Hana terlihat murung hari ini. Dan itu bukan sekedar asumsi Satya seorang, anak anak yang lain juga menyadarinya. Yang jadi masalah, kejadian itu bertepatan setelah beberapa hari usai pengakuan 'hubungan' mereka. Jadilah anak-anak seketika mengaitkan kemurungan Hana itu dengan Satya—yang saat ini menyandang status sebagai pacarnya.
Satya yang tidak tau menahu penyebab kemurungan Hana hanya bisa mengiyakan dan mendengarkan omelan serta wejangan dari backingan 'pacar' nya itu. Mulai dari Clara dan Windy yang entah sudah berapa kali menanyakan keseriusan Satya pada Hana dari pagi sampai jam pulang kantor. Arin yang meminta Satya untuk introspeksi diri apakah sudah menjadi pacar yang baik. Hingga Marko yang mengancam—entah serius atau bercanda—akan mengambil alih perannya untuk menjadi pacar Hana kalau Satya memang tidak sanggup membahagiakan perempuan itu. Seolah masih menaruh dendam karena Satya menikung laki laki bertindik itu. Dan Satya yang sebenarnya sama bingungnya seperti anak anak yang lain hanya bisa nyengir kecut mendengar semua itu sambil mengangguk-angguk bagai orang bodoh.
Ibaratnya, ia seperti menjadi korban salah tangkap yang langsung dijadikan tersangka, lalu digebuki massa tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Padahal kenyataannya ia benar-benar tidak tahu salahnya apa. Tapi mau bagaimana lagi. Yang mereka tahu Satya dan Hana berpacaran, lalu mereka melihat Hana galau, dan secara otomatis mereka akan menyimpulkan kalau Satya lah penyebabnya. Masuk akal.
Tapi jujur saja. Satya memang sungguh tidak tahu apapun. Hana tidak mengeluhkan atau mengatakan apapun padanya sebelumnya. Pagi ini mereka hanya berangkat bersama seperti biasa. Satya juga tidak merasa mengatakan hal yang mungkin dapat menyinggung perasaan perempuan itu. Lalu ditengah perjalanan menuju kantor, Bene mengatakan mesin printer kantor rusak, jadilah mereka mampir ke tukang fotokopian dekat kosan Hana dulu. Dan—tunggu!
Satya menautkan kedua alis tebalnya saat ia merasa berhasil menemukan potongan puzzle yang selama ini ia cari.
Hana tampak biasa saja sedari awal perjalanan mereka dari apartemen. Bahkan sempat bernyanyi mengikuti lagu yang terputar di radio. Namun setelah sekembalinya mereka dari tempat fotokopian, Satya memang merasa ada perubahan drastis dari suasana hati perempuan itu, yang bahkan berlanjut hingga saat ini, mungkin?
Tapi kenapa? Bagaimana bisa? Atau memang benar ada hubungannya antara kemurungan Hana dengan tempat fotokopian yang mereka kunjungi tadi pagi?
Satya menghela napas, lalu diperhatikannya hasil goresan tangannya pada kertas kosong yang kini bertuliskan, 'Hana - Tempat fotokopi (?)'.
Apakah sesuatu terjadi di sana? Atau ini memang murni kesalahannya tapi dia tidak menyadarinya?
Satya mengusap wajah kusutnya. Tidak menyangka kemurungan Hana dapat membebani pikirannya sampai sejauh ini.
Harus kah Satya menanyakan langsung pada 'pacarnya' Itu?
Ya, sepertinya dia harus. Daripada tidak bisa tidur karena terus memikirkannya kan?
"Oke" ujarnya final.
Tanpa ba-bi-bu, laki-laki itu bangkit dari kursi kerjanya dan melenggang keluar dari kamar menuju ruangan sebelah, kamar Hana.
***
Rasanya aneh. Ketika mengetahui orang yang ia pikir merupakan salah satu teman, sahabat, bahkan sudah ia anggap menjadi kakaknya sendiri justru malah menjadi alasan ia diusir dari tempatnya tinggal dengan tega memfitnahnya.
Dari sekian banyak orang, kenapa harus dia orangnya? Dan apa alasannya melakukan semua itu pada dirinya? Hana ingin tahu.
Apakah persahabatan dan kedekatan mereka dulu tidak ada artinya? Atau hanya dirinyalah yang benar benar menganggap hubungan mereka lebih dari tetangga sebelah? Sedangkan Nara tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Colleague, Brother or Lover?
ChickLitFrom colleague, became brother, and ended up being a boyfriend? Is it possible? Written in Bahasa
