Event 06

1.5K 131 6
                                        

Setiap hari Senin kenapa Hana selalu merasa lemah letih lunglai lesu begini sih. Padahal setiap Senin pagi sebelum memulai beraktivitas ia sudah melakukan afirmasi positif kalau hari Senin itu tidak ada bedanya dengan hari-hari yang lain.

Selain itu Hana juga sudah memutar lagu lagu dengan vibes ceria supaya moodnya juga ikutan ceria

Tapi kenapa masih belum berhasil juga? Moodnya tetap tidak berubah menjadi lebih baik tuh.

Dengan langkah lunglainya Hana turun ke lantai satu, dan telinganya seketika di sambut dengan lagu berbahasa Jawa yang dinyanyikan oleh trio biang kerok yang Hana tidak tau apa artinya.

"Gapuk meh tumbang tak gawe-gawe dewe....lanjut, Ko!"

"Raiso ngukur kurang kesadaran ku uuu... Anjir lah keren juga gue."

"Giliran lo, Bang, jangan joget-joget doang." Pinta Marko pada Cakra yang sedari tadi asik menggoyangkan badan sambil mengibaskan beberapa lembar uang sepuluh ribuan ditangannya.

"Mana liriknya?"

"Nih," balas Bene sambil mengulurkan ponselnya.

"Kekarepanku yen pancen dadi siji...."

Hana geleng-geleng kepala melihatnya, ditambah logat Jawa mereka bertiga yang terdengar tidak karuan itu.

Di abaikannya live music dadakan yang dilakukan trio biang kerok tersebut, dan dihampirinya gerombolan para wanita yang lebih memilih untuk memakan berbagai snack di pantry.

"Kok kalian pada betah di sini sih?" Tanya Hana usai meneguk habis air putih yang diambilnya.

"Lumayanlah, Han, hiburan." Balas Windy yang diangguki oleh Arin, juga Clara yang ikut menikmati lagu yang tengah diputar.

"Serasa lagi kondangan." Komentar Hana, lalu diputarnya kursi yang didudukinya itu untuk kembali melihat aksi Bene, Cakra, dan Marko yang kini tengah membujuk Dino, Satya, juga Mas Seno untuk bergabung.

"Ayok, Mas! Ditunggu sawerannya!!"

"Jangan diem-diem aja, Sat. Joget lah."

"Yihaa!!"

Apa itu tadi yang dilihatnya?!

Dengan entengnya Mas Seno benar-benar mengeluarkan uang cash dari dalam dompetnya, dan menyerahkan beberapa lembar uang berwarna biru dan merah pada Cakra.

"Udah gila sih kalau ini." Ujar Clara ikut mengomentari lalu bangkit dari duduknya.

Jangan bilang...

"Kalau gini gue juga mau join." Sambungnya kemudian, lalu ikut bergabung dengan mereka.

"Seriously? Mbak, Clara ikutan dangdutan?" Tanya Arin masih tidak percaya, yang Windy balas dengan kekehan.

"Tuh...mana jogetnya gitu lagi. Di pikir lagu ajep-ajep apa?"

Joget yang Windy maksud adalah joget ala lagu disko tahun delapan puluhan.

Sumpah, anak-anak The One sedang tidak baik-baik saja.

"Tolong ambilin keripiknya, Han."

Eh?

Hana seketika mengehentikan tawanya, dan saat mendongakkan kepala, wajah Satya lah yang  langsung didapatinya.

Dan di posisinya sekarang, kepalanya terlihat seperti tengah bersandar pada dada bidang Satya yang hari ini dibalut dengan kaus putih yang tampak melekat pas ditubuhnya.

Sekilas, Hana juga dapat mencium aroma parfum milik Satya yang segar dan berpadu dengan aroma cedar wood.

"Ekhem... posisinya tolong di kondisikan ya, wahai mas dan mbak ku tercinta. Ada anak dibawah umur disini soalnya." Goda Windy di iringi kekehan kecil Arin yang duduk disebelah Hana.

Colleague, Brother or Lover?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang