Apa kalian juga merasa kalau akhir-akhir ini waktu terasa berlalu lebih cepat?
Jika iya berarti kalian sepemikiran dengan Satya.
Padahal rasanya seperti baru kemarin hari Senin, tapi ternyata tiba-tiba sudah mau weekend lagi aja.
Menurut artikel yang Satya baca, waktu terasa lebih cepat dikarenakan semakin berumur seseorang, hidupnya akan terasa sibuk dan terburu-buru. Makanya seolah-olah waktu terasa lebih singkat dan selalu merasa tidak memiliki banyak waktu.
Tapi selain itu ada pula beberapa orang yang beranggapan, apabila seseorang merasa waktu berlalu lebih cepat, itu berarti kita menjalani segala aktivitas di hidup kita dengan hati yang senang.
Engg, dua-duanya terdengar masuk akal.
Namun andaikata Satya disuruh memilih diantara dua pilihan diatas, manakah yang lebih menggambarkan dirinya, maka sepertinya ia lebih condong pada pilihan pertama.
Karena akhir-akhir ini ia memang sangat sibuk sih, sibuk sekali. Apalagi kalau bukan karena persiapan event buku yang sudah tinggal menghitung hari.
Satya sedikit nervous. Ehm, tidak. Lebih tepatnya bukan hanya ia saja, melainkan seluruh staf The One. Karena jujur ini termasuk event terbesar yang pernah ia garap selama bekerja di The One. Atau malahan event terbesar yang pernah di garap di sepanjang sejarah The One didirikan.
Budget yang kliennya berikan untuk event kali ini tidaklah sedikit. Semisal event ini sukses, maka The One akan mendapatkan untung yang tidak hanya lumayan, tapi sangat amat lumayan. Kalau kata Bene sih rezeki nomplok.
Selain itu, event kali ini juga bisa menjadi batu loncatan bagi The One untuk berkembang menjadi EO yang lebih besar lagi dan akan semakin banyak yang mengenalnya.
Mas Seno sudah memperkirakannya sejak awal, makanya ia berani mengambil resiko yang cukup besar untuk menghandle event ini. Karena keuntungan yang akan di dapat The One memang tidak main-main.
Satya menghela nafas sesaat setelah berhasil memarkirkan mobil di depan sebuah coffee shop milik seorang teman lamanya yang baru hari ini melakukan grand opening.
Dan saat ditolehnya mobil yang terparkir di sebelahnya itu, Satya sudah tidak kaget lagi melihat mobil yang begitu ia kenali ada di sini juga. Karena Aji, si pemilik coffee shop ini memang sebenarnya teman satu bandnya Dewa.
Satya yang awalnya sudah akan turun, kembali mengurungkan niatnya. Diubek-ubeknya laci dashboard untuk mengambil kotak P3K.
"Gue masih punya plester luka nggak, ya? Bisa gawat kalau sampe si Dewa lihat bibir gue. Dia kan otaknya agak-agak."
"Nah, kalau gini kan beres." Monolognya usai memasang plester luka pada bibirnya.
"Padahal gue udah rutin pakai salepnya, tapi kok belum sembuh-sembuh juga?" Gumamnya pelan sambil menutup kembali cermin mobil dihadapannya.
Ngomong-ngomong tentang salep, mengingatkan Satya pada Hana. Perempuan itu akhir-akhir ini begitu kentara berusaha mengindari nya.
Tebakannya sih pasti karena kejadian dimana Mas Seno yang mengira mereka tengah berciuman di ruang kerja sore itu.
Karena selain terlihat menghindarinya, perempuan itu juga terlihat membatasi interaksinya dengan Mas Seno.
Satya diam-diam terkekeh kecil.
Padahal tanpa Hana ketahui, sebenarnya Satya sudah meluruskan kesalahpahaman itu pada Seno.
Satya masih butuh bekerja di The One. Ia tidak ingin diberhentikan dari pekerjaannya begitu saja oleh Seno hanya karena gosip berbuat mesum di kantor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Colleague, Brother or Lover?
Chick-LitFrom colleague, became brother, and ended up being a boyfriend? Is it possible? Written in Bahasa
