya?" ucap dokter menempelkan punggung tangannya pada kening Elgar
Elgar hanya mengangguk lemah jujur kepalanya pusing sekali.
"Berapa tinggi demamnya?"
"39°c" jawab Keenan, Ryan mengangguk.
"Perut kamu sakit?" Elgar mengangguk lagi, Ryan dengan sigap menekan dengan pelan sisi kanan dan kiri perut Elgar tak lupa sisi tengahnya.
Sshhh
Ryan beralih membuka kelopak mata Elgar yang sedikit memerah.
"Kamu punya keluhan apa sebelum demam?" Elgar menggeleng, begitupun Keenan yang di tatap oleh Ryan.
"Sepertinya kita harus kerumah sakit tuan, atau paling tidak di kasih cairan infus untuk menurunkan demamnya sepertinya obat tidak mempan" Elgar langsung membuka matanya dan beringsut memeluk Keenan yang tepat berada disisi lain kasur.
"Gak mau elga gak mau infus sakit papi~" rengekan dengan lirihan itu membuat Ryan tersenyum kecil, ah manis sekali pasiennya ini, laki laki tapi takut infus.
"Gak sakit kok, dokter jamin ini bakal buat kamu sembuh." terang Ryan namun tetap saja mendapatkan penolakan dari Elgar.
'berasa lagi ngebujuk bocah 4 tahun aja' batin Ryan menatap Elgar yang setia memeluk ayahnya.
"Satu kali saja nanti bakal sembuh, atau Elga mau papi panggilin owet?" Elgar paling takut dengan Clara, karena Clara pernah membawa Elgar untuk imunisasi saat berumur 4 tahun tapi disana Elgar malah tidak sengaja melihat bidan menyuntikkan obat kepada balita lain yang membuat balita itu menangis meraung keras, dari sana Elgar paling takut suntik dan umur empat tahunlah dia berenti imunisasi bersama Clara.