Satya tidak bisa tidur. Bukannya mengantuk, matanya malah terbuka lebar menatap langit - langit yang gelap dengan berbantalkan kedua tangannya yang dilipat dibawah kepala.
Pikirannya tak henti memutar ulang kejadian yang terjadi di hari ini. Terlebih pada ide gilanya yang spontan ia katakan pada Hana siang tadi di mobil. Kalau Satya jadi Hana, ia juga pasti akan kabur.
Siapa yang tidak terkejut mendapatkan ajakan pacaran dari kakak tirinya sendiri. Ya, meskipun hanya pura-pura, tapi tetep saja hal itu cukup mengerikan untuk di dengar di siang bolong seperti tadi.
Oleh karenanya Satya sangat merasa bersalah saat mengetahui Hana tidak kunjung pulang ke apartemen sore tadi. Batinnya, Hana pasti sangat marah padanya. Dan berakhir membuatnya kelabakan mencari keberadaan perempuan itu ditengah hujan deras yang mengguyur kota Jakarta malam ini. Takut takut adik tirinya itu akan berbuat nekat. Namun apa yang didapatinya kemudian, membuatnya mentertawakan kebodohannya sendiri.
Satya mengusap wajahnya, menyembunyikan senyuman tipis yang entah sejak kapan selalu menghiasi wajahnya tiap kali memikirkan tingkah perempuan unik itu.
Tingkah Hana memang selalu diluar nalarnya. Ia pikir, usai kejadian siang tadi, Hana akan memaki-maki dirinya sambil berdiam diri di suatu tempat, atau bahkan sampai menangis nangis dibawah guyuran hujan. Persis seperti dalam scene drama Korea yang biasa ditonton perempuan itu. Namun nyatanya, perempuan itu berpikiran lebih realistis dari pikiran Satya sendiri.
Satya mendengus.
Siapa pula yang akan bertingkah bodoh seperti itu usai diajak pacaran oleh kakak tirinya sendiri? Tidak ada Satya. Dirinya saja yang khawatir berlebihan. Dan jadi tidak rasional.
Diliriknya tangan seseorang yang menjuntai dari sofa diatasnya. Ya, Satya memilih untuk tidur di lantai hanya beralaskan karpet bulu. Karena ia tidak mungkin mau tidur di sofa yang bahkan tidak muat menampung panjang tubuhnya dan hanya akan membuatnya pegal pegal di keesokan pagi. Setidaknya, saat tidur di lantai ia bisa meluruskan kakinya dengan bebas.
Diraihnya pelan tangan Hana yang dua kali lebih kecil dan ramping dibandingkan dengan tangannya. Diletakkan posisinya kembali pada sofa, memasukkan kembali pada sleeping bag yang digunakan perempuan itu sebagai selimut.
"Dasar pelor."
Satya tersenyum tipis. Padahal beberapa waktu yang lalu masih didengarnya perempuan itu mengomeli tokoh utama dalam drama yang ditontonnya. Namun kini perempuan itu sudah mengarungi alam mimpinya dengan keadaan laptop yang masih menyala dan earphone yang terpasang di sebelah telinganya. Mungkin perempuan itu sedang bermimpi menggantikan peran si tokoh utama perempuan dalam drama.
Satya bangkit duduk dan dengan perlahan melepas earphone dari telinga Hana. Bergerak sepelan mungkin, tak ingin membangunkan perempuan yang kini tidur dengan tertelungkup di atas sofa. Dan tak lupa menyingkirkan laptop juga ponsel Hana pada meja diseberang sofa.
"Sttt ..." ucapnya pelan saat dilihatnya perempuan itu sedikit terusik dalam tidurnya.
Bermalam di kantor hanya karena ingin menemani seseorang yang keras kepala tidak ingin pulang kerumah tidak pernah ada di dalam daftar wishlist hidupnya.
Hana. Perempuan yang ia kenal sejak beberapa tahun terakhir itu. Ia tidak pernah menyangka barang sedikit pun bahwa teman kantornya itu akan menjadi adik tirinya.
Lucu memang.
Dari banyaknya orang di dunia ini, bagaimana bisa mamanya menikah dengan ayah dari teman sekantornya sendiri.
Terkejut? Jelas. Jujur saja, Satya hampir ingin meminta sang mama untuk mempertimbangkan pernikahan tersebut usai pertemuan mereka pada makan siang kala itu. Namun setelah mendengar dan melihat bagaimana excitednya mama dan juga Dewa akan pernikahan tersebut, Satya memilih untuk tidak mengutarakan keluhannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Colleague, Brother or Lover?
Chick-LitFrom colleague, became brother, and ended up being a boyfriend? Is it possible? Written in Bahasa
