Event 35

715 83 18
                                        

Beberapa hari terakhir anak - anak kantor sedang mabok drama china. Mentang-mentang sedang tidak ada banyak kerjaan, mereka menghabiskan waktu di kantor untuk marathon dracin.

Padahal Seno sudah mengizinkan mereka untuk kerja dari rumah saja. Tapi setibanya dia di kantor pagi ini, parkiran terlihat full. Ternyata mereka memilih untuk tetap ke kantor. Mereka bilang ingin marathon dracin baru yang direkomendasikan Arin di grup chat semalam.

Seno geleng geleng kepala.

Ada-ada saja.

Dan benar saja. Siang harinya setelah Seno kembali ke kantor usai sempat pergi keluar sebentar, dijumpainya mereka sudah mapan dengan posisi pewe di sofa, dengan berbagai macam camilan entah siapa yang membawa.

Seno baru akan menanyakan sesuatu pada Cakra saat dilihatnya laki-laki bermata belo itu baru saja muncul dari pantry dengan sepiring mie goreng plus telur dan irisan cabai yang masih mengepulkan asap, "Web perusahaan udah beres. Udah di approved Satya juga. Santai. " Lapor Cakra yang dibalas Seno dengan anggukan.

"Oke."

Seno memang tidak memberikan aturan yang terlalu ketat di kantornya. Asal kerjaannya beres, setelah itu terserah mau apa. Anak-anak bekerja dengan senang, maka hasil yang akan di dapat juga akan lebih maksimal. Itu prinsipnya.

"Lo nggak mau join?" Tanya Clara.

"Ntar deh. Btw, Satya di atas?"

"Iya, kayaknya. Lagi sama Dino."

Seno mengangguk, "Ya udah gue ke atas dulu." Pamit Seno sebelum berlalu meninggalkan rombongan pecinta dracin itu.

Windy baru akan memulai kegiatan marathon dracin mereka, ketika tiba-tiba saja Bene dan Marko datang dengan rusuhnya sambil memanggil-manggil nama Hana.

Sontak si empunya nama menautkan alisnya bingung.

"Apa sih?"

Marko mengerucutkan bibirnya saat matanya menatap Hana yang kini sedang duduk santai sambil ngemil keripik disofa.

"Kok mbak Hana tega banget."

"Gue? Tega banget kenapa?" Hana semakin mengerutkan dahinya saat dilihatnya wajah kusut Marko yang terlihat seperti baru saja putus cinta, serta heran terhadap tuduhan melakukan suatu hal tega pada laki-laki itu.

"Lo apain anak orang, Ben?" Tuduh Hana pada Bene yang sekarang malah bisik-bisik pada Clara, Windy, dan Arin.

Sedangkan Cakra yang posisinya duduk di sebelah Hana, enjoy menikmati mie gorengnya, hanya menaikkan sebelah alisnya bingung. Sedang mencoba mengira-ngira sebenarnya apa yang sedang terjadi.

"What?!!"

"OMG!!"

"Hah?! Sumpah Lo, Ben?!"

Tiga perempuan yang baru saja dibisiki Bene entah tentang apa itu tiba-tiba saja memekik secara bersamaan.

Membuat Hana dan Cakra mengalihkan perhatiannya yang semula pada Marko yang tiba-tiba saja merajuk pada Hana, pada keempat orang yang kini menatap Hana dengan wajah ... shock?

Sebenarnya apa sih yang Bene katakan pada mereka.

"Ada apa sih?" Tanya Cakra ingin tau.

"Gila lo jadian sama Satya nggak ngomong-ngomong ke kita, Han." Ujar Windy bagai badai di siang hari.

Apa?!

"Hah?" Hana membulatkan matanya.

"Apa sih? Ngaco." Matanya seketika melirik Bene yang kini ikut-ikutan menatapnya tidak percaya.

Colleague, Brother or Lover?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang