Bab 31 | Semesta Adrian

2.3K 201 54
                                        

"Sa.." panggil Adrian langsung melihat Mahesa yang sedang meringkuk. Adrian menghampiri dan mengecek suhu tubuh Mahesa yang lebih panas dari tadi siang, rupanya demamnya kembali naik.

"Apanya yang sakit, Sa?" tanya Adrian memgusap kening Mahesa yang banjir oleh keringat.

"Pas gua bangun semuanya udah sakit, Bang.." lirih Mahesa dengan suara yang serak.

Adrian membantu Mahesa membenarkan posisi tubuh Mahesa dan membuat Mahesa duduk, Adrian mendekap tubuh tinggi adiknya itu dan mengusap punggung Mahesa dengan tangan kanannya.

Cara ini yang selalu Adrian lakukan dan terbukti berhasil.

Mahesa mempasrahkan tubuhnya pada dekapan Adrian, letak nyaman Mahesa ada di Adrian, abang satu-satunya yang selalu memahaminya.

"Punggungnya sakit terus, Sa.." Dalam dekapan itu Mahesa menganggukan kepalanya.

"Hari ini mimisan tidak?"

"Tidak." Setidaknya Adrian lega karena Mahesa tidak mimisan terus menerus seperti kemarin-kemarin, Adrian bisa saja trauma jika terus menerus melihat Mahesa mimisan.

"Gua sariawan, Bang," adu Mahesa nampak menikmati setiap usapan menenangkan yang Adrian berikan.

"Iya? Kok bisa? Kegigit?" Mahesa berdehem pelan, pas makan tadi di sekolah bibir bawahnya kegigit oleh giginya sendiri.

"Nanti gua beliin obat nya.."

"Bang.. Mamih Papih kenapa gak ada kabar udah lama loh?" tanya Mahesa dengan suara lirih.

"Gua gak tau, Sa. Udah gak usah di pikirin dulu, oke. Kalau badannya masih gini kemo nya di undur terus."

"Iya, Bang.."

"Baringan gua pijitin kaki sama tangannya." Mahesa menganggukan kepalanya dan dibantu oleh Adrian untuk kembali baringan setelah sakit di area punggungnya merasa lebih baik, Adrian tidak pernah gagal menenangkannya.

"Bang.."

"Iya?"

"Suapin." Adrian mengangguk. Manja Mahesa selalu bertambah jika kondisinya sedang menurun kembali, seperti saat ini.

"Kepala teh sakit, Bang. Dilepas dulu apa gak bisa, ya?" tanya Mahesa. Tanpa membalas pertanyaan konyol itu, tangan kanan Adrian terarah untuk memijiti kepala Mahesa.

"Ah enak banget, Bang. Walau rasanya kayak di gedor-gedor."

"Udah diem, lo bawel makin sakit ntar?"

"Ish," decak Mahesa.

Adrian menatap wajah Mahesa yang merem melek yang entah karena terlalu sakit atau sedang menikmati pijitannya, yang pasti wajah Mahesa terlihat pucat.

"Bang..."

"Iya, Cil?"

"Mau tayo yang ada remotnya," lirih Mahesa.

~Garis Semesta~
Lee Heeseung

Shabira tersenyum lepas melihat tubuh Mamahnya yang sedang membelakanginya karena sedang memasak, dengan gerakan cepat Shabira berlari dan memeluk Ayu dari belakang.

"Mamah tumben iih udah pulang, aku seneng, deh," tukas Shabira.

"Eh princes nya Mamah sudah pulang, sama siapa, Nak? Kok gak kedengar suara kendaraannya?" tanya Ayu yang memang seorang bidan yang kesehariannya kebanyakan di habiskan dirumah sakit.

"Sama Satria, Mah. Cuma tadi mampir kerumah Satria buat ketemu sama Syakila. Mamah masak apa? Harum banget Bira jadi lapar, Mah." Ayu tersenyum, ia pulang cepat karena ingin memasak untuk putri satu-satunya tersebut.

Garis Semesta | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang