CHAPTER 18

1.3K 40 1
                                        

pagi siang malam subuh dan sore..

SELAMAT READ!

"Tangisan tentangmu, adalah hal paling membahagiakan dalam cerita bertema luka."

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


*Facts about a role.



"apa tidak ada penjelasan Davis?" ujar Gerald, kepada pemuda yang sedari kedatangannya terus berdiam diri.

Davis menoleh menatap semua orang yang tengah menatapnya juga, kecuali Emil yang tengah tertidur.

"maaf om tadi nenek bilang k—kak.." Davis menunduk, tak kuat menahan sesak yang ada didadanya.

Gerald menghela nafas begitu juga Damian dan angkasa yang ada disana.

flashback

"KAK LIO"

Davis menangis di depan pintu, dengan kepala tertunduk usai membuka pintu tersebut dengan tak  manusiawi.

"hiks..ka—kak Lio hikss maafin Nino,.."

dia terus menangis dengan kepala tertunduk, Davis tak tau ada siapa yang disana. Namun, yang pasti kakaknya tengah berbaring dengan selimut putih yang menyelimuti tubuhnya.

"kak lio..hikss jangan tinggalin..Nino.."

"sedang apa kau bocah?" Davis mendongak kala mendengar suara asing masuk ke telinganya.

"apa yang kau lakukan? memungut uang recehan? apakah keluarga bajingan itu tidak memberimu makan juga?" sudah tertebak bukan, siapa yang memiliki mulut pedas tanpa rem disini?

"Angkasa diamlah!" ya.. Angkasa! si mantan raja nyinyir dan untuk suara tadi adalah milik Gerald.

Angkasa berdecak, kemudian kembali diam disamping Damian yang sedari tadi duduk tenang.

flashback off.

"nangis Mulu lo bocah!" Angkasa kembali bersuara, sungguh dia tak tahan kenapa pemuda itu cengeng sekali?!

"maaf om..." Damian menghela nafas, pria itu berdiri dan menghampiri Davis yang masih menundukkan kepalanya.

"tidak perlu takut, apa yang membuat mu kemari?" tanyanya lebih halus daripada Gerald dan Angkasa.

"nenek bilang kalo hikss.."

"tak perlu dipaksa, apa kau kemari untuk menjenguknya? dia baik baik saja." Damian menarik tangan Davis menuju ranjang pesakitan milik Emil.

AGASKAR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang