Sudah dua minggu berlalu sejak Jeiden memutuskan untuk tak bicara sama sekali dengan Chaerra. Gadis itu jelas menunjukkan getaran tidak nyaman setiap kali ada dirinya, membuat mereka tak lagi bertegur sapa. Jeiden juga tak mencoba mendekat, takut semakin membuat Chaerra canggung dan kaku. Sebenarnya bisa saja pemuda itu memancing Chaerra dalam kesempatan apapun, tapi seolah memang tak berniat, Jeiden tak melakukannya.
Menjauhi gadis itu adalah pilihan paling tepat untuk menghilangkan perasaan bodoh tidak jelas yang membuat Jeiden justru akan semakin jauh dengan Chaerra.
"Lo mau mampir club gak?"
Selama itu pula, Jeiden tak merasakan perasaan berarti walau hubungannya dan Chaerra sudah begitu renggang. Ia tetap menjalani keseharian di kelas seperti biasa, kadang menganggu Chacha dan Arina, melakukan ekskul, berpartisipasi pada balapan ilegal jika ada, datang ke club, dan berbagai kegiatan lain yang memang sudah biasa ia jalani.
Hanya ada satu hal yang berbeda, pemuda itu jadi tak terlihat ke sana ke mari dengan gadis manapun. Padahal sebelumnya, Jeiden masih aktif menawarkan tumpangan, mengajak jalan setiap weekend, dan hal-hal lain untuk membunuh bosan dengan gadis yang ia kenal. Bahkan kedekatannya dengan Hana, salah satu gadis cantik dari XI-IPS2, juga hanya sekedar bertutur sama, melempar senyum satu sama lain, dan kegiatan-kegiatan umum tak berarti.
"Udah malem banget." Jeiden melirik pada jam di tangannya. "Hampir pagi malah."
Nathan ikut menggerakkan kepala merunduk pada jam hitam di pergelangan tangan kirinya. "Gak papa lah, besok juga minggu."
"Ya udah deh, gas."
"Gak usah minum tapi!" Nathan memperingati lebih dulu. "Dateng doang, duduk, habis itu pulang."
Jeiden bergumam tak terlalu peduli, mengenakan helmnya tanpa mempedulikan ucapan pemuda di sisinya lebih lanjut. Mereka baru saja kalah taruhan dalam balapan yang dilakukan dengan beberapa SMA dari Jakarta Utara. Bagi Jeiden sebenernya bukan masalah, lebih bermasalah lagi karena Hessa harus jatuh dari motor membuat tugasnya dalam menyiapkan kompetensi basket minggu depan bertambah.
Paling tidak ia harus dapat cadangan yang bisa menggantikan ruang kosong pemuda itu dalam latihan.
Mereka sampai sekitar pukul 23.48 WIB, di mana keadaan club mungkin sedang berada di puncak-puncaknya. Apalagi setahu Jeiden, malam ini ada tampilan khusus dari salah satu band ternama. Jadi tidak heran begitu mendapati parkiran Club masih begitu ramai, dan keadaan di dalam juga tak kalah sesak.
"Lo mau gabung kelas IPS1?"
Suara Jeiden agak terdengar keras, bertanya lebih dulu memastikan. Nathan yang sudah sibuk menoleh ke kanan kiri memastikan apakah ada orang yang ia kenal atau tidak pada akhirnya mengangguk. Gerombolan XI-IPS1 memang rata-rata berasal dari kelas yang sama dengan Jeiden di kelas X. Ada Bisma, Bintang, Haris, dan beberapa anak lain yang memang sudah dekat dengan Jeiden dan William.
"Jei, Chaerra."
Mata Jeiden yang semula fokus menuju salah satu sudut ruangan di mana anak-anak cowok dari XI-IPS1 tampak tengah bermain kartu jadi menoleh pada Nathan. Pemuda itu sedikit mengernyit, merasa ia salah dengar dan hanya berhalusinasi mendengar nama itu karena memang sosok dengan nama tersebut akhir-akhir ini selalu memenuhi kepalanya. Tapi begitu arah pandang Jeiden mengikuti arah pandang Nathan, retinanya dapat menangkap dengan jelas kulit putih Chaerra yang lebih mencolok dari kebanyakan manusia tengah berdiri di tengah-tengah area dance floor, bersama beberapa orang yang juga Jeiden kenal.
"Dia beneran deket ya sama anak IPS2," ujar Nathan berkomentar santai sebelum berjalan melewati tubuh Jeiden.
Bukan hal yang aneh melihat Chaerra ada di tempat seperti ini, sama sekali tidak aneh. Terutama mengingat teman gadis itu dari berbagai kalangan. Jeiden bahkan sering mendapati tubuh Chaerra setiap weekend ada di sini dengan gerombolan orang yang berbeda, kadang dari kalangan kakak kelas, kadang juga dari anggota dance, kadang bersama adik kelas, atau bahkan Jeiden juga pernah melihat gadis itu datang dengan gerombolan dari sekolah lain.
Tapi semalam ini?
Jeiden masih belum melangkahkan tubuhnya, justru semakin mengerutkan dahi dengan tatapan menajam pada sosok gadis yang seolah mendapat sorot lampu club daripada manusia lainnya. Tubuh Chaerra menari dengan santai dengan rambut hitamnya yang bergerak indah, membuat beberapa orang dari sisi gadis itu bersorak atas liukan tubuh gadis itu dengan heboh. Wajah bulat itu merekah, makin heboh bersama teman-teman perempuannya dari kelas IPS2 yang juga banyak bergabung di ekskul dance. Deretan gigi dan gusi Chaerra terlihat pada senyum lepasnya, membuat wajah bulat gadis itu semakin lucu.
"Jei!"
Suara teriakan Nathan membuat mata Jeiden teralihkan. Pemuda itu segera membalikkan tubuh walaupun dengan mata yang kembali melirik untuk beberapa saat sebelum berlalu. Pemuda itu tanpa sadar jadi mengumpat sendiri, entah kenapa berubah kesal hanya karena melihat pakaian yang Chaerra kenakan.
Hanya dengan sebuah tanktop putih yang dilapisi jaket kain berwarna kehijauan dan rok setengah paha dengan motif kotak-kotak berwarna senada. Gadis itu pikir ia tinggal di negara barat atau bagaimana?
"Lain kali jangan pakai rok, dance lo gak bebas."
Suara itu terdengar dari sisi lain, membuat Chaerra menoleh dengan senyum meringis. "Lo ngomong cuman makan-makan anjir! Ngapain sampai sini?"
Suara Chaerra berteriak cukup kencang, berusaha mengimbangi suara musik yang masih diputar cukup keras. Raya, Yunka, Sherly, Mia, dan Ayu sedikit terkekeh pada wajah Chaerra yang berubah cukup kesal. Sebelum berangkat tadi Chaerra hanya diberitahu jika mereka pergi makan-makan untuk merayakan kemenangan Chaerra, Yunka, dan Raya di satu satu ajang dance umum. Tapi setelah pulang dari restoran, mobil yang dikendarai Sherly justru berbelok ke sini.
"Gak papa lah, mumpung besok minggu." Sherly menyahut. "Mau minum gak, Chaer?"
"Enggak," jawab Chaerra cepat, menggerakkan tubuhnya lebih santai mengikuti irama, "gak tahan alkohol gue."
"Sekali-kali coba lah." Mia membujuk. "Lo jarang banget minum sama kita."
"Udah malem banget mending pulang deh." Chaerra menyingkap rambutnya yang terasa gerah. "Gak izin gue, bisa kena gibeng."
Suara kekehan kembali terdengar dengan langkah kaki keenam gadis itu yang mulai keluar dari lingkaran dance floor. Chaerra lebih dulu menyeruak walaupun dengan sedikit kesusahan, beberapa kali badannya kena senggol membuat gadis itu jadi berdecak dengan umpatan kesal. Tangannya menarik Ayu dan Mina, mengapit dua gadis itu supaya tak terpisah.
"Chaer, ayok minum bentar." Mia masih berusaha membujuk dengan bisikan kecil. "Satu gelas doang."
"Gue yang bayar deh." Ayu ikut berbisik.
Sherly di belakang ikut mengangguk. "Tidur rumah gue deh, Chaer, biar gak kena gibeng."
Suara tawa pelan Chaerra kembali mengalun dengan gelengan kepala. Namun tiga detik berikutnya ekpresi gadis itu jadi berubah menurun, sudut matanya yang tak sengaja menangkap seseorang membuat kepalanya bergerak seutuhnya. Wajah riang gadis itu mengeras, dengan tatapan naik menajam.
Jeiden duduk dengan tatapan yang menyorot Chaerra tak santai. Garis rahang pemuda itu jelas lebih tegas daripada biasanya dengan tatapan tak suka. Tangannya yang memegangi gelas menunjukkan urat-urat yang mungkin bisa memecahkan benda di cengkramannya hanya dengan sekali tekanan.
"Pulang!"
Suara Jeiden mungkin tak bisa sampai ke gendang telinga Chaerra. Tapi retina gadis itu dapat membaca gerak bibir pemuda itu yang terlihat seperti perintah mutlak. Rasa kesal Chaerra pada Jeiden yang semula sudah menggunung semakin memenuhi dada.
Apa peduli pemuda itu di saat mereka bahkan sudah bisa dikatakan tidak berteman lagi selama dua minggu ini?
Chaerra mendengus, tersenyum miring juga remeh. "Ayok mampir minum dulu kalau gitu," kata gadis itu menoleh pada kelima temannya yang langsung merekah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi... Boyfriend
Fiksi PenggemarJeiden & Chaerra from Win Crown Lebih baik baca Win Crown dulu, tapi kalau mau langsung baca ini juga gak papa :) Rated: 17+ . . . . . Bagaimana jika gadis yang mendapatkan julukan Singa IPA bertemu dengan pemuda dengan julukan Idol Boy School di da...
