Event 34

665 71 17
                                        

Satya mengetuk ngetukkan jarinya pada meja.

Matanya tak lepas dari nomor seseorang yang baru didapatnya dari pengelola apartemen tempatnya tinggal.

Haruskah ia bertindak sejauh ini?

Apa tidak apa-apa?

Akankah dia tersinggung kalau mengetahui ia yang bertindak dibalik semua ini?

Satya menghela nafasnya dan memejamkan mata.

Kenapa ia harus serepot ini? Saat Dewa akan pergi saja ia masa bodoh, tapi kenapa sekarang begini?

Kalau Hana memang mau pindah dari apartemennya, harusnya ia senang kan? Karena tidak ada yang akan merepotkannya lagi.

Hah!

Dibukanya matanya. Dan bertepatan dengan Seno yang baru saja kembali dari luar.

"Pusing banget kelihatannya. Lo oke?"

Satya mengangguk dan tersenyum pada Seno.

Seno melirik sekilas pada kartu nama yang ada di meja Satya, membacanya dan mengerutkan dahi, "Klien baru?" Yang dibalas gelengan oleh Satya, sebelum laki-laki itu menyimpan kartu nama tersebut kedalam dompet.

"Bukan. Bukan siapa-siapa. Cuma kenalan."

Satya berdiri lalu mengenakan jaketnya, "Gue pulang duluan ya, Bang."

"Oke."

Kemudian laki laki itu meraih tasnya, menyampirkannya pada bahu sebelum pamit meninggalkan ruangan, menyisakan Seno yang terlihat bingung dengan sikap Satya akhir-akhir ini yang sepertinya terdistraksi oleh suatu hal.

Satya yang baru saja turun dari lantai dua mengedarkan pandangan, suasana kantor terasa begitu senyap. Sudah tidak ada orang. Tumben.

"Udah mau balik lo?" Tanya Dino sambil membenarkan kemeja flanelnya.

Satya mengangguk, "Tumben jam segini udah sepi. Udah pada pulang?"

"Hmm. Pada mau jogging di GBK. Kalau Hana baru aja pulang. Dijemput sama orang, katanya sih kakaknya. Tapi gue nggak liat orangnya, cuma mobilnya doang."

Satya seketika mengerutkan dahi.

Kakak? Dewa, kah?

Lalu mengangguk, "Ohh" tanggapannya singkat.

"Yaudah, gue duluan, No." Pamit Satya yang diangguki Dino.

Hana akhir-akhir ini memang sering pergi dengan Dewa tanpa sepengetahuannya. Bahkan saat di apartemen pun mereka sering menghabiskan waktu berdua. Seolah mengabaikan keberadaannya.

Adik durhaka. Batinnya.

Setibanya didalam mobil, Satya meraih ponselnya hendak menghubungi Dewa. Namun sesaat sebelum menekan tombol dial, ia menghentikan jarinya, dan memilih untuk menyimpan kembali ponselnya.

Satya menyandarkan kepalanya, kemudian tertawa hampa.

"Lo kenapa sih, Sat?" Monolognya sambil mengusap wajah kusutnya.

Tidak, Satya tidak merasa tersisihkan. Bukan begitu.

Hanya saja... Satya hanya ingin tau alasan kenapa Hana sangat tidak ingin dia tau tentang rencana pindahnya.

Satya kan juga kakaknya, sama seperti Dewa. Malahan kalau dipikir-pikir, sepertinya ia terlihat lebih dapat diandalkan, kan, dibandingkan dengan Dewa? Satya juga bisa kok, membantu Hana mencari kosan yang bagus untuk Hana.

Tapi mau bagaimana lagi. Hana memang tidak ingin dia tau. Ya sudah.

"Stop ikut campur. " Satya tersenyum kecut, lalu segera melajukan mobilnya.

Colleague, Brother or Lover?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang