Bab 30 | Maaf untuk diri sendiri

2.1K 211 34
                                        

***

Mahesa baru saja sadar setelah dua hari tidak sadarkan diri karena kondisinya yang drop bahkan sampai transfusi darah. Nyatanya setelah bangun keadaan Mahesa tidak kunjung membaik membuat Adrian banyak protes kepada Dokter Wiliam.

Seperti sekarang, Mahesa memuntahkan bubur yang baru saja beberapa menit ia telan. Adrian ingin marah? Tentu saja. Tetapi melihat Mahesa yang kesusahan menelan bubur itu membuat hati Adrian tersentil.

"Bang kesel ya karena buburnya gagal gua telen terus?" Mahesa itu pengamat. Setiap raut wajah orang-orang di dekatnya berubah pasti Mauhesa tahu begitu pun dengan raut wajah Adrian, orang yang sudah belasan tahun hidup bersamanya.

"Nggak."

Singkat. Balasan Adrian singkat, tentu karena banyak kesal yang Adrian rasakan terhadap Mahesa.

"Bukan berarti gua gak mau makan kok, Bang. Gua pengen banget makan tapi tenggorokan gua sakit, perutnya juga mual tapi gua laper," adu Mahesa.

Adrian menyimpan mangkuk bubur itu pada atas nakas. Mahesa mengamati gerak Adrian yang sedang menuangkan air panas pada salah satu gelas kosong tidak lupa Adrian mencampur air panas itu dengan air dingin membuat  air itu menjadi hangat yang tidak terlalu panas.

"Ayo minum." Mahesa menurut dan meminum air yang sudah disiapkan Adrian untuknya.

"Udah?" Mahesa mengangguk.

"Makan lagi." Adrian kembali menyuapi Mahesa dengan telaten. Bubur yang sudah di siapkan pihak rumah sakit baru setengahnya Mahesa makan padahal sudah hampir satu jam Adrian menyuapin Mahesa.

"Kenapa? Mau muntah lagi?" Dengan cepat Mahesa menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

Karena tidak mau membuat Adrian semakin kesal Mahesa mulai menelan bubur itu pelan-pelan di saat tadi bubur itu hampir keluar kembali karena mual yang Mahesa rasakan.

"Yes.." gumam Mahesa.

"Yes apa?" tanya Adrian tidak mengerti.

"Yes tertelan, Bang."

Jujur Adrian ingin ketawa rasanya melihat wajah polos Mahesa yang susah payah menelan bubur yang rasanya tidak terlalu enak bagi Mahesa.

"Aaa lagi," pinta Adrian.

Hingga lima belas kemudian Mahesa meminta Adrian untuk berhenti menyuapinya. Walau belum terasa kenyang tapi Mahesa memilih menyudahi karena tidak mau bubur yang sudah susah payah ia telan kembali keluar karena rasa mualnya.

"Buah nya mau?"

"Mau." Adrian menyimpan mangkuk bubur itu dan mengambil buah pir, buah kesukaan Mahesa. Adrian membantu Mahesa memotong buah tersebut menjadi potongan kecil.

"Nih.."

"Makasih."

"Ya."

Adrian tidak mengalihkan pandangannya dari objek di depannya. Tentu saja objek favorit Adrian adalah melihat Mahesa. Mahesa itu sangat penyuka buah pir, makanya Hersa mau pun Della membelikan Mahesa buah pir di antara buah-buah lainnya.

"Udah bisa gua ajak ngobrol berat gak?" tanya Adrian.

"Ngobrol apa?" tanya Mahesa sibuk menguyah buah pir nya.

"Soal lo yang main basket sampe ikut turnamen." Mahesa menghentikan kunyahannya. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang karena Adrian membahas soal basket sekarang, Mahesa kira Adrian lupa pasalnya sejak pagi Adrian sama sekali tidak membahasnya.

Garis Semesta | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang