"Guys, ngumpul yuk ada makanan nih!"
Teriak Bene yang baru saja dari luar. Bilangnya tadi sih mau nyari angin, tapi saat kembali empat box makanan sudah ada dikedua tangannya.
"Donat sama pizza. Siapa yang mau resign?" Tanya Cakra yang sudah terlebih dahulu mencomot dua slice pizza yang langsung dilahapnya.
Bene mengendikkan bahu, "Kayaknya bukan dalam rangka resign. Tadi abang kurirnya bilang, pesanan atas nama Satya. Ya kali Satya tiba-tiba mau resign."
Cakra mengangguk angguk dengan mulutnya yang masih sibuk mengunyah pizza.
"Widih! Donat!" Sela Arin usai menempati kursi kosong di sebelah Cakra dan langsung menyambar donat dengan toping pistachio diatasnya.
"Traktiran siapa? Seno?" Kini giliran Clara yang bertanya, perempuan itu baru saja ikut bergabung bersama Windi dan Hana.
"Si Satya" balas Cakra singkat, mulutnya masih penuh mengunyah pizza.
"Tumben banget."
"Si Satya? Mau resign?" Windi mengerutkan keningnya.
Yang lagi lagi dibalas Bene dengan mengendikkan bahunya, "Coba ntar tanya orangnya langsung aja deh. Orangnya masih bertapa di atas"
"Geser dikit dong, Bang" kini giliran Marko yang berebut kursi dengan Dino.
"Yaelah, kursi sampingnya mbak Hana nya lo masih kosong, tuh." Sahut Windi pada Marko yang tanpa diduga hanya ditanggapi oleh brondong satu itu dengan wajah datar, dan bahkan tanpa melirik pada Hana yang ada di seberang meja tempat laki-laki itu duduk. Berbeda sekali dari biasanya.
Hana yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecut.
Marko sekecewa itu kah padanya?
Sedangkan Dino yang paham akan situasinya hanya menggeleng gelengkan kepala. Namun setelahnya menepuk punggung Marko pelan dan memilih untuk mengalah dan membiarkan Marko menempati kursinya.
"Kasihan. Sad boy, eh?" Ujar Dino kelewat jujur yang membuat Arin dan Cakra tidak sanggup menahan tawanya saat dilihatnya Marko semakin menekuk wajah.
"Bang!"
"Bercanda." Dino lagi-lagi menepuk punggung Marko dengan senyuman tengilnya, "Masih banyak kok ikan di lautan."
"Tapi gue maunya cewek, bang. Bukan ikan."
"Yeu! Itu perumpamaan doang, Komar!" Sungut Cakra yang sudah bersiap akan melempar topi yang dikenakannya pada Marko.
"Santai... santai!" Teriak yang lainnya mencoba menenangkan.
Namun yang terjadi setelahnya malah sebaliknya. Suasana ruang tengah kantor bukannya menjadi lebih tenang, tapi yang ada malah semakin ramai dengan senda gurau dan keusilan anak-anak The One yang sibuk menghabiskan makanan traktiran dari Satya yang entah dalam rangka apa.
Hingga tiba-tiba kalimat Arin berhasil mencuri atensi anak-anak The One.
"Kalian pada kepikiran nggak sih, kalau mungkin aja traktiran Mas Satya ini dalam rangka........" Arin sengaja menjeda kalimatnya, dan pandangannya kini mengarah pada Hana.
"Apa? Apa hubungannya sama gu-" Hana belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ketika akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud oleh Arin.
Brak!
"Oh! Gue tau!" Ucap Bene kelewat bersemangat usai menggebrak meja.
"Pajak jadian! Iya kan?!" Lanjut Bene.
"Eh, iya loh!"
"Woi, tolong empatinya dong. Ada yang makin patah hati ini" Cakra menunjuk Marko yang terlihat berhenti menyuap pizza. Seolah sudah kehilangan nafsu makannya saat mengetahui kalau makanan yang disantapnya adalah hasil traktiran dari pajak jadian mbak Hana nya dengan pria lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Colleague, Brother or Lover?
Romanzi rosa / ChickLitFrom colleague, became brother, and ended up being a boyfriend? Is it possible? Written in Bahasa
