Baca lagi dari awal gais karena ada beberapa yang aku tambahin dan yang aku ilangin. Alasan kenapa aku mengobrak-abrik ceritanya karena gak mau ceritanya bertele-tele seperti kemarin. Semoga kalian mengerti ya dan mau membaca ulang.
Instagram : wp.hopepen
~Garis Semesta~
Lee Heeseung
Setelah menghabiskan kurang lebih satu minggu berada dirumah sakit Mahesa di izinkan untuk pulang dengan catatan jika kembali drop harus segera kembali kerumah sakit. Segala tentang pengobatan yang harus Mahesa jalani sudah selesai Adrian putuskan bersama Dokter Wiliam yang akan menjadi Dokter pribadi Mahesa kali ini.
Setidaknya Mahesa sudah mempunyai jadwal pengobatan yang akan membantu mengatasi sel kanker yang berada di tubuhnya.
Kanker serangan kedua memang lebih ganas penjelasan Dokter membuat Adrian takut. Takut dalam segala sisi yang jelas Adrian takut Mahesa tidak kuat dan pergi meninggalkannya.
Tiga hari kebelakangan Adrian tidak bisa tidur dengan nyenyak, pikiran buruk tentang segala hal bersemayam dalam kepalanya. Segala sesal, kecewa dan marah menjadi satu, menyalahkan dirinya.
Seprustasi itu Adrian saat ini.
Adrian kecewa kepada dirinya sendiri yang sudah menyepelekan kesehatan Mahesa sehingga tidak mengajak Mahesa untuk kontrol setiap bulannya yang sebenarnya sudah keharusan Mahesa untuk selalu kontrol karena mantan penderita kanker, Adrian menyalahkan dirinya yang tidak terlalu memberi Mahesa makanan-makanan yang sehat dan tidak memperdulikan jadwal keseharian Mahesa yang ternyata memang berdampak membuat penyakit itu kembali menggorogotu tubuh Mahesa.
"Pagi, Sa. Sini sarapan," ajak Adrian yang sedang menata meja makan.
"Banyak juga menu sarapan nya, Bang," kata Mahesa dan menduduki salah satu kursi meja makan.
"Lo harus banyak-banyak makan-makanan yang sehat," tukas Adrian memberikan satu centong nasi pada piring kosong dan diberikannya kepada Mahesa.
"Oke lah."
Adrian duduk di samping Mahesa dan menatap wajah Mahesa dari samping. "Lo yakin hari ini sekolah?"
"Yakin, Bang." Adrian menghela nafas dan menyajikan segelas air bening. Mahesa dan Adrian mulai sarapan dan tidak lama sarapannya sudah selesai.
"Gua udah ngobrolin hal ini sama guru-guru lo bukan maksud gua membedakan karena lo yang sekarang bukan lo yang dulu gua cuma ingin menjaga lo di saat lo lagi jauh sama gua seperti hal nya saat lo lagi di sekolah," tukas Adrian.
"Lo bilang sama siapa aja, Bang?" tanya Mahesa.
"Kepsek, wali kelas, pelatih basket lo." Mahesa menghela nafas mendengar hal ini. Mahesa tidak ingin di anggap lemah walau pum mereka tidak akan menganggapnya seperti itu, mungkin?
"Lo gak nyuruh gua ngundurin diri dari basket, kan?"
Saat Mahesa di rumah sakit kemarin Adrian sempat ke sekolah untuk memberikan surat izin sakit atas nama Mahesa. Adrian juga meminta pihak sekolah untuk memaklumi Mahesa nanti, tentang sakit Mahesa yang membuat tubuh Mahesa tidak sekuat dulu.
Dan ya..
"Gua udah bilang sama Pak Lian bahwa lo ngundurin diri, Sa. Sorry seribu sorry Sa gua kayak gini karena gua mau yang terbaik buat lo dan lo harus paham sama apa yang gua perbuat," tukas Adrian penuh harap.
"Kenapa lo gak musyawarahin dulu tentang ini sama gua, Bang.." lirih Mahesa.
"Sa sekarang lo cuma harus fokus sama pengobatan lo nanti "
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Semesta | END
أدب المراهقين"Bang, Malika ngajak gua pergi sama dia. Tapi kalau gua ikut sama dia, lo gimana?" tanya Mahesa. "Jangan pergi, Sa. Disini aja, sama Abang. Start 24 November 2022
