Sambil bersenandung kecil, Hana mengamati pantulan dirinya pada cermin lebar yang terdapat di dalam kamar hotel tempatnya menginap.
Dress berwarna putih nampak cantik membalut tubuhnya. Tak hanya itu, rambutnya yang biasanya ia tata seadanya kini juga telah disanggul rapi dengan aksesoris rambut yang menambah kesan manis penampilannya.
Hana tersenyum lebar mengamati tiap detailnya. Simple tapi terlihat begitu cantik dan anggun.
Hana sungguh menyukainya. Mungkin nanti ia akan sedikit mencuri konsep pernikahan yang digunakan oleh papa dan tante Risma.
"Outdoor tapi tetap pakai adat Jawa. Mmmm, bagusan Jogja apa Solo ya?" Ujarnya sambil berandai-andai.
"Solo basahan? Eh, tapi gue nggak mau badan lakik gue di pamerin secara cuma cuma. Gila aja." Ujarnya lagi sambil memanyunkan bibir yang sudah dipoles dengan lipstik berwarna pink nude itu.
Tok..tokk..tok...!!
Hana seketika menghentikan aktivitas mengomelnya saat suara Dewa yang menyerukan nama Satya sembari mengetuk-ngetuk pintu kamarnya dengan begitu brutal tak kunjung berhenti.
Hana berdecak, lalu dengan segera membuka pintu kamarnya tersebut karena tidak ingin mendapatkan komplainan dari tetangga sebelah.
"Lo salah kamar. Satya di kamar sebelah." Jelasnya pada Dewa setelah pintu terbuka.
Sedangkan laki-laki yang kini nampak gagah bersetelan jas serba hitam itu menautkan kedua alis tebalnya, "Lah?" Ditolehnya kamar sebelah, dan setelahnya kembali beralih pada nomor kamar pada pintu kamar yang Hana tempati.
Seingatnya kemarin Satya memilih kamar yang Hana tempati deh? Kenapa tiba-tiba berubah?
"Kalau nggak ada yang mau diomongin, gue masuk lagi ya—
"Eitss!! Bentar elah," potong Dewa sambil menahan pergelangan tangan Hana, mengesampingkan kekepoannya mengapa Satya yang tiba-tiba pindah kamar.
"Nih, gue kasih ke lo aja. Yang ini buat lo, dan yang ini buat Bang Satya." terangnya pada Hana sembari mengulurkan sebuah corsage dan boutonniere yang dirangkai dengan artificial flower bertema kuning, jingga dan merah.
"Eh? Kok gue? Yang ini lo kasih sendiri aja ke Mas Satya nya lah." Tolak Hana mengembalikan boutonniere milik Satya pada Dewa, namun laki-laki itu malah menyerahkannya kembali pada Hana.
"Udah deh, gue titip ke lo aja kenapa sih. Gue buru-buru mau cek sound. Temen-temen band gue udah pada datang. Ya? Oke."
"Tapi—" Baru ingin menyuarakan ketidaksetujuannya mengenai ide yang Dewa usulkan, namun laki-laki itu sudah terlanjur berlari meninggalkan Hana.
"Dewa! Gue belum iyain loh?!" Teriaknya masih tidak bisa menerima.
Dewa yang mendengar teriakkan Hana sontak membalikkan tubuhnya, "Kalau bisa, lo pasangin sekalian biar cepet. Nah habis itu langsung turun kebawah, kalian ditungguin Mama sama Papa, oke? Dah, Hana!"
Hana mendengus dengan mata tertuju pada corsage dan boutonniere yang ada ditangannya.
Jadi sekarang ia harus ke kamar Satya, begitu?
"Ck! Gue sih sebenernya nggak masalah, yang jadi masalahnya itu Mas Satya, dia nya mau apa nggak gue bantu buat pasang ini."
Hana mengendikan bahu, mencoba masa bodo saja, masalah mau atau tidaknya itu terserah Satya. Yang terpenting sekarang ia harus segera memberikan boutonniere ini pada Satya agar ia bisa segera turun ke bawah.
"Mas Satya,"
Tok..tok..tok..!!
"Mas Satya, ini gue Hana." Hana masih terus mencoba memanggil si pemilik nama yang tak kunjung menampakkan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Colleague, Brother or Lover?
ChickLitFrom colleague, became brother, and ended up being a boyfriend? Is it possible? Written in Bahasa
