Hana tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Dewa yang saat ini baru saja memasang sabuk pengaman. Laki - laki itu sedari tadi tidak dapat menyembunyikan senyuman bahagianya.
"Woahhh!" Tangan laki-laki itu tak henti-hentinya mengelus setiran mobil digenggamannya.
"Akhirnya setelah sekian lama gue bisa nyetir mobil lagi" lalu diliriknya Hana yang masih mengawasinya. Perempuan itu terlihat begitu skeptis. Dan agaknya berhasil mematahkan sedikit kebahagiaan Dewa.
Dewa mendengus, "Lo takut gue yang nyetir?"
Hana mengangguk. Jujur saja ia merasa takut kalau harus disetiri oleh Dewa yang notabene kakinya baru saja sembuh.
Takut takut kalau tiba-tiba terjadi sesuatu. Dewa kan sudah sebulanan lebih tidak nyetir mobil sendiri. Lalu baru hari ini ia akan menyetir mobil lagi. Tentu saja Hana skeptis padanya.
"Gue aja deh, Wa, yang nyetir. Gue bisa kok. "
Dewa menggeleng, "No way. Seorang Dewa masa disetirin cewek? Nggak, Hana. Gue udah nggak apa-apa kok, suwer!" Ujarnya mencoba meyakinkan Hana.
"Lo juga lihat sendiri gue udah bisa petakilan lagi kan? So, nggak usah takut. Kaki gue udah oke. Gue udah bisa ngedrum lagi. Nyetir doang mah, kecil." Dewa menjentikkan jarinya, lalu terkekeh.
"Cuma keseleo, retak, atau apalah itu nggak ada apa-apanya. Asal nggak demam aja sih. I'm fine."
Hana menghembuskan nafasnya. Lalu mendengus.
Iya sih.
Tapi..
"Nggak usah ngebut-ngebut. Kalau tiba-tiba kaki lo nyeri atau apa. Langsung bilang. Biar gue yang gantiin nyetir." Yang langsung dibalas kekehan dan sikap hormat oleh Dewa.
"Siap, komandan!"
"So, are you ready?" Tanya Dewa usai menstarter mobil Satya yang berhasil dipinjamnya.
"Yeah, I'm ready."
***
"Beef, bakso, sosis, udah?"
"Udah."
"Sayuran?"
"Udah."
"Persaosan sama bumbu?"
"Udah, Han, aman."
"Snack?"
"Udah pasti nggak akan lupa."
Hana terkekeh lalu kembali mengabsen list belanjaan yang dikirimkan tante eh—mama Risma.
Setelah sekian lama, akhirnya agenda barbequean yang sempat dibicarakan tante—mama Risma, di pesta pernikahan kala itu akhirnya terealisasikan juga.
Pernikahan papanya dan tante Risma memang sudah berjalan hampir setengah tahunan. Tapi Hana memang masih belum terbiasa memanggil mama barunya itu dengan panggilan mama. Bukan karena ia tidak mau. Hanya saja, Hana masih belum terbiasa.
Sudah lebih dari sepuluh tahun ia tidak pernah memanggil seseorang dengan gelar itu usai kepergian sang mama. Jadi bukankah wajar kalau Hana merasa asing dengan panggilan itu?
"—Titipan Papa juga udah. Yuk!"
Hana terkesiap saat Dewa mengambil alih untuk mendorong troli. Mengajaknya untuk segera membayar ke kasir.
"Oke."
Hana menatap punggung Dewa yang kini berjalan mendahuluinya.
Lalu tersenyum simpul.
Jika ia masih perlu untuk adaptasi, maka berbeda dengan Satya dan Dewa yang sepertinya mudah saja untuk menerima papanya untuk menjadi papa baru mereka. Padahal bisa dibilang Satya dan Dewa baru beberapa kali saja bertemu dan mengobrol dengan papanya. Namun mereka sama sekali tidak kesulitan untuk beradaptasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Colleague, Brother or Lover?
Chick-LitFrom colleague, became brother, and ended up being a boyfriend? Is it possible? Written in Bahasa
