Event 42

709 74 37
                                        

Suara sendok beradu dengan piring terdengar jelas, menjadi satu-satunya musik pengiring di meja makan malam ini. Tidak ada percakapan berarti, hanya gumaman singkat dari sang mama yang menawari lauk pada Hana, Satya dan sang papa. Minus Dewa yang katanya ada urusan dan tidak bisa pulang.

Hana dan Satya sedang berada di rumah. Memang tidak direncanakan sebelumnya. Karena kenyataannya, keberadaan mereka di sana adalah permintaan dari mama yang tiba-tiba saja menelpon Satya di tengah perjalanan pulang kantor dan meminta mereka untuk makan malam bersama.

Di sini lah mereka sekarang. Menikmati suasana makan malam keluarga yang diadakan secara dadakan ini.

Hana duduk berseberangan dengan Satya. Laki-laki itu terlihat santai menikmati makan malamnya sambil sesekali berbicara pada papanya—ralat—papa mereka. Dan sesaat, dari balik kepulan asap sayur hangat, tatapan mereka sempat bertemu, namun Hana buru-buru menghindar, dan pura-pura sibuk dengan ayam goreng pada piringnya.

"Gimana kerjaannya?" tanya mama tiba-tiba.

Namun siapa sangka pertanyaan itu justru membuat napas keduanya tercekat, padahal sebenarnya pertanyaan itu adalah pertanyaan yang wajar ditanyakan ibu pada anaknya. Akan tetapi lain halnya bagi Hana dan Satya, karena pertanyaan tersebut terdengar seperti jebakan. Seolah-olah jawaban yang mereka berikan akan menjadi penentu nasib mereka berdua nantinya. Terlebih lagi, kedua orang tua mereka belum tau kalau mereka bekerja di tempat yang sama.

"Sejauh ini aman, Ma. Bakal ada project luar kota buat bulan depan. Jadi kantor agak sibuk" jawab Satya akhirnya.

Mama dan papa manggut-manggut.

"Loh, Hana, bukannya kamu kemarin bilang kalau kantor mu ada project luar kota juga bulan depan?" Tanya papanya.

Aduh! Mati aku.

Batin Hana.

Hana tersenyum dan mengangguk, "...Iya, pa. Ha ha ha. Kebetulan banget ya." Balasnya, lalu menunduk, pura-pura sibuk mengaduk nasi. Berharap papanya tidak menanyakan hal itu lebih jauh. Karena Hana tidak mau menambah kebohongan kebohongan lainnya. Setiap gerakannya terasa kaku, apalagi saat menyadari tatapan seseorang dari seseorang di seberangnya.

"Oh iya, mama kemarin ngirim makanan ke kosanmu. Tapi kok kata mas ojeknya kamu pindah kosan? Masnya dapat informasi dari satpam yang jaga. Emangnya bener?"

Aduh! Mati aku. (2)

Tangan Hana refleks meraih gelas, meneguk air lebih banyak dari yang seharusnya.

"I-iya, Ma... Hana pindah kosan," jawabnya pelan. "Soalnya... biar lebih dekat sama kantor. Biar hemat ongkos juga."

Ia berusaha menampilkan senyum tipis, padahal jantungnya berdebar tak karuan. Hana bisa merasakan tatapan Satya dari seberang meja, seolah sedang menunggu isyarat dari Hana apakah ia harus turun tangan membantunya atau tidak.

"Bagus dong kalau dekat kantor. Lebih praktis," sahut papa enteng, lalu kembali menyendok sayur.

Suasana sempat mereda. Namun Hana tahu itu hanya jeda singkat sebelum badai berikutnya. Dan benar saja-mama tiba-tiba menoleh, menatap Hana lagi.

"Di daerah mana?" suara mama terdengar ringan, tapi bagi Hana terasa seperti gemuruh petir.

Aduh! Mati aku. (3)

Sendok di tangan Hana hampir terlepas. Ia buru-buru menunduk, pura-pura sibuk mengunyah, seolah memperlama jeda untuk memberikan jawaban. Dari sudut mata, ia melihat Satya tersenyum tipis sebelum akhirnya berdehem singkat menarik perhatian kedua orangtua mereka.

"... Di apartemen ku, ma."

Hana sontak memelototi Satya, seperti sedang mengatakan—APA-APAAN?!—melalui sorot matanya, yang dibalas laki-laki itu dengan mengangguk tipis seolah meyakinkan Hana bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Hana pindah ke unit apartemen di depan unitku, ma, pa. Maaf Kemarin lupa ngasih tau. Aku pikir Hana udah ngabarin... Eh, Ternyata belum ya?" Imbuh Satya kelewat santai. Seolah tidak baru saja menjatuhkan bom bunuh diri melalui ucapannya.

Sedangkan Hana masih menatap Satya tidak percaya. Hampir saja ia pikir laki-laki itu akan membocorkan rahasia mereka. Iya sih tidak membocorkan. Tapi nyatanya laki-laki itu malah membuat situasinya semakin rumit.

Pindah ke unit apartemen di depan unit Satya?

Gila.

Mana mungkin papanya percaya Hana punya uang sebanyak itu untuk sewa apartemen.

Kali ini Hana dapat katakan kalau Satya salah langkah.

Hana mendengus meratapi nasibnya.

Entah kebohongan apalagi yang harus mereka lakukan untuk menutupi kebohongan-kebohongan sebelumnya.

"Kebetulan yang punya lagi keluar negeri beberapa bulan dan aku kenal orangnya. Dan beberapa hari setelahnya ternyata Hana ngechat, nanya tentang kenalan yang punya kosan atau info kosan. Jadi ya.... Menurut ku kenapa nggak sewa unit apartemen tetanggaku aja kan? Dan..ya, aku sewa buat Hana. " Jelas Satya lagi memperkuat argumennya.

Skakmat!

Hana salah.

Karena tanpa Hana tau. Satya sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari.

***

Hana berbaring di ranjang, sudah bersiap akan tidur. Namun pikirannya berputar tak karuan, memutar ulang setiap detik momen makan malam tadi.

Pertanyaan mama, tatapan papanya, dan terutama perkataan Satya yang hampir membuatnya terkena serangan jantung dadakan—semuanya seakan tak mau hilang dari kepalanya. Hana menutup wajahnya dengan kedua tangan, mendesah pelan, "Aduh... kenapa sih harus begini?" Gumamnya lirih.

Dalam kesunyian kamarnya—kamar Satya—ini ia hanya bisa menatap langit-langit kamar sambil memeluk bantal.

Kejadian kemarin malam juga sekelebat menghantui pikirannya lagi. Padahal seharian ini ia sudah berusaha keras untuk mencoba menenangkan diri. Tapi apa daya, hatinya memang lemah.

Efek Satya memang dahsyat, pelukan hangat Satya kemarin malam bahkan mampu membuat Hana lupa tentang pengkhianatan Nara padanya.

Hana tersenyum kecut.

"Kenapa harus lo sih mas ?" Bisiknya getir. Lalu mendengus.

"Kayaknya gue memang harus buru-buru pindah dari sini.... Bahaya."

Malam itu Hana akhirnya memejamkan matanya. Tapi bukan untuk tidur, ia hanya sedang mempertimbangkan apakah keputusan yang diambilnya sudah tepat... keputusannya untuk pura-pura tidak mengetahui akan perasaannya sendiri pada Satya.

***

Kangen nggak? Kangen nggak?????? Siapa kangen akuuuuuuu...eh kangen SatHan ding hehehehhe

Pembukaan comeback pendek dulu nggak apa-apa kan ya. Sekalian perayaan Sehun balik wamil.

Oke deh, segini dulu. Kalau mau lanjut syaratnya masih sama kok. Cukup vote dan komen yang banyak.

Ayoo suap aku dengan komen komenmu itu ciwi-ciwinya mas Satya!! 🤌🏻🤌🏻🤌🏻😜

See you soon (tergantung syarat dan ketentuan berlaku aka kalo syaratnya terpenuhi pasti updatenya juga cepet) 🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️

With love, Aprilialalala.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Colleague, Brother or Lover?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang