Event 33

665 78 14
                                        

Satya menatap jam tangannya.

16.45

Dan kedua adiknya masih belum juga tiba di rumah. Padahal mereka berdua pergi sudah dari enam jam yang lalu. Papa dan mamanya pun sudah tampak gelisah menunggu kabar dari mereka berdua.

Satya berdecak.

Diambilnya ponselnya dan mencoba menghubungi salah satu dari mereka. Entah untuk yang keberapa kali. Namun hasilnya tetap sama.

Tidak ada satu pesan dan panggilannya yang dijawab.

"Jangan bilang Lo kecelakaan lagi, Wa." Satya mendumel sambil terus mengirim pesan pada mereka berdua.

Yang kemarin saja baru sembuh. Jangan sampai Dewa membuat masalah lagi. Terlebih kali ini Dewa bersama dengan Hana.

"Udah ada kabar, Bang?" Tanya mamanya yang kini ikut menyusul ke halaman belakang.

Satya menggeleng.

"Mungkin macet. Jangan mikir yang nggak-nggak, Bang." Ujar mamanya lagi, kali ini sambil mengusap bahu Satya, mencoba menenangkan.

Namun Satya tau. Sebenarnya kalimat itu ditunjukkan untuk Mamanya sendiri. Orang tua mana yang tidak gelisah dan panik saat anaknya tidak ada kabar seperti ini.

Satya mengangguk dan meraih tangan mamanya. Digenggamnya tangan perempuan itu, diremasnya pelan, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Hingga suara papanya yang seperti sedang memarahi seseorang terdengar dari dalam rumah.

Hal tersebut jelas membuat Satya dan mamanya seketika menuju ke sumber suara itu berasal.

"Kamu dari mana?" Suara tegas papanya membuat Satya yang baru saja memasuki rumah ikut terdiam. Matanya melirik Hana dan Dewa yang berdiri dengan kedua tangan mereka yang masih penuh dengan kantong belanjaan.

Dewa melipat bibirnya. Laki-laki itu nampak ciut. Dan Hana sendiri hanya dapat menunduk mendengarkan omelan sang papa.

"Hana... Papa tanya kamu dari mana? Nggak mungkin cuma dari supermarket aja kan? Dari supermarket kerumah nggak mungkin perlu waktu setengah hari."

Hana mengangguk.

"Maaf, Pa. Hana yang salah. Aku yang ngajak Dewa...mampir sebentar buat main. "

Dewa mengerutkan keningnya. Hendak menyangkal perkataan Hana yang malah menumbalkan dirinya sendiri.

Dewa mendengus.

Kok jadi gini? Batin laki-laki itu.

Kan Dewa jadi terlihat seperti seorang pecundang.

Tapi mau bagaimana lagi.

Dewa sudah terlanjur janji pada Hana untuk mengikuti alur apapun yang dibuat oleh perempuan itu.

"Lain kali, kalau mau pergi atau pulang terlambat, kasih kabar."

" Papa tau kamu sudah dewasa, Hana. Tapi nggak ada salahnya kan ngasih kabar?"

"Papa cuma punya kamu, Hana. Kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu. Papa nggak tau harus bilang apa ke mamamu nanti. Kamu ngerti maksud Papa kan?"

Hana lagi lagi mengangguk. Sambil terus mengatakan kata maaf.

Papanya marah besar. Dan baru kali ini Hana mendengarnya lagi setelah sekian lama.

Terakhir kali adalah saat ia nekat ikut pendakian saat kuliah dulu. Dan papanya sampai harus menyusulnya ke basecamp dan memarahinya habis-habisan sesampainya kembali ke rumah.

Colleague, Brother or Lover?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang