”Jeiden alfa lagi?”
Senya yang baru saja mencatat absen siang ini mendongak dengan gumaman pelan. ”Kata Pak Teo emang gak ada surat izinnya sih.“
”Udah tiga hari ini kan?“ Chaerra kembali bertanya belum puas, masih menolehkan kepalan sepenuhnya.
”Liburan kalik dia,” jawab Senya asal, ”biarin lah, anak donatur mau bolos setahun juga bisa langsung naik tingkat. Gua tanya William juga katanya gak usah diurusin, pada gak tau rumahnya di mana juga.”
Ditambah, sudah tiga hari ini juga cowok itu tak membalas pesannya. Sejak Senin lalu bahkan, di hari pertama Jeiden tak sekolah padahal Chaerra sudah mengalah untuk menghubungi pemuda itu lebih dulu, menanyakan mengenai alasan dan keadaannya. Tapi tak kunjung mendapatkan balasan sama sekali, seolah Jeiden memang sengaja membalas perlakuannya selama ini yang terkadang mengabaikan pesan pemuda itu.
”William temen model apa sampai gak tau rumahnya tuh orang?” cibir Chaerra pelan bangkit dari bangkunya.
Tubuh jenjang gadis itu berlalu menuju bangku yang lain. Dengan yakin ia berjalan ke sisi lain, menarik bangku paling depan yang sejajar dengan bangku guru supaya dapat menoleh ke belakang. Lia yang tengah membaca buku jadi mendongak sekilas, menaikkan kedua alisnya bertanya bingung.
”Gua cuman tanya ya, gak maksud gimana-”
”To the point,” selak Lia lebih dulu, menutup kupingnya sedikit pengang akibat suara Chacha, Arina, Soni, Hadi, Rendra, dan Haikal di belakang semakin keras dengan lagu dari spraker di putar kencang-kencang, ”Mintain yang belakang diem dulu kalau lo mau ngomong panjang lebar.”
”Lo sebagai Ketua Kelas gak ada inisiatif ngajakin yang lain jenguk Jeiden gitu?”
”Emang sakit?” tanya Lia aneh, berikutnya berbalik ke belakang di mana ada Hessa dan Nathan yang sudah menarik bangku Hadi untuk ia kenakan tengah sibuk sendiri entah sedang apa. ”Lo berdua gak ada niatan jengukin Jeiden?”
Nathan mendongak dari ponselnya dengan kerutan dahi. ”Emang sakit?” tanyanya heran menoleh pada Hessa.
”Enggak,” jawab Hessa santai, ”izinnya di Basket sih mau healing. Orang healing ngapain dijengukin? William juga santai aja, ayem temtrem gitu.”
”Tapi kan dia udah gak masuk tiga hari,” protes Chaerra jadi sedikit tak santai, ”gak mungkin juga dia healing.”
Hessa jadi berdecak aneh. ”Ya kalau sehari doang mah gak cukup, Chaer. Jeiden healingnya tuh minin seminggu. Lagian kenapa gak mungkin? Orang dia anaknya konglomerat, mau healing ke New York, muter Paris, mampir Jepang juga bisa.”
”Tap-”
”Emang lo tau rumahnya?” tanya Hessa lebih dulu yang segera mendapatkan gelengan Chaerra. ”Sekelas juga gak ada yang tau, anak IPS1 juga gak ada yang tau.”
”Atau kalau lo khawatir banget dan pengen lihat dia di rumahnya, bisa cek identitas siswa di Ruang Data dulu biar tau alamatnya,” kata Lia menengahi, ”ya tapi lo tau sendiri kan gak semua orang bisa masuk Ruang Data.”
”Nat-”
”Iya, entar,” jawab Nathan lebih dulu pada permintaan gadis itu, ”entar kalau ada waktu luang.”
Hessa di sisi pemuda itu jadi terkikik, sedangkan Chaerra di depan hanya dapat berdecak malas. Lia hanya menarik kedua sudut bibirnya, bingung sendiri bagaimama harus merespons Chaerra. Gadis itu sudah kembali beranjak, menyentak kursi Chacha kesal sendiri membuat tiga orang di deret itu terkejut sendiri.
”Dia lagi PMS ya?” bisik Hessa mendakat ke belakang kuping Lia. ”Kenapa sensi banget coba?”
”Ya lo kalau tiba-tiba Lia ilang tiga hari juga udah lebih gila-”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi... Boyfriend
FanfictionJeiden & Chaerra from Win Crown Lebih baik baca Win Crown dulu, tapi kalau mau langsung baca ini juga gak papa :) Rated: 17+ . . . . . Bagaimana jika gadis yang mendapatkan julukan Singa IPA bertemu dengan pemuda dengan julukan Idol Boy School di da...
