02. She and Amazing Performance

250 22 1
                                        

Gemuruh musik dan pertunjukkan yang terjadi di Garuda High School belum juga selesai walaupun jam sudah menunjukkan pukul 21.48 WIB. Di awali oleh acara Gelar Seni pagi tadi yang dilaksanakan sampai pukul 14.00 WIB dengan penutup tampilan dari anak Band serta diakhiri dengan Promnight yang akan ditutup dengan tampilan dari anak Dance. Chaerra Karinda yang telah menyandang status sebagai Ketua dari Ekskul Dance untuk satu semester ini masih sibuk berjalan ke sana ke mari, memeriksa, menghitung, dan memastikan seluruh persiapan sudah matang.

”Oke, temen-temen tolong dengerin,” intruksi gadis itu mengambil tempat di bagian depan ruangan dekat pintu, ”jadi kita ke belakang panggung urut ya, gue tampil solo dance dulu gak ada semenit, terus duonya Yessa sama Raya langsung ambil alih dua menitan, nanti baru grup performance maju buat nutup.”

Bisa dibilang, ini pertama kalinya grup dance baru dari kalangan kelas X ikut tampil, membuat Chaerra sedikit meragu. Terutama mood gadis itu sudah tidak baik sejak semalam. Pertunjukkan dance siang pagi yang dilakukan di pertengahan acara Gelar Seni dapat cukup meriah karena sebagian besar anak kelas XII masih ikut tampil mengambil alih, tapi sekarang benar-benar harus Chaerra yang mengarahkan.

”Santai aja kalik, Chaer,” celetuk seseorang di belakang Chaerra, ”orang udah biasa tampil juga.”

Rambut di bawah bahu Chaerra yang semula berwarna hitam diubah dengan warna merah luntur. Pakaian gadis itu serba hitam, dengan model atasan crop tanktop berlengan panjang sebelah serta hot pants hitam. Kaki jenjang dengan warna kulit pucat gadis itu dihiasi fishnet stocking dan flat boots hitam.

Chaerra menoleh tak minat, tersenyum palsu. ”Iya, makasih semangatnya sayang.”

Mata lebar Raya berubah sinis. ”Anjir, jijik banget lo.”

Suara tawa Chaerra terdengar cukup keras puas. Tapi begitu matanya menangkap sosok wanita yang duduk di tempat khusus tamu kehormatan ketika akan menuju belakang panggung, eskpresi gadis itu jadi menurun kambali. Orang yang ia temui semalam dan jadi salah satu alasan kenapa moodnya benar-benar buruk, duduk di sana dengan pose dan dandanan elegant.

”Gue baru tau keluarganya Jeiden donatur GHS,” celetuk seseorang dari belakang, ”pantes Hessa seneng banget temenan sama tuh berandal.”

Chaerra ikut tertawa merendahkan, menoleh pada Yessa seolah berada di kubu yang sama. ”Jeiden berani berandal soalnya masih ditimang ibunya.”

Ketiga gadis yang berjalan di bagian paling depan itu terkekeh bersamaan. Masuk ke arah yang telah ditunjukkan panitia untuk menyiapkan penampilan sebelum naik ke atas panggung. Bisa dibilang, ini penampilan solo perdana Chaerra di panggung sekolah dan akan jadi pertama kalinya bagi kelas gerombolan siswa XI-IPA5 yang sudah berdiri di bagian paling depan memberikan sorakan padanya.

Lagu Instruction dari Jax Jones segera terdengar menggema memenuhi lapangan utama, menandakan jika Chaerra harus segera naik ke atas panggung. Gadis dengan tampilan jenjang itu melemparkan senyum lebar, berjalan dengan penuh percaya diri seolah seluruh penonton di hadapannya hilang dan panggung hanya miliknya seorang.

”WOOOOO!”

Begitu Chaerra mulai menggerakkan kepala dan menyingkap rambutnya, suara jeritan terdengar begitu keras. Beberapa alumni ekskul dance segera mengambil tempat paling depan, begitu pula gadis-gadis dari kelasnya yang berteriak amat sangat heboh. Senyum Chaerra semakin mengembang, menatap ke arah Chacha, Arina, Senya, Rendra, Haikal, Soni, dan Xafier yang sudah bersorak tepat di bawah panggung.

Keramaian mulai berhenti tepat setelah Chaerra menggerakkan tubuhnya, mengikuti instrument musik seolah yang gadis itu lakukan hanya sekedar free dance. Begitu santai, ringan, tapi menakjubkan. Seluruh mata fokus pada sosok dengan sorot terang cahaya dari lampu panggung, mengikuti gerak tubuh dan rambut Chaerra yang seolah berirama.

Hi... BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang