Event 31

748 101 29
                                        

Tepat pukul setengah dua siang. Jam jam rawan ngantuk. Waktu yang tepat untuk apa? Ya. Ngopi.

Satya segera mengambil ponselnya dan menyimpannya kedalam saku celana sebelum laki-laki itu mengayunkan kaki keluar dari ruangan tempatnya bekerja.

"Kalau ada yang nyari gue, gue keluar bentar beli kopi." Ujarnya pada Bene yang kebetulan berpapasan dengannya di tangga.

"Oke."

"Eh...Sat, beli kopi?" Tanya Bene lagi yang diangguki Satya.

"Di cafe biasa?"

Satya lagi-lagi harus menghentikan langkahnya.

"Nggak. Cafe depan. Lagi males pergi jauh gue."

Bene mengangguk dan tersenyum. Namun kali ini diikuti dengan sebelah alis terangkat.

Satya paham betul apa maksudnya. Lalu berdecak.

Bene terkekeh pada akhirnya, "Kenapa? Bukannya lo paling demen sama kopi di cafe yang biasanya?"

Satya mendengus dan berdecak lagi setelahnya. Bukannya membalas Bene, Satya lebih memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga.

Bene tak dapat lagi menahan tawanya.

"Eits...wait, chill! Bercanda, anjir. Baperan amat pak"

Laki-laki berkacamata itu akhirnya mengurungkan niatnya untuk naik kelantai dua, dan malah membuntuti Satya kembali kelantai bawah.

"Ke cafe yang biasanya aja dong, Sat. Gue sekalian mau nitip."

Satya lagi lagi mendengus, "Males."

"Yailah, enakan kopi di sana, Sat."

"Yaudah beli sendiri aja."

Bene berdecak.

Muka masam Bene lantas menjadi perhatian Windy yang baru saja kembali dari luar bersama dengan Hana.

"Kenapa deh?"

Bene mengedikan dagunya pada Satya yang menampilkan wajah tanpa bersalahnya.

"Tuh, takut sama cegilnya."

Satya sontak memelototi Bene, "Hoax. Gue nggak takut."

"Laki yang dipegang omongannya, Sat."

"Ngomongin apaan sih kalian?" Kini Cakra yang menyahuti. Laki-laki tinggi itu baru saja turun dari lantai dua. Niatnya ingin membantu Windy dan Hana membawa stock kertas HVS yang baru dibeli.

"Ini, si Satya, mau beli kopi. Gue mau nitip nggak di bolehin."

"Ngaco. Kapan gue bilang begitu?" Satya berdecak. Dan akhirnya memilih menyerah.

"Yaudah, iya, gue beli di cafe biasanya. Lo mau nitip apa jadinya?"

Yang tentunya membuat Bene tersenyum penuh kemenangan.

"Biasa. Yang sama paket brunch itu. Yang ada toast nya." Balas Bene.

"Hmm. Ada yang mau nitip lagi?" Tanya Satya melirik teman-temannya yang lain. Sudah terlanjur basah kan? Sekalian saja.

"Gue dong. Caramel macchiato ya, Sat. Thank you." Ujar Clara. Yang sebenarnya sedari tadi menyimak perdebatan mereka disela-sela meeting via zoomnya dengan client beberapa saat lalu.

Satya mengangguk. "Lo sekalian nggak?" Tanya Satya pada Dino yang duduk di sebelah Clara.

"Boleh deh. Iced latte no sugar."

Satya lagi lagi mengangguk. Baru akan melangkah namun Windy kembali menginterupsinya.

"Gue, gue! Kopi gula aren dong, Sat."

Colleague, Brother or Lover?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang