Malam semakin larut, dan hujan yang turun sejak satu jam yang lalu masih belum menampakkan tanda akan segera reda.
Lelaki di balik kemudi, yang tak lain adalah Satya sesekali mengencangkan genggamannya pada setir, sementara matanya bergerak cepat mencari-cari seseorang dari balik kaca jendela mobilnya yang mengembun. Sesekali melirik ke kaca spion dan kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan yang terkena sorot lampu mobilnya yang melenggang ditengah hujan deras.
Diusapnya wajahnya yang nampak suram itu.
Mencari seseorang tanpa petunjuk, sama saja seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Satya menghela nafas lelahnya entah untuk yang kesekian kali. Suara wiper mobil yang bergerak cepat menjadi teman setianya kali ini.
Setiap ponselnya bergetar, ia berharap nama Hana lah yang muncul, dengan diikuti pesan yang berisi satu dua kata yang setidaknya dapat meredakan kecemasan yang menggerogotinya sejak sore tadi.
Namun nihil. Bukannya nama perempuan itu yang muncul, melainkan malah nama Dewa lah yang sedari tadi mengiriminya pesan yang belum sempat ia baca.
Satya hanya melirik sesaat, sebelum matanya kembali fokus pada jalan. Terus melajukan mobilnya dengan harapan dapat segera menemukan Hana.
Kantor. Satu-satunya harapannya yang tersisa.
Entah kenapa Satya merasa Hana ada disana.
Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, Satya segera melenggang turun dari mobil, mengabaikan rintik air hujan yang mengguyur tubuhnya.
Dlihatnya lampu kantor yang menyala temaram dari balik pintu kaca. Didorongnya pelan dan mendengus saat menyadari pintu yang tidak terkunci.
Satya berdecak.
Kapan Hana akan belajar untuk mengurangi sikap cerobohnya yang sudah mendarah daging itu?
Satya menutup kembali pintu tanpa suara. Melangkah perlahan dengan mata mengedar kesepenjuru kantor yang hanya diterangi oleh cahaya lampu di area sofa.
Hingga ditemukannya orang yang dicari-carinya, orang yang berhasil membuatnya kelabakan hingga tidak bisa tenang dirumah, tengah santai tidur tengkurap di sofa dengan berselimutkan sleeping bag yang dibuka seluruhnya, sedang tertawa tawa tanpa beban sambil menonton series dari laptop dihadapannya.
Satya berkacak pinggang, mendengus sambil mengusap rambut dan wajahnya yang lembab akibat terkena air hujan.
Ternyata hanya dia yang khawatir berlebihan, ya?
Satya menunduk di samping sofa, dan perlahan melepas satu earphone ditelinga kiri Hana, yang berhasil membuat perempuan itu terperanjat.
"Pesan dan panggilan dari gue nggak lebih penting dari series Lo itu ya?"
"Mas Satya?! Kok...Kok bisa?"
Satya mengendikkan bahunya, lalu beringsut duduk usai Hana merubah posisi tengkurapnya menjadi duduk.
"Ya, bisa." Balas laki-laki itu singkat. Matanya tak beralih sedikitpun, masih menatap Hana yang duduk disebelahnya masih dengan sleeping bag menyelimuti sebagian kakinya.
"Di kasih tau mas Seno?"
Satya menaikkan sebelah alisnya. Jadi mas Seno tau Hana di kantor malam ini?
Lalu Satya menggeleng menanggapi pertanyaan yang Hana ajukan. Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa lalu menopang satu kakinya ke atas pahanya yang lain.
"Kenapa nggak pulang? Gue pikir Lo langsung pulang tadi. Tapi pas gue balik, Lo nya nggak ada dirumah. Terus sekarang Lo malah ada di kantor." Ujarnya panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Colleague, Brother or Lover?
Chick-LitFrom colleague, became brother, and ended up being a boyfriend? Is it possible? Written in Bahasa
