read message (62)

173 20 0
                                        


Jaemin membayar dengan kartunya setelah mereka selesai makan di sebuah kedai makan tersebut. Hari ini ia kalah bermain kertas gunting batu yang berakhir ia harus membayar. Tapi tidak masalah. Jaemin punya tiga kartu dari orangtuanya. Ia membungkuk pelan saat kasir tersebut membungkuk ke arahnya Dan menguap terima kasih.

"Jalan-jalan yuk" ajak Haechan

"Ayo. Udah lama gue gak jalan bareng kalian" timpal Jeno

Haechan mendecih "tumben lu mau"

Jeno merangkul bahu Haechan "ya udah lama aja ya gak Jaem" ujar Jeno menoleh pada Jaemin yang berjalan di belakangnya.

"Eh Jaemin di belakang tungguin" ucap Mark pada Jeno Dan Haechan yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan.

"Duluan aja kak" ucap Jaemin yang terlihat ingin berjalan sendiri Dan enggan mempercepat langkahnya demi menyusul mereka.

"Ah okay. Hope you're okay" ucap Mark

"Jeno~" panggil Mark membuat Jeno melambatkan langkah nya Dan menggenggam tangan Mark.

"Noona neomu yeppo~ micheo replay replay replay" Haechan bernyanyi sambil menari tanpa merasa malu dilihati beberapa orang di sana. Jeno sedikit menjauh dari Haechan namun Mark masih memeperhatikan dengan senyuman tak lepas dari wajah manisnya.

Sedangkan Jaemin berjalan pelan berada jauh di belakang dengan tatapan kosongnya. Mereka berjalan bersama banyak orang di sana menikmati suasana malam di Itaewon. kadang berhenti sebentar saat untuk melihat-lihat akesesoris lucu di beberapa etalase toko-toko yang berjejer di sana.

Apa pun yang berkecamuk di dalam benaknya Jaemin simpan sendiri. Ia terlihat kalem dan lebih santai dari biasanya. Sedikit tersenyum sesekali pada Mark yang mengajaknya mengobrol atau saat menunjuk beberapa objek yang menarik di matanya. Haechan pun yang biasa menjadi teman debatnya mengenai bokong itu ada satu tidak ditanggapi Jaemin. Sanggahan yang biasa ia lontarkan pada Haechan tidak ada.

Haechan pun berhenti berceloteh Dan beralih mengganggu Jeno dengan Mark yang berjalan berdua.

Jaemin menghela nafasnya. Merapatkan jaketnya kala angin berhembus di penghujung malam. Ia melirik arlojinya yang menunjukkan angkat 9. Mark yang tadinya berada di depannya menjadi di sampingnya.

"Hey you okay?" Tanyanya khawatir

"Aku? Oke oke aja kok" tanggap Jaemin sambil mengulas senyum

"Nah gitu dong jangan diem kayak orang sedih" ucapnya mencubit pipi Jaemin gemas.

"YANG~" Panggil Jeno

"Ayo kita ke sana" ucap Mark menggandeng lengan Jaemin menyusul Haechan dan Jeno yang berada di depan menuju kedai minuman.

Tampaknya Jeno Dan Mark sering ke sana hingga tempat sebelah jendela langsung di dapatnya. Tempat tersebut mulai dipadati banyak orang terutama orang asing yang menikmati minuman beer di beberapa gelas besar.

Ketika mereka hendak memesan, Jaemin berkata ingin pergi keluar sebentar menikmati udara luar karena udara pengap di dalam kedai penuh dengan banyak orang.

Jaemin meninggalkan kedai tersebut menyusuri jalan pavin block di sana sambil mengamati keadaan di luar yang berangsur mulai berkurang.

Tak terlalu jauh dari sana ada suara gaduh oleh beberapa pemuda mengundang atensi Jaemin.

"Udah woy Jay dah lo pulang anjir" ucap pria berkulit tan sambil memapah tubuh besar seorang pria yang tengah mabuk.

"Ahkkk Ming gue sedih" ucapnya dengan wajah yang memerah dan terlihat merana itu.

easy to love 1% (2Jae) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang