"Jadi?"
"Oke, lo boleh tinggal sama gue lagi. Tapi lo harus janji satu hal."
Dewa memiringkan kepala untuk menatap wajah kakak laki-lakinya yang berdiri di sisi samping mobilnya itu, bersandar pada pintu tepat di samping pengemudi.
Kakaknya itu sangatlah sopan memang. Membiarkan tamunya berkunjung tanpa menyuruhnya masuk dan lebih parahnya lagi tidak mengizinkannya untuk turun dari mobil.
Batin Dewa, ada yang tidak beres dengan kakaknya.
"Lo aneh banget hari ini. Dari yang gue nggak boleh langsung nemuin lo di apartemen lah. Terus ini juga harus janji janji apaan. Lo....nyembunyiin cewek di apart, Bang?"
Pasti ulah Cakra.
"Mulut lo! Lo di kasih tau apa sama si Cakra?"
Dewa terkekeh, "Ya, menurut lo apa lagi?"
Satya mendengus.
Pagi ini jadwal liburnya kacau karena ulah Dewa yang menelponnya pagi-pagi buta. Dan mengatakan akan pulang ke apartemennya lagi.
Gila.
Mendengar hal itu jelas berhasil membuat rasa kantuk Satya hilang entah kemana.
Apartemennya hanya memiliki dua kamar. Lalu adiknya akan kembali lagi, padahal kamar Dewa itu kini sudah ada penghuni barunya. Siapa lagi kalau bukan Hana.
Lalu ia harus apa? Mengusir Hana? Jelas tidak mungkin.
"Ck! Lo udah otw?"
"..."
"Lo nunggu di lobby. Gue bakal turun. Dan lo, jangan berani langsung ke apartemen sebelum ada gue."
Tut!
Usai mematikan panggilan, Satya segera bangkit dari tempat tidurnya. Mencuci muka dan berganti pakaian dengan baju olahraga. Padahal hari ini bukanlah jadwalnya untuk berolahraga. Tapi entahlah, feeling-nya mengatakan untuk mengenakannya saja.
Dan benar saja, saat mengenakan sepatu, Hana tiba-tiba keluar kamar sambil mengucek matanya yang masih terlihat sembab itu.
Dapat dilihatnya Hana yang menatapnya sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang.
Seolah Satya yang mengenakan pakaian olahraga di hari Minggu adalah suatu hal yang aneh dan langka.
"Ini hari Minggu." Ujar Hana membuka suara.
"Ya memang." Balas Satya sekenanya. Gugup. Karena jujur saja ia merasa seperti sedang tertangkap basah sedang melakukan kesalahan. Padahal nyatanya tidak.
"Gue ada janji mau joging sama tetangga sebelah." Jelasnya spontan.
Tetangga sebelah siapa?
Satya totol!
Satya sungguh ingin menampar bibirnya yang berbicara sembarangan itu. Tapi mau bagaimana lagi. Hanya itu yang terlintas di pikirannya tadi.
Lupakan ketololan Satya pagi tadi. Mari fokus pada percakapannya dengan Dewa sekarang.
"Gue tinggal sama Hana." Aku Satya setelah mempertimbangkannya cukup lama.
"Hah? Lo apa?" Dewa terkejut bukan main. Bahkan sampai menolehkan kepala kelewat cepat.
"Lo nggak budeg." Satya menyandarkan tubuhnya pada mobil Dewa.
"Udah sebulan." Jelasnya lagi.
"Terus?" Tanya Dewa mulai antusias.
"Nabrak."
Dewa berdecih, "Basi, Bang! Ayolah! Terus, maksudnya.. kok bisa?"
Satya mengendikkan bahunya, "Gue sama Hana sebenernya satu tempat kerja. Dia anak The One juga."
"Woah!! Kok gue nggak tau? Padahal gue sering mampir."
"Nggak jodoh berarti." Sahut Satya bercanda.
"Terus jodohnya sama lo, gitu?"
Satya melempar topinya pada Dewa yang dapat adiknya tangkap dengan baik.
"Lo mau pindahan jam berapa?" Tanya Satya memastikan. Usai mejelaskan alasan mengapa Hana bisa tinggal bersama dengannya pada Dewa. Melewatkan kasus foto tidur bersamanya dengan Hana tentu saja. Karena pikirnya Dewa tidak perlu tau sejauh itu. Cukup dengan alasan Hana yang harus pindah kos, dan Satya yang menawarkan tumpangan. Cukup sampai disana. Dan untungnya Dewa tidak menuntut lebih jauh.
Dewa tampak berfikir sejenak sembari mengetuk-ngetukkan jarinya pada setir mobil, "Hmmm, ntar siang. Sekitar jam sepuluhan?" Yang dibalas Satya dengan anggukan.
"Tapi seriusan gue nggak apa-apa balik lagi ke apart?"
Satya memutar bola matanya, "Ya terus lo mau ke mana lagi? Ke rumah nyusul nyokap?"
"Ya nggak lah!"
"Yaudah. Yang penting lo jangan ngomong ke siapapun tentang Hana yang tinggal bareng gue." Satya menegakkan tubuhnya kembali. "Gue cabut dulu." Pamit Satya pada akhirnya meninggalkan Dewa yang hendak kembali untuk mengemasi barang-barang dari basecampnya yang katanya masih perlu di renovasi ulang.
Merepotkan saja.
***
"Minggu depan kalian semua free kan?" Pertanyaan dari Seno yang baru saja nimbrung ke pantry kantor berhasil mencuri atensi semua orang.
Wajah wajah penuh harap dari teman-teman kerjanya itu sungguh membuat Seno ingin menjahili mereka.
Sesekali tidak apa, bukan?
"Kita bakalan lembur ya guys. Ada project gede."
Dan benar saja. Wajah senang penuh harap mereka seketika berganti dengan wajah lesu nan datar.
"Lagi?" Tanya Clara.
"Event apa lagi?" Sahut Dino yang tadinya sibuk memasak ramen instan atas paksaan Clara dan Windy, namun berujung dengan semua orang ingin dibuatkan juga.
"Nanti juga kalian bakal tau."
Cakra dan Bene berdecak secara bersamaan.
"Spill dikit lah, Bang." Bujuk Marko yang tetap tidak membuahkan hasil.
"Pokoknya jangan lupa bawa baju ganti sama keperluan pribadi. Takutnya kita bakal lembur sampe malem atau bahkan harus nginep."
Bene yang mencium aroma-aroma mencurigakan seketika memicingkan mata sipitnya, "Nggak bener nih. Ada yang nggak beres." Yang diangguki oleh hampir seluruh teman-temannya, kecuali Seno, dan Satya yang baru saja turun dari lantai dua namun langsung di suguhi dengan tatapan tajam dari teman-temannya.
"Apa? Kenapa pada melototin gue? Gue nggak tau apa-apa."
"Demi apa?" Tuntut Cakra.
"Demi apa? Nggak demi apa-apa." Satya mendekati Seno, berniat meminta pertolongan. Namun bosnya itu malah mengangkat kedua tangannya ke udara seolah lepas tangan.
"Cmon, man! Kita nggak bisa di giniin." Ucap Marko mulai tidak sabaran. Feeling-nya mengatakan kalau saat ini bosnya itu sedang menyembunyikan sesuatu.
"Oke...oke. Yang tadi gue cuma bercanda." Seno akhirnya tertawa. Rasanya sudah cukup mengerjai mereka dan sampai harus menumbalkan Satya.
"Minggu depan kita bakalan outbound."
"DEMI APA?!"
"Iya, kita bakalan ke Bandung. Berangkatnya Sabtu siang. Oke?"
"Oke mas!!" Balas Arin mendahului yang lainnya, kelewat bersemangat bahkan sampai membuat Hana hampir tersedak saat mengicip kuah ramen.
"Udah cair?" Tanya Satya usai Seno selesai dengan deklarasi liburan mereka itu.
"Udah. Dapat bonus tambahan juga malah."
-
Di part ini Hana lagi mode kalem gais.
Selamat berpuasa!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Colleague, Brother or Lover?
Genç Kız EdebiyatıFrom colleague, became brother, and ended up being a boyfriend? Is it possible? Written in Bahasa
