"Nggak ada yang ciuman. Apalagi pacaran. Nggak bener Lo pada."
Lalu Satya pikir anak-anak The One akan percaya begitu saja dengan kalimatnya itu, apalagi ditambah usai mengatakannya, laki-laki itu dengan segera menyusul Hana yang pergi ke luar kantor. Menghentikan langkah Hana dan menyeretnya ke dalam mobil.
Bene menjentikkan jarinya. Masih dengan mata yang mengamati gerak-gerik duo sejoli yang kini bersembunyi di dalam mobil itu.
"Kan? Lihat! Mereka itu emang kayaknya ada apa-apanya. Kalau emang nggak ada hubungan apa-apa, ngapain juga Satya sampe harus ngejar Hana sebegitunya, kan?" Yang dibalas anggukan setuju oleh hampir semua orang.
Seno yang sedari tadi menjadi pendengar dan menyimak perdebatan anak-anaknya itu akhirnya kini buka suara.
"Kalau memang mereka pacaran, ya udah lah, biarin aja. Toh, di sini nggak ada aturan sesama karyawan nggak boleh pacaran, kan?"
Dino membenarkan, "Menurut gue mereka lebih takut di ceng-cengin kalian aja sih. Kaya sekarang ini buktinya."
Oh man!
Krak! Krak! Kretek!
Suara patah hati empat orang yang merasa tersindir.
Bene, Arin, Clara dan Windy seketika menunduk dan mengalihkan pandangan, pura-pura tidak mendengarnya.
"Ah, gue mau minum, seret. Misi misi, kasih jalan dong." Sela Cakra akhirnya setelah berhasil menandaskan mie gorengnya. Laki-laki itu kemudian berlalu menuju pantry meninggalkan yang lainnya, yang masih terlihat kepo dengan apa yang mungkin sedang diperdebatkan dan apa yang mungkin sedang Hana dan Satya lakukan di parkiran.
Windy masih tidak dapat mengalihkan matanya dari pintu kaca yang langsung mengarah ke arah parkiran, tepat pada mobil Satya berada.
"Mereka nyangkal nggak pacaran. Tapi sekarang malah kaya lagi berantem kaya orang pacaran."
Seno terkekeh, "Udah - udah, biarin aja. Ntar juga bakal jujur sendiri kalau emang beneran pacaran." Seno mengendikkan bahunya.
"Mending lanjut nonton aja nggak sih?"
"Bener!"
"Nah!"
"Gue setuju sama mas Seno!"
"Cak, bawa camilan lagi dari pantry!" Teriak Bene pada Cakra yang masih berada di pantry.
"Iye!"
Setelahnya mereka memilih sibuk untuk melanjutkan kegiatan marathon dracin mereka yang sempat tertunda. Hingga dipertengahan menonton, suara Dino menyita perhatian mereka semua.
"Marko...dari tadi kok gue nggak lihat Marko."
"Anjir!"
"Heh?!"
"Si Komar!"
Panik. Semua orang seketika menyebar kesepenjuru kantor mencari keberadaan Marko.
Dan lagi-lagi acara marathon dracin mereka harus tertunda, dan berganti agenda menjadi misi mencari Marko, si bocah yang sedang patah hati itu. Semua orang berharap, semoga saja berondong Hana satu itu tidak sampai melakukan hal-hal nekat.
"Cari woi, cari! Ke lantai atas! Jangan sampe dia nekat loncat dari atas!"
***
"Jangan gila deh, mas Satya!" Ucap Hana sambil menatap Satya tidak percaya usai laki-laki itu mengutarakan hal paling gila yang pernah Hana dengar di sepanjang hidupnya.
"Kalau nggak gitu, Lo bakal diceng-cengin terus sama anak-anak."
Hana memutar bola matanya, "Yang ada malah makin diceng-cengin, Mas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Colleague, Brother or Lover?
Chick-LitFrom colleague, became brother, and ended up being a boyfriend? Is it possible? Written in Bahasa
