Jeiden
Chaer?
Chaerra sudah tak berminat sekali begitu pesan itu masuk pagi-pagi buta pada notifikasi ponselnya. Ini hari pertama liburan semester sekolah dan dia tidak ingin diganggu siapa pun. Tapi gadis itu jadi menyadari satu hal, ia dan Jeiden ternyata memang sudah sedekat itu.
Bukan dekat dalam artian keduanya sering bertukar kabar, atau kedekatan yang benar-benar dekat. Hanya saja, selama hampir enam bulan semester pertama ini, mereka sudah sering keluar bersama. Terutama ketika William dan Senya, dua teman dari kelas mereka jadian. Frekuensi keduanya bertemu jadi memang sesering itu. Chaerra yang biasanya menemani Senya, dan Jeiden yang biasanya mengekor pada William ketika bosan. Entah kenapa mereka jadi sering keluar terutama di hari libur, baik itu hanya sekedar jalan-jalan keluar atau naik mobil menikmati kemacetan.
Memang gila.
Tapi jika dipikir itu berlebihan, tidak juga. Chaerra juga sering diantar Nathan jika pemuda dari kelasnya itu naik mobil. Sering minta antar jemput Yuda terutama jika ada keperluan OSIS. Sering bersama Xafier juga. Jadi tidak ada yang aneh dari kedekatannya dengan Jeiden, Chaerra rasa semua anggota kelas XI-IPA5 memang sedekat itu.
”Pagi.”
Chaerra menyapa begitu menuruni tangga, melewati sofa tempat sang ayah biasanya membaca koran atau minum kopi tanpa melirik. Gadis itu masih dengan kaos oblong kebesaran serta celana kain setengah paha berjalan fokus menuju dapur, mengambil air dingin untuk menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering. Chaerra sempat melirik pada sang ibu yang tengah menyiapkan makanan, dengan tatanan piring yang terlihat lebih daripada biasanya.
”Kok ada lima? Temennya Chaerri ada yang nginep, Ma?”
Wanita setengah baya di hadapan Chaerra menoleh, menunjukkan wajah manis khas Jawa Timur yang mengerutkan alis heran. Mata lebar yang serupa dengan bentuk mata Chaerra itu jadi melirik pada putri pertamanya yang masih menyandarkan tubuh pada kulkas sebelum akhirnya melirik ke arah lain.
Chaerra menolehkan kepala perlahan dengan wajah bingung, mengikuti arah pandang ibunya. Gadis dengan wajah bangun tidur dan rambut berwarna kemerahan melebarkan mata begitu retinanya jatuh ke arah sofa di sisi tempat makan. Bibir bawah Chaerra ikut terbuka kecil, dengan tangan yang seolah siap menjatuhkan gelas di genggamannya.
”Pagi, Chaerra.” Jeiden menyapa, tersenyum tipis tanpa dosa. ”Gimana tidurnya? Nyenyak?”
”Anj-AW!”
Belum sepenuhnya umpatan keluar dari bibir Chaerra, lengan atasnya sudah lebih dulu ditampar kencang oleh sang ibu. Gadis itu menoleh, ingin memprotes yang berikutnya jadi mengatupkan bibir sempurna karena mendapat mata sang ibu sudah melotot menegur. Berikutnya, Chaerra jadi melirik tajam ke arah Jeiden yang sudah terbahak puas, menemani sang ayah tengah bermain catur.
”Nanti sebelum keluar beli belanja bulanan dulu ya,” ujar sang ibu tiba-tiba, mengalihkan fokus Chaerra sepenuhnya, ”Mama udah minta tolong ke Jeiden buat anterin, katanya dia mau.“
”Siapa yang mau keluar?” tanya Chaerra aneh. ”Aku gak mau keluar.”
”Lho? Kata Jeiden-”
”Mau keluar Tante, Chaerra aja baru bangun tidur makannya lupa ingatan.” Jeiden menyela cepat. ”Udah janjian sama sekelas juga.”
”Wah, orang gila,” kagum Chaerra menunjuk Jeiden sembari menggeleng kecil, gadis itu hampir melemparkan gelas di tangannya kalau saja tidak ingat sang ibu masih meliriknya tajam, ”gak usah kasih sarapan, Ma, gak usah,” heboh Chaerra menata ulang piring yang akan ditaruh di tempat makan, menyingkirkan satu piring di bagian paling atas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi... Boyfriend
FanfictionJeiden & Chaerra from Win Crown Lebih baik baca Win Crown dulu, tapi kalau mau langsung baca ini juga gak papa :) Rated: 17+ . . . . . Bagaimana jika gadis yang mendapatkan julukan Singa IPA bertemu dengan pemuda dengan julukan Idol Boy School di da...
