Event 40

1.1K 95 14
                                        

Sepertinya rencana mas Satya berhasil.

Batin Hana dengan matanya yang tak lagi fokus menatap pantulan dirinya yang sedang bersisir pada cermin.

Terbilang tiga hari berlalu dan anak kantor tidak ada yang menggodanya secara berlebihan, selain sesekali menyebut Satya sebagai 'laki lu', 'cowok lo', 'ayang beb lo' pada Hana yang notabene baru saja mendeklarasikan diri menjalin hubungan dengan Satya.

Mengingat kelakuan anak kantor yang selalu heboh dan berlebihan menyikapi suatu hal, hal semacam ini cukup mengejutkan Hana. Rupanya dengan sogokan pizza dan donat dari Satya benar - benar berhasil menutup mulut mereka.

Dan, entah apa yang Satya katakan pada Marko hingga berhasil membuat  laki-laki itu kembali bersikap seperti biasa pada Hana. Tidak benar - benar kembali bersikap seperti sebelumnya memang, namun setidaknya sudah lebih baik dari kemarin. Marko sudah mau mengobrol dengan Hana, menyapanya, dan tidak lagi mengacuhkan keberadaan Hana seolah kasat mata.

Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik membuat sebuah lengkungan tipis.

Hatinya terasa... hangat.

Saat mengetahui ada seseorang yang berusaha sebanyak itu hanya untuk membuatnya merasa aman.

Satya seolah tau apa yang Hana takutkan, risiko apa yang akan mereka hadapi saat mereka benar merealisasikan ide gilanya. Bahkan sebelum Hana sempat memintanya.

Laki-laki itu seolah sudah mencatat perpoinnya serta solusi apa yang dapat mengatasinya.

Penuh persiapan dan matang.

Itulah sosok Satya yang Hana kenal selama ini.

Tak heran Seno begitu percaya padanya.

Di waktu di mana laki-laki itu mengatakan ia akan bertanggung jawab penuh, di saat itulah Hana sudah tau bahwa ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.

Tok! Tok! Tok!

"Han, sarapan yuk!"

Hana seketika meletakkan kembali sisirnya pada meja saat suara Dewa mengembalikan fokusnya.

"Lima menit!" Balasnya singkat.

Dan sesaat sebelum Hana beranjak dari kamarnya, matanya tak sengaja menangkap kertas putih yang sudah beberapa bulan terakhir menghiasi salah satu ruang kosong pada pinboardnya, dengan bertuliskan do's and don't di bagian atas, lalu diikuti dengan beberapa poin peraturan yang ia dan Satya tulis dan juga sudah mereka setujui.

Kertas perjanjian mereka. Yang sepertinya sudah tidak akan berlaku lagi. Atau sebenarnya... memang sudah sejak lama mereka abaikan?

Karena tanpa sadar, tiap-tiap poin pada perjanjiannya sudah mereka langgar satu persatu.

Dimulai dari Satya yang melanggar poin keenam, yang tertulis:

6. Haram hukumnya membocorkan informasi apapun pada orang lain. Terutama anak-anak The One.

Karena pada kenyataannya, laki-laki itulah yang malah membocorkannya sendiri pada Dewa di hari di mana Dewa akan kembali tinggal di apartemen Satya.

Seharusnya pada saat itu Satya harus mendapatkan hukuman kan?

Hana terkekeh kecil. Lalu matanya kembali membaca poin berikutnya. Poin ke tujuh, yang menyatakan,

7. Dilarang ikut campur urusan orang lain.

Yang bahkan sepertinya bukan Satya saja yang melanggar poin tersebut, akan tetapi juga Hana.

Terjadi ketika mereka berdua yang sama-sama saling memanfaatkan satu sama lain demi keuntungan mereka sendiri. Dari mereka yang memanfaatkan keberadaan masing-masing untuk menjadi pacar pura-pura dihadapan orang lain.

Dan kali ini Hana akui, ia sendiri yang memulainya pada waktu ketika ia yang tidak sengaja melihat keberadaan mantan kekasihnya saat ia dan Satya hendak kembali pulang usai membeli sate untuk Dewa. Dan untuk yang kedua kali, saat ia yang tiba-tiba dituduh menjadi selingkuhan mas mas ojol. Kemudian untuk yang ketiga, kali ini baru Satya, dan gilanya, kini mereka akan menjalankannya hingga satu bulan kedepan. Atau mungkin kurang dari itu... atau malah lebih?

Hana tidak tahu.

Hana menghela nafasnya sesaat, kemudian dilepasnya kertas tersebut dari pinboard, dan meremasnya, sebelum membuangnya pada tempat sampah.

"Han, kalau Lo gak keluar keluar, jatah Lo gue yang makan!" Teriak Dewa lagi yang Hana respon dengan decakan pelan sambil menutup kembali pintu kamarnya.

"Iya.. iya!"

Dan setibanya Hana di dapur, dilihatnya Dewa dan Satya yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Yang mana Dewa sudah asik menyantap nasi gorengnya, dan Satya yang menikmati kopi hitamnya. Tak lupa tatapannya yang menyuruh Hana untuk segera duduk tanpa suara.

Tipikal Satya.

Hana mengangguk dan segera menempati kursi tempatnya biasa duduk.

***

Perjalanan menuju kantor tak jauh berbeda dari biasanya. Mobil Satya melaju pelan membelah jalanan ibu kota yang padat. Macet. Seolah sudah menjadi makanan sehari hari, tidak hanya dipagi hari saat jam berangkat kerja, melainkan saat jam pulang kerja sekalipun.

Satya menyetir sambil melirik kaca spion, ekor matanya lalu  tidak sengaja melirik Hana yang duduk disebelahnya dengan tangan bersedekap memeluk tote bag baru perempuan itu yang baru diunboxing kemarin, terlihat tengah manggut-manggut mengikuti irama musik dari radio yang diputar untuk mengisi keheningan.

Satya baru akan membuka suara ketika tiba-tiba saja ponsel Hana berdering. Menunjukkan sebuah panggilan masuk yang entah dari siapa di waktu sepagi ini.

Seketika mata mereka bertemu.

Hana menatap Satya sesaat. Perempuan itu solah meminta izin sebelum menerima panggilan tersebut, yang Satya balas dengan anggukan singkat, lalu setelahnya Satya memutuskan untuk kembali fokus menyetir berlatarkan suara Hana yang tampak serius menanggapi si penelepon.

Dari tanggapan Hana, sepertinya yang menelpon Hana adalah salah satu anak kantor. Karena terdengar perempuan itu mengatakan tentang mesin printer, dokumen, dan tukang fotokopi terdekat yang masih tutup.

Satya mengetuk-ngetuk setir dengan jarinya, lalu melirik kembali Hana saat perempuan itu menyebut namanya dalam percakapan.

"Iya. Gue masih otw...sama Mas Satya."

Lagi-lagi mata mereka bertemu. Yang kali ini Satya tanggapi dengan menaikkan sebelah alisnya, dan perempuan itu jawab dengan isyarat, 'nanti gue jelasin' dengan bibirnya tanpa suara.

"Iyaa... Gue ajak mas Satya keliling bentar buat nyari tempat fotokopian yang udah buka jam segini."

"Iya, Beneeee... Tau gue. Gue masih ada filenya di flashdisk. Aman.. Bye."

Usai dilihatnya Hana menyimpan kembali ponselnya, Satya langsung menodong penjelasan yang Hana janjikan.

"Jadi?"

"Printer kantor error."

"Bukannya kemarin bisa?"

"Sekarang ngga bisa lagi"

"Oh, okay... Terus Bene minta Lo buat ngeprint di luar?"

Hana mengangguk.

Satya mendengus, matanya masih terus fokus menyetir.

"Terus Lo tau tempat fotokopian yang udah buka di jam segini? Ini masih jam tujuh lebih, Han."

Hana menggaruk pelipisnya, perempuan itu tampak sedang mengingat ingat adakah tempat fotokopian yang sekiranya sudah buka di jam segini.

"Uhm..... kayaknya gue tau. Tapi...."

"Tapi?"

"Harus muter balik. Tempatnya deket kosan gue dulu... "

-

Harusnya diup kemarin tanggal 12 pas ulang tahun Sehun. Tapi kemarin nggak sempat dan baru bisanya sekarang.

But it's okay. Iya kan(?) wkwkkw

Once again, happy birthday sehunieeee ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

Colleague, Brother or Lover?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang